Travel

Menyusuri Balkan dan Sekitarnya, Catatan Perjalanan 7

14 September 2018   04:11 Diperbarui: 14 September 2018   04:41 236 1 0

Menyusuri Balkan dan sekitarnya, Catatan perjalanan.

Bagian 7

Kemegahan dipadu keindahan, menjadikan Legacy panjang

Langkah Matt tenang namun lebar, kami mengikutinya. Matt, suami Melati orang Slovenia itu bertinggi 1M lebih 100 Cm, alias 2M. Ngomong dengan Matt, Saya harus sedikit mendongak. Seperti berhadapan dengan Hulk, tapi versi yang tampan.

Menyusuri kawasan terminal Yacht dibawah benteng. Exiting melihat ratusan Yach Yach berwarna putih terang, berderet diparkir di pinggiran Dermaga dan mengapung di kolam. Ada sebagian berseliweran dari dan ke laut bebas membuat riak riak air, melewati gerbang laut bernavigasi menara merah. Kendaraan laut orang orang berada itu, bersih, cantik, mewah dan kelihatan mahalnya.

Dipadu, bangunan bangunan yang cantik berseni, kawasan Stradun ini benar benar menjadi  destinasi wisata andalan Kroasia. Saat ini banyak kawasan Eropa Timur dan Eropa Barat yang memang mengandalkan pemasukan pendapatan negara dari Wisata , bahkan ada yang sampai menangguk sekitar 70% dari total pendapatan Negara. Seperti Spanyol, Belanda, Prancis, Italy, Kroasia, Slovenia, Hungaria, Romania dsb. Sehingga mereka berlomba lomba memperindah kawasan wisata nya.....at all cost.

Contoh negeri Belanda, dengan penduduknya hanya kisaran 17 juta orang, turis asing yang datang setiap tahun, lebih dari 30 juta orang. Just Imagine potensi sektor wisata ini. Indonesia baru kedatangan turis asing kisaran 10 jutaan setiap tahunnya. Peluang turisme Indonesia very gigantic.

Bagi banyak orang, berwisata bukan lagi menjadi kegiatan mewah, namun sudah menjadi kebutuhan untuk katarsis jiwa. Untuk Indonesia, saya yakin akan dilakukan pembenahan total di sektor Pariwisata, dalam rangka menjadikannya sebagai andalan penangguk Devisa masa datang.

Kami berjalan sampai ujung terminal Yacht. Di depan batuan pemecah gelombang, banyak orang bermandi di laut yang sangat jernih. Rasanya sebenarnya pingin meloncat juga ke laut jernih Adriatik itu, untuk meredam terpaan udara menyengat, 38 derajat Celcius Kroasia ini.

Kami putar balik, kembali menyusur dermaga, menuju gerbang masuk pendakian Benteng. Setelah membayar tiket dengan Euro, kami memulai pendakian dan penyusuran.

Diatas benteng setinggi lebih dari 25 meter, segera kembali terbukti sebutan Dubrovnik sebagai mutiara Adriatik. Sebelah kanan kami adalah teluk melengkung. Seolah lidah Adriatik yang menjilat ke dalam kota. Laut biru luas seolah tak berbatas, hanya Cakrawala. Lautan laksana hamparan karpet Turki halus berwarna biru keputihan sangat raksasa, meluruhkan jiwa.

Gugusan pulau pulau, teronggok seperti kumpulan raksasa yang sedang bercengkerama di lautan..... apakah penggambarannya berlebihan?......kalau tidak percaya coba tanya pak Kus, pak Dirman, Denis dan bu Niki, pasti tidak berlebihan ....karena memang betul betul elok , dan menenggelamkan perasaan.

Sebelah kiri kami, adalah merahnya merah atap atap rumah dan bangunan megah Dubrovnik kuno. Yang disana sini, dibelah jalanan batuan kapur kawasan Stradun. Sekali lagi antik dan syantik dan apik.

Rasa gerah dan capai itu seolah sirna. Menyusuri benteng yang berbelok sambil mendengarkan penjelasan Matt dan jepret sana jepret sini, benar benar membuat kami seperti turis sungguhan ......penikmat keindahan dan pemerhati sejarah.

Saya perhatikan, ada 3 menara pengawas besar dan tinggi, serta puluhan kubah kubah menyembul di Benteng. Konon, dulu kala dilengkapi puluhan meriam meriam, yang siap meledak menghalau lawan.

Benteng megah dan cantik ini menjadi cagar bangunan yang dilindungi UNESCO. Benar benar Legacy  yang megah , indah dan menguntungkan bagi Negara Kroasia.

Kami naik tangga ke Menara tertinggi. Kemiringan terjal 60 derajat tak membuat kami berhenti. Sampai diatas .............. pasti tahu apa yang akan saya tulis. Hanya Pesona semata. Langit biru, laut membiru, genteng genteng memerah, kubah kubah, Yacht Yacht putih, jalanan Stradun yang lurus lurus membelah kota tua, terintegrasi ke dalam kornea pandangan.

Meneruskan penelusuran, Matt berujar, coba longok ke bawah. Di bawah sana, dikarang karang indah putih yang sekali sekali dijilati deburan ombak kecil Adriatik, banyak orang sedang berjemur. S8 langsung menzooming, ah ....,..,. Coklat coklat coklat dan coklat, ada juga putih bertebaran, terlentang ... telungkup diatas karang, sebagian berenang di laut.

Konon di karang itu ada kafe sunset, kafe untu segmen khusus. Karena bisa Nude dengan nyaman disitu....... tuk menghirup kebebasan dan bermandi keindahan. Entah apakah wajahku tersipu melihat pemandangan itu, yang jelas kemampuan zooming S8 saat itu tidak memenuhi harapanku. Kurang ...kurang dekat.

Pendakian dan penyusuran benteng itu, kalau mau diceritakan lebih detil bisa memakan puluhan halaman buku.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2