Mohon tunggu...
Musa Hasyim
Musa Hasyim Mohon Tunggu... Guru - M Musa Hasyim

Guru PPKn yang suka baca novel kritik sosial dan buku pengembangan diri. Sering menyukai sesuatu secara random.

Selanjutnya

Tutup

Trip Pilihan

Integrasi Moda Transportasi KAI Commuter yang Memanjakan Para Anker

3 September 2023   15:52 Diperbarui: 3 September 2023   15:57 319
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Suasana senja atau jam pulang kantor di Stasiun UI, sumber: dokumentasi pribadi

Sebagai salah satu anggota Anker, saya selalu memilih moda transportasi KAI Commuter jika akan pergi mengelilingi Jabodetabek. Anker bukanlah tempat yang menyeramkan seperti namanya karena berbau hal gaib atau mistis, Anker di sini merupakan sebutan populer untuk Anak Kereta atau mereka yang suka mengandalkan moda transportasi KAI Commuter untuk keperluan mobilitas sehari-hari. Semenjak kuliah sarjana, magister, sampai bekerja, KAI Commuter masih menjadi andalan saya dalam setiap perjalanan.

Saling Sambung-Menyambung dengan KAI Commuter Jabodetabek

Fasilitas, kemudahan, keamanan, dan kenyamanan adalah alasan terbesar saya kenapa saya selalu memilih moda transportasi KAI Commuter. Selain harga tiketnya yang murah, saya juga bisa sekalian wisata kuliner di sekitaran peron stasiun. Dan yang tak kalah pentingnya adalah saya bisa saling sambung-menyambung antar KRL dengan moda transportasi lainnya karena aneka moda transportasi publik yang memang saling berdekatan di Jabodetabek.

Saya terbiasa naik KRL dari Stasiun Universitas Indonesia, tempat tinggal saya dulu, lalu dilanjutkan naik Trans Jakarta menuju ke sebuah kampus negeri di Salemba untuk menemui dosen saya. 

Jika ada keperluan ke luar kota, saya juga sering mengandalkan KRL dari Universitas Indonesia lalu turun di Stasiun Sudirman, dilanjutkan berjalan kaki sebentar ke stasiun bawah tanah MRT Dukuh Atas menuju Stasiun Lebak Bulus Grab. Banyak bus luar kota di dekat Stasiun MRT Lebak Bulus Grab.

Stasiun MRT Dukuh Atas, sumber: dokumentasi pribadi
Stasiun MRT Dukuh Atas, sumber: dokumentasi pribadi

Begitu pula jika saya hendak ke luar pulau, saya selalu mengandalkan KRL berlanjut dengan kereta bandara dari Stasiun Manggarai menuju Bandara Soekarno Hatta Cengkareng. Saya melihat integrasi moda transportasi KAI Commuter di Jabodetabek sudah cukup baik. Jadwalnya selalu tepat dan cepat sampai ke tempat tujuan. 

Saya turun dari stasiun bandara Soetta menuju terminal keberangkatan, sumber: dokumentasi pribadi
Saya turun dari stasiun bandara Soetta menuju terminal keberangkatan, sumber: dokumentasi pribadi

Tak hanya moda transportasi darat dan udara saja yang saling sambung-menyambung, saya bisa transit dari KRL ke bus Trans Jakarta rute Kota-Muara Angke untuk kemudian naik kapal laut dari Pelabuhan Muara Angke menuju destinasi favorit masyarakat Jabodetabek di Kepulauan Seribu.

Sampai kemudian saya memutuskan berpindah tempat tinggal dan tempat kerja dari kota metropolitan sekitaran Jabodetabek ke kota pinggiran di Sleman Yogyakarta dan Solo Jawa Tengah. Jauh di lubuk hati, saya berat meninggalkan kemudahan akses transportasi di Jabodetabek, namun keputusan saya sudah bulat dengan berbagai pertimbangan matang dan juga saran dari keluarga supaya lebih dekat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun