Mohon tunggu...
Muhammad Alif Al Hazmi Adlan
Muhammad Alif Al Hazmi Adlan Mohon Tunggu... Mahasiswa

Sedang menempuh pendidikan S-1 Akuntansi di Universitas Muhammadiyah Malang

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Efektifkah Work From Home (WFH) Di Tengah Pandemi COVID-19?

5 April 2020   13:15 Diperbarui: 6 April 2020   12:02 1233 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Efektifkah Work From Home (WFH) Di Tengah Pandemi COVID-19?
https://www.djkn.kemenkeu.go.id/files/images/2020/03/work-from-home-1200x548-1.jpg

Penulis : Muhammad Alif Al Hazmi Adlan dan Kresnalan Wicaksana, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

Sejak awal bulan Maret tahun 2020, Indonesia menjadi salah satu bagian negara terdampak dari pandemi Corona Virus Diseases 2019 (COVID-19). Hal tersebut menyebabkan berbagai aktivitas menjadi lumpuh terutama pada aktivitas ekonomi. Masyarakat yang pada umumnya dapat bekerja sehari-hari, sekarang pekerjaan mereka menjadi terganggu karena pandemi virus ini. Penghasilan yang mereka peroleh kian menurun atau bahkan tidak memperoleh sepeserpun. Pemerintah melalui kebijakan social distancing untuk menghambat penyebaran virus tersebut, mengharapkan kepada seluruh masyarakat untuk sementara waktu tetap berada dirumah dan bekerja di rumah atau work form home (WFH). Kebijakan tersebut direspon positif oleh sebagian masyarakat, namun tidak dengan masyarakat kecil dimana penghasilan mereka sangat bergantung pada aktivitas normal masyarakat pada umumnya.

Tetap berada dirumah untuk memutus rantai penyebaran virus memang solusi yang tepat. Tetapi hal tersebut tidak terlepas dari masalah yang akan ditimbulkan dikemudian hari, seperti tidak dapat melakukan berbagai aktivitas normal pada umumnya tertuma aktivitas bekerja. Jika masyarakat tidak bekerja, maka mereka tidak akan memperoleh penghasilan dan jika mereka tidak memperoleh penghasilan, maka tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari selama dirumah. Hal tersebut jika dibiarkan terlaslu lama akan sangat mengganggu keseimbangan ekonomi masyarakat. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah melalui kebijakan work from home (WFH) diharapkan dapat mempermudah masyarakat untuk tetap bekerja walaupun ditengah pandemi virus yang mengharuskan untuk tetap berada dirumah. Melalui kebijakan tersebut masyarakat menilai bahwa bekerja dirumah memang akan sangat memudahkan mereka, tetapi hal tersebut tidak terlepas dari sistem pekerjaan yang semakin menyulitkan.

Dengan bekerja dirumah, masyarakat diharapkan dapat memaksimalkan penggunaan teknologi yang sudah ada. Teknologi saat ini sudah sangat memumpuni untuk membantu berbagai aktivitas manusia, termasuk dalam bekerja. Layanan internet yang juga sudah memadai akan sangat membantu dalam menyampaikan informasi. Namun, teknologi yang semakin canggih jika tidak diimbangi dengan sumber daya manusia yang memumpuni maka akan sia-sia saja. Dapat kita ketahui bahwa rata-rata pendidikan masyarakat Indonesia masih sekelas SMA dimana sebagian dari mereka masih buta teknologi yang mengakibatkan berbagai hal yang dapat dikerjakan dengan teknologi seharusnya memudahkan malah dianggap menyulitkan. Selain permasalahan sumber daya manusia, permasalahan mengenai cakupan wilayah yang memiliki akses internet juga belum merata. Kita tahu bahwa salah satu perusahaan komunikasi terbesar di Indonesia telah berupaya untuk membangun pemancar-pemancar ke setiap daerah yang masih belum mendapat akses. Tetapi hal itu juga masih belum cukup, karena meskipun telah dibangun pemancar kalua biaya internet masih mahal dan juga jaringan yang masih belum stabil tidak ada artinya bekerja di rumah dengan dengan kondisi seperti itu.

Semua teknologi itu tidak berarti apa-apa bagi masyarakat kecil, karena sebagian besar dari mereka selama ini bekerja tanpa memanfaatkan teknologi yang digunakan pada umumnya oleh orang-orang yang bekerja di kantor. Masyarakat kecil menggantungkan hidupnya hanya dari bercocok tanam, berdagang, dan pelayanan jasa. Jika aktivitas mereka terhambat karena wabah virus ini, mereka tidak akan bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari bahkan untuk sesuap nasi. Disini kebijakan pemerintah malalui bekerja dari rumah atau work from home tidak berlaku sama sekali bagi masyarakat kecil. Baru-baru ini banyak sekali pemberitaan penutupan warung-warung makanan oleh pemerintah setempat. Hal tersebut membuat masyarakat mungkin merasa kesal, karena tidak dapat lagi berdagang. Memang tujuan pemerintah sangat baik untuk memotong pandemic virus, tetapi harus ditinjau lebih dalam lagi dampaknya khususnya bagi masyarakat. Selain pedagang yang dirugikan karena warung-warung atau tokonya ditutup masyarakat lain juga kebingungan, karena situasi ini menyebabkan panic buying dimana persediaan bahan pokok banyak yang kehabisan di daerah tertentu. Distribusi yang melambat menambah kepanikan mereka, sehingga mereka harus melawan kebijakan pemerintah yang seharusnya dirumah malah keluar rumah untuk pergi mencari makanan.

Masyarakat yang menggantungkan pengahasilan dari berdagang, sebagian dari mereka tidak menghiraukan himbauan pemerintah untuk tetap berada dirumah. Kebijakan work from home tidak dapat dilakukan oleh pedagang, karena tidak memungkinkan berdagang dirumah dimana mereka sendiri sudah lebih nyaman berdagang di warung atau toko. Mereka tetap membuka warung atau tokonya untuk tetap berjualan, walaupun sering didatangi oleh petugas yang diberi tugas oleh pemerintah setempat untuk menertibkan pedagang yang masih membuka warung atau tokonya selama pandemi virus corona. Sebenarnya pemerintah tidak melarang pedagang untuk berjualan di warung atau toko, tetapi yang dilarang adalah memperbolehkan pelanggan untuk menikmati/memakan makanan di dalam warung atau toko Bersama pelanggan yang lain. Sebagai solusi untuk pedagang agar tetap bisa bekerja di rumah, yaitu bisa memanfaatkan fasilitas order online yang diberikan oleh go-food, grab food, atau jasa serupa yang lain. Dengan begitu pedagang tidak perlu membuka warung atau toko fisik untuk berjualan, melainkan melalui pesanan online maka kurir akan menjemput dan mengantar pesanan ke konsumen dengan lebih mudah. Namun, semua itu tidak semudah yang diharapkan, karena lagi-lagi kendala sumber daya manusianya yang belum siap dipermasalahkan saat ini.

Bagi buruh pabrik bekerja dirumah atau work form hone (WFH)  tidak dapat dilakukan, karena mereka hanya bisa bekerja di dalam pabrik saja dan sangat tidak mungkin pekerjaanya dikerjakan dirumah. Banyak buruh yang di berhentikan bekerja sementara waktu, karena pandemi virus ini. Disisi lain, perusahaan tidak mampu memberi upah karena pendapatan mereka berkurang. Mereka sangat mengharapkan keputusan perusahaan yang melakukan pemutusan hubungan kerja sementara ini dicabut. Tetapi mau bagaimanapun, keputusan itu tidak dapat dilakukan sampai kondisi benar-benar dalam keadaan stabil. Pegawai tetap akan tetap untung dalam kondisi seperti ini, karena walaupun mereka tidak bekerja di kantor, tetap bisa bekerja dirumah dan memperoleh gaji yang tetap juga. Lantas bagaimana dengan nasib buruh yang menggantungkan pengahasilannya pada pemberi kerja. Para buruh tidak akan memperoleh upah selama pemutusan hubungan kerja yang sementara ini.

Ojek pangkalan maupun ojek online di tengah pandemi COVID-19 juga memperoleh imbasnya, karena orederan mereka menjadi menurun dan tidak sesuai target. Mereka tidak bisa hanya berdiam diri bekerja dirumah, karena pekerjaan mereka memang mengahruskan berada diluar rumah. Dengan kondisi yang berbahaya diamana penularan virus dapat melalui media apapun, mereka rela untuk tetap mengantarkan orderan maupun penumpang. Jika mereka berhenti maka warung-warung atau toko yang bermitra dengan ojek online tidak dapat mengirimkan pesanan pembeli. Social distancing sepertinya tidak dapat diterapkan, karena manusia satu akan tetap membutuhkan manusia yang lain. Sehingga social distancing dirasa tidak perlu, yang diperlukan adalah physical distancing selama pandemi virus ini. Pekerjaan harus tetap dilakukan, kalua tidak bisa dikerjakan di rumah maka harus tetap dilakukan di tempat kerja dengan tetap menjaga jarak.

Jadi, kesimpulannya adalah bekerja di rumah merupakan pilihan yang baik dan efektif, karena masyarakat dapat tetap menjaga kesehatan diri meskipun harus tetap bekerja. Dukungan akses internet yang memadai dan biaya yang murah juga sangat membantu dalam hal ini. Sumber daya manusia dalam hal ini juga harus mulai ditingkatkan, karena dengan begitu segala pekerjaan yang seharusnya memang mudah dikerjakan dengan pesatnya kemajuaan teknologi ini dapat dilakukan dengan baik tanpa adanya kendala. Masyarakat juga harus mulai memikirkan pekerjaan sampingan yang bisa diterapkan dalam menghadapi kondisi tertentu yang tidak memungkinkan seperti saat ini. Semoga bencana internasional ini dapat segera membaik dan bumi lekas membaik, sehingga segala aktivitas dapat berjalan kembali dengan normal.

VIDEO PILIHAN