Mohon tunggu...
Muis Sunarya
Muis Sunarya Mohon Tunggu... Esais

meminati masalah agama, sosial, dan budaya

Selanjutnya

Tutup

Karir Artikel Utama

Dilema Penghulu KUA Ketika Tidak Lockdown Corona

17 Maret 2020   17:51 Diperbarui: 18 Maret 2020   20:29 4576 21 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dilema Penghulu KUA Ketika Tidak Lockdown Corona
Ilustrasi penghulu saat menghadiri dan memandu acara akad nikah | Foto: Dokumentasi Pribadi

Dua Realitas Pola Pikir Merespons Virus Corona
Pertama, adalah selesai dan sebenarnya tidak ada masalah jika menganut pola pikir, bahwa pandemi virus corona adalah ketentuan Tuhan.

Apalagi ada yang menyebut virus corona sebagai "tentara Tuhan" yang tengah dikirim ke bumi. Pasrah. Makanya, untuk apa harus cemas, dan panik. Soal musibah, sakit, dan kematian adalah ketentuan Tuhan. Kalau Tuhan menghendaki, maka terjadilah.

Buat apa susah-susah ikhtiar dan usaha menghindarinya. Semua yang terjadi atas ketentuan Tuhan. Maka, sudah selesai, sampai di situ. Titik.

Kedua, berbeda dengan pola pikir yang pertama. Benar bahwa virus corona adalah ketentuan Tuhan. Tidak bisa dimungkiri. Karena itu adalah ranah teologi.

Tetapi jika dikembangkan lebih lanjut dengan mengikuti kisah Umar bin Khattab, misalnya, saat hendak berkunjung ke Syam (Suriah) yang terpapar penyebaran wabah penyakit menular, kemudian ia mengambil keputusan mengurungkan kunjungannya dalam upaya dan ikhtiar menghindarinya, maka realitas pola pikir seperti ini menjadi lain. Lebih cenderung dinamis.

Pernyataan populer Umar bin Khattab saat itu adalah, "Aku menghindar dari satu takdir (ketentuan Tuhan), dan berpindah ke takdir (ketentuan Tuhan) yang lain."

Artinya, manusia itu memiliki potensi akal untuk berpikir, dan kemampuan untuk melakukan ikhtiar dan usaha menghindari pandemi virus corona. Tidak cenderung berpikir fatalistik.

Itulah yang dilakukan oleh hampir semua negara di dunia yang positif terpapar virus corona. Ada yang lockdown, dan ada juga yang tidak. Atau paling tidak, semi lockdown.

Jadi langkah yang terakhir itu, anti lockdown, seperti kebijakan yang dilakukan pemerintah Indonesia, sebenarnya tanggung, walaupun tetap sangat penting. Tapi yang jelas masih menyisakan kegamangan, dan menambah kecemasan warga. 

Karena langkah-langkah yang dilakukan itu sebatas mengganggap virus corona sebagai pandemi global, darurat nasional virus corona, dan kejadian luar biasa (KLB).

Belum sampai pada lockdown. Tentu atas dasar berbagai faktor dan pertimbangan. Faktor ekonomi, paling tidak, adalah faktor utama ketidaksiapan melakukan lockdown. Ini yang sedang dilakukan di Indonesia.

Social Distance, Rajin Cuci Tangan, dan Kerja dari Rumah
Menjaga jarak sosial (social distance), membatasi dan mengurangi aktivitas-aktivitas di luar rumah jika tidak urgen, memaksa dan mendesak, menghindari keramaian dan kerumunan massa, adalah langkah-langkah dalam mencegah dan mengendalikan penyebaran penularan virus corona ini.

Konsekuensinya, jika bisa, lakukan pekerjaan di rumah saja, tidak perlu berangkat ke tempat kerja atau ke kantor, dan proses belajar mengajar diliburkan sementara, sampai batas waktu yang sudah ditentukan, minimal 14 hari.

Jaga jarak dan kontak langsung setidaknya satu meter dengan penderita, dan orang yang batuk, bersin, atau demam, agar tidak terkena percikan pernafasan.

Hindari menyentuh permukaan benda-benda yang dikhawatirkan terkontaminasi virus corona. Rajin cuci tangan setidaknya dua puluh detik dengan air dan sabun, atau pakai cairan pembersih tangan berbasis alkohol (hand sanitizer). Usahakan tidak perlu jabat tangan atau salaman, apalagi pelukan dengan siapa pun yang tidak jelas asal usulnya.

Dilema bagi yang Bekerja pada Pelayanan Publik
Ini yang menjadi persoalan, ketika tidak diberlakukan lockdown untuk penyebaran penularan virus corona. Bagaimana nasibnya bagi orang-orang yang bekerja pada pelayanan publik, seperti di rumah sakit, bandara, transportasi, termasuk pelayanan pernikahan di Kantor Urusan Agama (KUA), terutama pegawai pencatat nikah atau penghulu KUA?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN