Mohon tunggu...
Mulyadi Djaya
Mulyadi Djaya Mohon Tunggu... Dosen Univ. Papua -

Memotret Papua bagai oase yang tidak pernah kering. Terus berkarya untuk Indonesia yang berkemajuan (#dosen.unipa.manokwari).

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Menjaga Laut Papua dengan Tradisi Balobe, Bemeti, dan Molo

6 Februari 2018   21:51 Diperbarui: 7 Februari 2018   11:41 4943 5 5
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Foto: Tribunnews.com

Maksud istirahat melaut adalah memberi kesempatan kepada ikan-ikan untuk berkembang biak. Aturan ini dijalankan dua kali dalam setahun. Bagi yang melanggar akan mendapat sanksi sosial berupa disisihkan oleh adat dan dilarang lagi untuk pergi melaut hingga hukuman tersebut dicabut oleh kepala suku. Untuk mengawasi aturan sasi nggama ini melalui kesepakatan kepala suku dan warga masyarakat setempat telah dibentuk "polisi" penjaga laut yang melakukan patroli.

Tradisi Balobe, Bemeti dan Molo

Tradisi menangkap hasil laut pola susbsisten -- untuk kebutuhan makan sehari-hari dengan menggunakan peralatan yang sederhana oleh masyarakat Papua adalah nilai-nilai budaya dalam bentuk kearifan lokal yang ikut membantu upaya konservasi alam seperti di Taman Laut Nasional Teluk Cenderawasih dan  Raja Ampat yang sangat kaya biota laut. Hanya diperkenankan menggunakan alat sederhana seperti pancing tanpa umpan atau bacigi sehingga tidak merusak sumber daya laut, sekadar bisa hidup sehari-hari yang dikenal dengan tradisi balobe dan bemeti.

Balobe adalah tradisi mencari hasil laut pada malam hari pada saat bulan gelap dengan menggunakan alat tombak dari kayu yang biasa disebut kalawai. Di ujung kalawai terdapat besi bermata tiga yang tajam. 

Hanya menggunakan insting nelayan sudah mengetahui waktu yang tepat dengan melihat kondisi alam. Bulan gelap menunjukkan kuruman ikan tidak akan jauh-jauh berekspansi atau memiliki penglihatan yang terbatas sehingga ikan nampak jinak. Dibantu oleh penerang lampu petromaks pelobe sangat mahir menghujamkan tombak mengenai sasarannya. 

Dari balobe orang-orang Papua membawa pulang hasil tangkapan berupa ikan, udang lobster, teripang, dan gurita. Menangkap ikan dengan  kalawai tidak merusak biota laut karena sasaran tombak sangat selektif. Berbeda kalau menggunakan bahan racun, bom atau alat strum ikan bisa merusak lingkungan dan berbahaya bagi pelobe itu sendiri.

Cara lain untuk menangkap ikan yang dilakukan oleh anak-anak dan orang dewasa adalah molo ikan, yaitu menangkap ikan dengan cara menyelam di kedalaman laut dengan menggunakan kacamata molo dan dilengkapi senapan panah yang dibuat dari kayu. Peluru pelontar dari kawat yang ditajamkan ujungnya. 

Tradisi yang paling lama semenjak belum ditemukan alat tangkap ikan di Papua adalah bameti seperti suku Mariadei Kabupaten Kepulauan Yapen. Bameti adalah kegiatan memungut hasil-hasil laut ketika air laut sedang surut atau bahasa daerahnya air laut sedang meti, berlangsung pada malam maupun siang hari. Terutama daerah pesisir yang landai dan menjorok sehingga ketika surut nampak kolam-kolam kecil dan batu karang.

Berbeda dengan balobe yang biasa dilakukan oleh nelayan, kegiatan bameti biasanya dilakukan oleh tiap-tiap keluarga untuk mengisi waktu-waktu senggang sambil rekreasi, dan dimanfaatkan ajang pertemuan dengan keluarga yang lain dalam satu kampung. 

Menggunakan peralatan seadanya seperti panah dari lidi yang menggunakan karet gelang lalu ditembakkan; alat cungkil kerang, dan baskom/serok penangkap. Mencari ikan karang, udang lobster yang terdampar dan beragam jenis kerang laut, bia/tiram. Biasanya hasil buruan dimakan di pinggir pantai dan sisanya dibawa pulang untuk dimakan sendiri atau dibagikan kepada tetangga.

Tradisi Orang Asmat Menangkap Ikan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan