Mohon tunggu...
Muhamad Mustaqim
Muhamad Mustaqim Mohon Tunggu... Peminat kajian sosial, politik, agama

Dosen

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Narasi Profesi Guru

26 November 2018   12:35 Diperbarui: 26 November 2018   13:02 0 0 0 Mohon Tunggu...

Ada sebuah adagium yang berbunyi: al-thoriqotu ahammu min al maddah, metode (pebelajaran) itu lebih penting daripada materi. Namun, al-mudarris ahammu min al-maddah wa al-thariqoh, guru itu jauh lebih penting dari pada keduanya. Ungkapan ini menegaskan bahwa sebaik apapun kurikulum, secanggih apapun metode dan media pembelajaran yang digunakan, kalaulah gurunya tidak mempunyai karakter pembelajar, maka sulit untuk mewujudkan tujuan pendidikan. 

Guru merupakan peran sentral dalam pendidikan. Meskipun dewasa ini banyak model pembelajaran yang menekankan pada pada siswa sebagai pusat pembelajaran, namun tetap saja tidak bisa meninggalkan peran guru sebagai ruh pembelajaran itu sendiri.

Sistem pendidikan kita meniscayakan keberadaan guru yang kompeten dan profesional. Hal ini ditunjang oleh semangat sertifikasi, yang memungkinkan guru untuk mendapatkan tunjangan kompetensi, dengan syarat dan ketentuan berlaku. 

Sayangnya program yang sedianya untuk meningkatkan kompetensi guru ini, mengalami distorsi tujuan. Banyak yang menempatkan sertifikasi sebagai "tambahan' pendapatan saja. Bahkan tak jarang sertifikasi ini mampu merubah gaya hidup guru, banyak kelompok guru yang mentasyarufkan tunjangan serifikasi ini untuk peningkatan gaya hidup.

Alokasi 20 persen APBN untuk pendidikan sudah hampir berjalan selama 10 tahun. Selama itu pula peningkatan kompetensi guru senantiasa digenjot. Berbagai pelatihan, diklat, workshop dilakukan untuk upaya ini. Infra struktur sekolah dan madrasah tentunya mengalami peningkatan yang signifikan. Pengadaan buku, hampir tiap tahun ganti. 

Tidak seperti dua puluh tahun yang lalu, buku selama bertahun-tahun sama, bahkan diwariskan dari generasi ke generasi. Tidak ada lagi sistem pembelajaran yang menuliskan materi di papan tulis, karena setiap siswa sudah punya materinya, sudah mendapatkan buku secara gratis. Ini barangkali satu sisi "kemajuan" pendidikan kita yang pantas untuk diapresiasi. 

Namun sekali lagi, jika tidak diimbangi dengan spirit dan dedikasi guru, tampaknya hanya akan menjadi pepesan kosong belaka. Saya ingin melanjutkan klausul ketiga dari adagium di atas, yang lebih penting dari semua itu, kurikulum, metode dan guru, adalah ruh guru itu sendiri, bal ruh al-mudarris ahammu min al-mudarris nafsahu.

Guru adalah pilar peradaban bangsa. Itulah mengapa, konon ketika kota Hirosima dan Nagasaki di bom atom oleh Sekutu, pertanyaan yang terlontar dari Kaisar adalah "berapa jumlah guru yang tersisa?". Bukan berapa jumlah panglima dan tentara yang menjadi kekhawatiran akan kehancuran dan kekalahan sebuah perang. Dan recoveri Jepang akibat kekalahan dalam perang dunia kedua ini tidak membutuhkan waktu yang lama.

Penghormatan terhadap guru dalam masyarakat tradisional memposisikan guru sebagai sosok yang benar-benar digugu dan ditiru. Wibawa guru merupakan reward yang diberikan masyarakat karena dedikasi dan keikhlasannya. Sehingga seorang murid akan lebih segan terhadap guru daripada kepada orang tua. 

Karena murid tidak merasa "membeli" guru, namun gurulah yang tulus melakukan pengajaran. Hal ini diperkuat dengan ajaran agama yang menempatkan guru di posisi tertinggi. Dalam salah satu kitab klasik pembelajaran misalnya, disebutkan bahwa prasyarat pencapaian ilmu meniscayakan 6 hal, yang salah satunya adalah adanya seorang guru. 

Hal ini menegaskan, tidak mungkin pembelajaran dilakukan secara otodidak. Penghormatan terhadap guru sangatlah luar biasa, sampai-sampai Sahabat Ali bin Abi Thalib mengatakan, aku adalah hamba (budak) seseorang yang mengajarkan satu huruf dari ilmu pengetahuan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x