Finansial

Akuntansi dan ketaqwaan

30 Juni 2018   20:50 Diperbarui: 30 Juni 2018   21:16 482 0 0

Ketika mendengar istilah akuntansi, sebagian dari kita akan mulai membayangkan buku-buku tebal dengan catatan keuangan didalamnya sementara sebagian yang lain membayangkannya sebagai sesuatu yang sederhana. 

Meskipun praktek akuntansi telah dilakukan sejak zaman dahulu, namun istilah akuntansi syariah baru muncul belakangan ini, seiring dengan perkembangan ekonomi Islam di dunia. 

Perkembangan tersebut tak hanya dirasakan di negara-negara muslim saja, namun juga dapat diamati di berbagai negara di seluruh dunia. Ekonomi Islam dan akuntansi syariah mulai berkembang seiring dengan terjadinya krisis-krisis yang melanda dunia sejak satu abad terakhir , yang diawali dengan mampunya sistem ekonomi Islam bertahan dalam krisis tersebut.

Para ekonom Islam sebenarnya telah mengingatkan bahaya riba sejak ratusan tahun yang lalu, yang mana riba cepat atau lambat akan melumpuhkan perekonomian. Dalam Islam pun ancaman riba telah sangat jelas dan hanya orang-orang yang tertutup hatinya yang mengingkari ancaman riba. Krisis-krisis sebagaimana yang terjadi berulang kali, tentunya disebabkan oleh praktek riba di bank-bank konvensional dan di masyarakat. Para ekonom Islam menegaskan hal ini.

Sebelum maraknya istilah akuntansi syariah, kita telah mengetahui bahwa praktek akuntansi konvensional mengiringi kehidupan lembaga-lembaga keuangan konvensional, yang mana berlumur dengan hal-hal yang diharamkan dalam Islam seperti riba, mayshir dan gharar. Dalam proses "mensyariahkan" akuntansi konvensional seiring berkembangnya ekonomi Islam, maka landasan dasar dari akuntansi tersebut dirubah sehingga terdapat perbedaan besar antara akuntansi konvensional dengan akuntansi syariah.

Akuntansi syariah berasaskan taqwa. Definisi taqwa itu sendiri sebagaimana yang dijelaskan para ulama adalah melakukan segala yang Allah perintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. 

Seorang akuntan syariah harus bertaqwa dalam kehidupannya, termasuk dalam melakukan pencatatan transaksi. Ia wajib jujur dalam membuat laporan keuangan, ia tidak boleh berbuat kecurangan, dan selayaknya ia merasa senantiasa diawasi oleh Allah dan malaikat pencatat amal.

Segala transaksi riba tidak diakui dalam akuntansi syariah. Ancaman bagi pencatat transaksi riba telah banyak dijelaskan dalam hadits shahih, dimana Allah dan Rasul-Nya melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, pencatat riba serta saksi-saksinya. 

Akuntansi syariah tidak hany sekedar menambahkan akun zakat dan infaq dalam pencatatannya, lebih dari itu akuntansi syariah berusaha menerapkan apa-apa yang Allah kehendaki.

Akuntansi syariah pun senantiasa berkembang  seiring dengan berkmbangnya sistem ekonomi Islam serta semakin banyaknya ekonom Islam yang berjuang menegakkan syariat di bumi ini. 

Adapun negara bebas riba merupakan negara yang kita impi-impikan dan impian ini hendaknya ada dalam setiap orang Islam. Semakin banyak masyarakat yang sadar mengenai bahaya riba, semakin berkembang ekonomi dan akuntansi syariah, semakin sejahtera suatu negara dengan izin Allah. Sebaliknya, apabila suatu negeri telah menyebar riba dan zina dimana-mana, sesungguhnya mereka telah menghalalkan adzab Allah menimpa mereka.