Mohon tunggu...
Muhammad Syifa
Muhammad Syifa Mohon Tunggu... Mahasiswa - Fatum Brutum Narimo Ing Pandum

agar supaya we, nu penting beres.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

KKN Rekognisi UPI: Finansial Menginjak Moral atau Sebaliknya?

28 September 2021   02:50 Diperbarui: 28 September 2021   02:58 81 2 4
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
KKN Rekognisi UPI: Finansial Menginjak Moral atau Sebaliknya?
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Kehidupan nyaman manusia di dunia terusik dengan munculnya suatu fenomena virus yang level menularnya sangat ekstrem sehingga dilabeli dengan pandemi covid-19. Banyak sektor kegiatan manusia yang terganggu dengan munculnya virus tersebut baik itu dari sosial, ekonomi, politik dan pendidikan. Aktivitas manusia yang sebelumnya fokus pada interaksi secara langsung digantikan dengan interaksi secara online ataupun interaksi secara maya. Meski pada dasarnya manusia masih bisa melakukan interaksi secara langsung, tetapi harus ada beberapa hal yang mesti diperhatikan oleh manusia seperti protokol kesehatan dan lain semacamnya. Hal itu tentu saja sangat mengganggu aktivitas manusia dalam berbagai hal terutama dalam sektor pendidikan.

Aktivitas pendidikan yang sebelumnya dilaksanakan secara tatap muka langsung dipaksa berpindah haluan menjadi aktivitas pendidikan secara tatap maya atau daring. Hal tersebut tentu saja sangat berat dilaksanakan terlepas dari berbagai macam faktor penghambat yang ada. Dengan diterapkannya sistem baru tersebut tentu saja mesti memerlukan sarana dan prasarana penunjang pembelajaran baik itu dari segi teknologi, internet dan kesadaran lingkungan berteknologi. Hal-hal tersebut dalam proses penerapannya tidak mengalami pemerataan sarana dan prasarana yang berlaku. Sehingga, proses pembelajaran berjalan dengan ketimpangan yang sangat menonjol. Mengapa demikian, karena dalam penerapannya sekolah atau lingkungan yang memeliki sarana dan prasarana tersebut mampu mengimbangi perpindahan haluan aktivitas pembelajaran. Sedangkan, sekolah atau lingkungan yang kurang atau bahkan tidak memiliki sarana dan prasarana tersebut terseok-seok dalam mengikuti perubahan baru dalam aktivitas pembelajaran. Kasus tersebut biasanya terjadi di daerah 3T (Terdepan, Terpencil dan Tertinggal).

Sarana dan prasarana yang dimaksud di atas dapat berupa ketersediaan gawai, ketersedian internet dan kesadaran berteknologi. Berdasarkan kasus sebelumnya yang biasa muncul di daerah 3T. Hal tersebut dipicu dengan kurangnya kepemilikan gawai setiap individu, kurang meratanya koneksi internet dan kurangnya kesadaran dalam berteknologi. Maka, kasus tersebut tidak bisa dihindari karena masih maraknya kekurangan dari berbagai hal tersebut.

Kasus tersebut tentu saja tidak lepas dari pengawasan pemerintah. Telah banyak upaya yang dilakukan pemerintah untuk memberantas dan menyelesaikan permasalahan yang muncul di masyarakat, salah satunya yaitu dibuatnya program kampus mengajar.

Kampus mengajar merupakan bagian dari program kampus merdeka yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan saat ini untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa di seluruh Indonesia dalam belajar dan mengembangkan potensi diri di luar lingkungan kampus dan ditempatkan di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama untuk saat ini. Dalam persepektif lain program kampus mengajar bertujuan untuk membantu sekolah-sekolah yang bisa dikatakan masih tertinggal baik dari segi pembelajaran, pemanfaatan teknologi dan administrasi sekolah.

Berdasarkan kasus yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia khususnya daerah 3T, tentu saja program tersebut bagaikan angin segara bagi sekolah atau wilayah terkait. Mengapa demikian, karena dengan adanya program tersebut setidaknya mahasiswa yang bertugas mampu sedikit membantu dalam ketiga aspek tersebut.

Saya Muhammad Syifa mahasiswa dari Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Cibiru prodi PGSD merupakan salah satu dari peserta Kampus Mengajar angkatan 1 yang ditempatkan di SDN Legok Pego, Desa Drawati, Kecamatan Paseh, Kabupaten Bandung. Ditugaskan kurang lebih sekitar 3 bulan yang dimulai dari bulan Maret sampai bulan Juni. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara kelompok.

Banyak hal yang bisa dilakukan dari program tersebut seperti membantu sekolah sasaran dari segi belajar mengajar, pemanfaatan teknologi, administrasi sekolah dan lain sebagainya. Untuk kegiatan belajar mengajar pelaksanaannya dilakukan secara tatap muka karena untuk pelaksanaan tatap maya hal tersebut dirasa tidak efektif dan bahkan sangat tidak mungkin untuk dilaksanakan. Hal tersebut didasarkan pada kondisi masyarakat yang tiap individunya tidak ataupun kurang dalam kepemilikan gawai. Sehingga, proses pembelajaran tidak bisa dilaksanakan secara tatap maya. Dilihat dari segi lain pun karena wilayah yang mengalami kondisi sulit sinyal. Sehingga, sulit untuk mengakses platform-platform penunjang pembelajaran tatap maya yang mengharuskan memiliki akses internet. Berdasarkan kondisi nyata lingkungan masyarakat pun masih kurang dalam kesadaran penggunaan teknologi. Apabila proses pembelajaran dipaksakan untuk melakukan tatap maya. Hal tersebut mampu mengakibatkan semakin berkuranganya minat belajar siswa dan minat orang tua siswa utnuk memfasilitasi kegiatan belajar anaknya. Mengapa demikian, karena kondisi masyarakat yang lebih mementingkan ekonomi ketimbang pendidikan anak mereka. Sehingga, untuk pemanfaatan teknologi hanya diterapkan untuk media pembelajaran dan alat penunjang guru dalam melakukan kegiatan administrasi sekolah ataupun interaksi terkait kegiatan guru sekolah.

Kegiatan pembelajaran dilaksanakan secara bergantian setiap harinya. Misal hari senin untuk kelas 1 dan 2, hari selasa untuk kelas 3 dan 4, hari rabu untuk kelas 5 dan 6, dan seterusnya. Hal tersebut bertujuan untuk meminimalisir aktivitas yang berpotensi terciptanya kerumunan. Kegiatan belajar mengajar mengalami berbagai perubahan baik itu dari segi cara mengajar ataupun media. Datangnya peserta kampus mengajar diharapkan memunculkan variasi dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Jadi, tidak hanya melulu menggunakan metode ceramah atau model-model teacher centre. Pembelajaran mesti dilaksanakan dengan berbagai cara atau metode yang berfokus pada student centre. Hal tersebut bertujuan agar siswa mampu mengembangkan potensi dirinya serta merangsang kepekaan siswa terhadap lingkungan nyata mereka. Hal tersebut merupakan salah satu program kami dalam kegiatan kampus mengajar di sekolah terkait. Karena pembelajaran tidak dilaksanakan selalu di dalam kelas. Tetapi, ada beberapa materi atau kondisi yang mengharuskan kegiatan pembelajaran dilaksankan di luar kelas yang bertujuan merangsang dan melatih literasi dan kepekaan siswa. Akhirnya, kegiatan tersebut memunculkan respon positif baik dari pihak sekolah, siswa dan lingkungan masyarakat.

Di samping membantu kegiatan pembelajaran dan pemanfaatan teknologi. Peserta kampus mengajar diharapakan mampu membantu dalam kegiatan administrasi sekolah. Meski, hal yang dibantu berupa hal-hal umum seperti pembuatan RPP, soal PAT, PAS, absen siswa, dan pemasukan nilai rapot. Tetapi, hal tersebut memiliki tujuan dan harapan dalam proses akreditasi agar mendapatkan akreditasi yang diharapkan guna memunculkan eksistensi dan kualitas sekolah.

Kemunculan program kampus mengajar ini diharapkan bukan hanya membantu mahasiswa dalam mengembangkan potensi dirinya. Tetapi, mampu membantu, membenahi, mengembangkan sekolah atau bahkan lingkungan masyarakat sekolah tersebut. Seperti yang saya alami di Legok Pego bahwasanya sekolah bukan otoritas tunggal dalam lingkungan tersebut tetapi ada keterikatan antara sekolah dengan masyarakat sekitar. Jadi, masyarakat berperan penting dalam proses perkembangan sekolah. Warga masyarakat atau siswa yang bersekolah di SDN Legok Pego memang hanya berasal dari warga Legok Pego sendiri, karena lokasi yang berada di puncak pegunungan. Sehingga, akses untuk kegiatan ekonimi dan pendidikan sangat sulit. Disana hanya ada satu sekolah dan itupun hanya sekolah dasar. Mungkin hal tersebut disebabkan oleh akses jalan yang rusak dan curam. Sehingga, akses untuk pendidikan menjadi sulit. Hal tersebut merupakan salah satu penyebab warga masyarakat memilih untuk tidak melanjutkan sekolah. Di samping karena orientasi yang berpegang pada ekonomi, disisi lain berdasar kondisi wilayah yang tak kunjung diperbaiki oleh pemerintah setempat. Sudah banyak upaya yang dilakukan sekolah ataupun warga masyarakat dalam mengajukan perbaikan jalan. Tetapi, semuanya bisa dikatakan nihil, karena belum adanya aksi nyata dari pemerintah setempat. Pada dasarnya permohonan perbaikan tersebut sebagai jalan terciptanya arus baru bagi warga Legok Pego, karena tidak menutup kemungkinan apabila jalan sudah diperbaiki maka akan memudahkan akses ke Legok Pego yang dimana hal tersebut berpeluang terciptanya pendidikan lanjut baik itu SMP ataupun SMA dan mampu menarik minat guru-guru untuk mengajar disana. Bahkan, disisi lain hal tersebut mampu membuka hal baru seperti dijadikan tempat wisata karena pemandangan yang disajikan tidak kalah indah dari pemandangan dataran tinggi lainnya. Apabila hal tersebut bisa dicapai maka bisa dipastikan perbaikan jalan atau akses mampu mengembangkan potensi pendidikan dan ekonomi Legok Pego.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan