Mohon tunggu...
Muchammad Roghib A
Muchammad Roghib A Mohon Tunggu... Ilmu Komunikasi

20107030003/UIN Sunan Kalijaga

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama Pilihan

Sempitnya Pemaknaan Ibadah Puasa

30 April 2021   07:52 Diperbarui: 30 April 2021   07:53 165 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sempitnya Pemaknaan Ibadah Puasa
sumber gambar: https://www.liputan6.com/ramadan

Alhamdulillahi robbil 'alamin, puji syukur kehadirat Allah yang telah memberikan segala nikmatnya kepada kita, mulai dari nikmat iman, islam, dan ihsan sehingga kita semua (umat islam) bisa menjalankan ibadah puasa ramadhan yang sudah masuk pada pertengahan bulan. Tak terasa Ramadhan berjalan dengan begitu cepat, tiba-tiba sudah mau habis saja. Walaupun begitu, masih ada di antara kita yang krisis akan pemahaman terkait arti ibadah puasa. Oleh karena itu saya akan membahas tentang "arti ibadah puasa".

al-baqarah: 183 (Dok. pribadi)
al-baqarah: 183 (Dok. pribadi)
Ya ayyuhalladzina amanu kutiba 'alaikumusshiyamu kama kutiba 'alalladzina min qoblikum la'allakum tattakun.

"hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa. Sebagaimana diwajibkan pula atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu sekalian menjadi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al- Baqarah: 183)

Kita perhatikan lafadz "kama kutiba 'alalladzina min qoblikum" (sebagaimana diwajibkan pula atas orang-orang sebelum kamu) berarti redaksi ayat ini menunjukkan, bahwa puasa itu sudah menjadi tradisi para nabi, jauh sebelum umat islam diwajibkan untuk melaksanakannya. Nabi Adam berpuasa, Nabi Nuh berpuasa, Nabi Ibrahim berpuasa, Nabi Ismail berpuasa, hampir semua nabi menjalakan puasa. Artinya apa? Puasa ini merupakan ibadah yang paling tua.

Puasa tak sekedar tunduk atau patuh kepada Allah. Lebih dari itu, puasa juga memiliki manfaat yang begitu besar bagi manusia. Dengan puasa, unsur "rasa" yang berada di dalam diri manusia terus dihidupkan. Rasa inilah yang menjadikan manusia tak kehilangan kemanusiannya. Matinya rasa dalam diri manusia, berarti matinya kemanusian. Inilah arti penting diwajibkannya ibadah puasa kepada setiap muslim yang hadir mengisi dan membangun peradaban di bumi.

Pengertian puasa menurut bahasa berarti menahan. Dalam istilah Fiqh, puasa berarti menahan diri dari hal yang membatalkan puasa mulai terbit fajar subuh hingga terbenamnya matahari di barat. Menurut kaca mata shufi, puasa berarti menahan diri dari hal yang membatalkan hukum puasa serta hal-hal yang berpotensi membatalkan pahalanya. Bisa saja ada orang yang mampu menahan diri dari makan dan minum, tapi tak mampu menahan diri dari ghibah, berkata kasar, berbohong dan sebagainya. Memang menurut kaca mata Fiqh itu sah sah saja, tapi puasa tersebut kosong momplong tidak mempunyai nilai.

Dalam hadits riwayat Muslim diterangkan, "banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apapun dari puasanya kecuali lapar dan dahaga saja.". Hadits ini menunjukkan bahwa puasa tak cukup hanya memenuhi tuntunan fiqh, tetapi puasa juga harus memperhatikan sisi dalam manusia. puasa tak hanya menahan nafsu makan dan biologis, tapi tingkahnya juga harus tertata dengan baik.

Puasa yang cuma sekedar memenuhi tunutunan fiqh baik itu tidak makan, minum, dan seterusnya, itu terbatas pada waktu yang telah ditentukan. Begitu adzan magrhib berkumandang, maka bebaslah ia menikmati apa yang tadinya dilarang.

Berbeda dengan berpuasa sambil memperhatikan hal-hal yang mampu menggurkan nilai atau pahala puasa. Menjaga apa yang bisa menjadi batalnya pahala tak memiliki batasan waktu, kapanpun orang melanggar maka hilanglah nilai puasanya. Entah itu pas puasa ataupun setelah berbuka puasa.

Inilah hal terpenting dari ibadah puasa, dengan puasa seseorang dilatih untuk menghindari atau menahan diri dari perbuatan yang dinilai tidak benar. Menahan rasa lapar, haus, letih dan lesu aslinya bukan menjadi tujuan dari ibadah puasa. Allah tidak mungkin bertujuan untuk membuat hambanya menjadi kurus dan lemah karena puasa. Namun dibalik itu semua, Allah mengharapkan terciptanya pribadi yang unggul dari para shaimin. Di balik rasa lapar, ada perjuangan yang tak kenal lelah untuk keluar dari rasa laparnya.

Hal-hal semacam itu banyak dialami oleh saudara yang berada di sekitar kita, bisa jadi itu tetangga kita, kerabat, atau famili kita sendiri. Mereka tak mampu tidur dengan nyenyak akibat menahan rasa lapar yang mencengkramnya, sementara kita tidur dengan pulas karena kekenyangan. Nah, kepekaan semacam inilah yang harus kita tumbuhkan pada diri kita masing-masing sebagai wujud dari ibadah puasanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN