Mohon tunggu...
Monica Niken Wulandari
Monica Niken Wulandari Mohon Tunggu... PNS Polri, Musisi, Pengajar, Suka Traveling, Ibu dari Do dan Re, Suka sesuatu yang baru

Menulis bebas apa yang ada di pikiran saya.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Tips Melawan Positif Covid-19

10 Juni 2021   23:39 Diperbarui: 10 Juni 2021   23:53 221 9 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tips Melawan Positif Covid-19
Dokumentasi Pribadi

Tahun Lalu tepatnya Bulan Juli, saya dan suami positif Covid dari hasil swab PCR dan dirawat di sebuah RS. Bingung? sudah tentu, cemas? iya banget, karena membayangkan anak-anak yang masih kelas 2 SD dan TK harus dirumah dengan asisten yang masih berusia 19 tahun. Rasa-rasanya mereka menangis bertiga waktu saya tinggal. Ketika masuk RS, keluhan saya sudah hilang, karena untuk mencegah penularan, saya dan suami menurut saja. 

11 Hari di RS rasanya sangat membosankan. Tapi saya harus semangat untuk anak-anak saya. Mendengar ada teman yang sampai 25 hari di RS belum negatif, saya tambah panik, segera saya berdoa dan memohon supaya saya kuat menjalani karantina ini. Setiap Swab, hidung saya berdarah dan saya muntah-muntah. Tentu ini membuat saya stress. Saya berusaha menghibur diri sendiri. Makan enak, Go Food hampir setiap hari, bahkan membeli peralatan masak sendiri. Memasak nasi hitam, karena sudah terbiasa makan nasi hitam, membuat teh hangat atau susu sendiri dan lauk sederhana, sosis, nuget dan kornet. 

Saya menyibukkan diri dengan hal yang saya senangi, mendengarkan Musik, main tik tok, main game di laptop dan olahraga ringan. Sangat penting untuk kita mengelola stress. Setiap kali video call anak-anak, pasti mereka menangis, saya jadi ikut sedih, jadi saya batasi. Minum vitamin yang diberikan dokter sangatlah penting untuk meningkatkan imun. Emosi yang tidak menentu juga harus kita perhatikan. Pikirkan hal-hal yang membuat bahagia. nonton film yang lucu atau mambaca cerita humor lumayan membuat kita jadi tertawa. 

Hal rutin yang saya lakukan adalah: bersih-bersih seluruh ruangan. sampai sofa pun saya bersihkan. Petugas kebersihan saya larang masuk karena sudah saya bersihkan sendiri sampai lorong di luar kamar. Saya sapu dan Pel setelah itu saya semprot pakai desinfektan. Setiap kali dokter, suster atau petugas pembawa makanan masuk, sellalu saya semprot desinfektan setelahnya. Setelah diperiksapun saya mandi. karena pikir saya, kalau alat yang digunakan untuk memeriksa saya sudah dipakai pasien sebelah yang positif juga, akan menambah lama jadwal menginap di RS. Dokter atau perawat memakai APD lebih aman, ketika memeriksa sebelah dan memeriksa saya, rasanya kuatir juga kalau-kalau ternyata saya tertular lagi padahal seharusnya sudah negatif. 

Untuk menekan penyakit hati, jangan baca WA group yang membahas tentang kita. Biarkan orang beropini sesukanya. Kita hidup karena usaha kita sendiri dengan ijin Allah Yang Maha Punya segalanya. Ketika tahun lalu saya positif, saya merasakan bahwa saya dikucilkan, walaupun tidak semua. Covid masih menjadi momok yang menghebohkan waktu itu. Seolah-olah saya sakit kusta atau sakit menular lainnya. Tetapi saya sadar diri saja. memang kita berpotensi menularkan jadi "jangan baper" istilah anak muda sekarang. Sungguh suasana hati ini pengaruhnya besar terhadap kejiawaan saya saat itu. Untung saya memang cuek orangnya. Saya ingin segera sembuh, berkumpul dengan anak-anak saya.

Saran saya untuk anda yang belum pernah covid: 

1. Pasien Covid bukan musuh jadi tidak perlu dijauhi terlalu jauh. cukup jarak yang ditentukan. 

2. Bantu pasien covid memenuhi kebutuhannya kaerna mereka tidak bisa kemana-mana.

3. Hibur, dukung dan semangati pasien covid, karena ini membuat mereka merasa tidak sendiri. 

4. Perhatikan keluarga pasien yang di rumah, barangkali membutuhkan bantuan. 

5. Tidak perlu bergunjing dan mempermasalahkan kena covid dari mana, karena covid ini sangat kecil. Kalau kelihatan virusnya juga pasti kita menghidar,kalau saya yang melihat bentuk virusnya, sudah saya gebukin dari dulu. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x