Mohon tunggu...
Felix Tani
Felix Tani Mohon Tunggu... Petani dan Peneliti Sosial

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Orang Batak Tidak Bicara Sebelum Makan

15 Juli 2019   15:30 Diperbarui: 17 Juli 2019   17:49 0 11 11 Mohon Tunggu...
Orang Batak Tidak Bicara Sebelum Makan
Penyampaian makanan secara adat dalam masyarakat Batak Toba (Foto: gobatak.com)

Makan dan bicara adalah dua peristiwa dengan relasi silogisma bagi orang Batak. Jika makan maka bicara. Jika tidak makan maka tidak bicara.

Makan yang saya maksud di sini adalah makan dalam upacara adat Batak. Bukan makan sehari-hari di rumah atau di kedai makan.

Karena itu makanan yang dibicarakan di sini adalah makanan adat. Makanan yang disiapkan dan disajikan khusus untuk kegiatan adat tertentu dengan maksud tertentu.

Dalam konteks makan secara adat itulah berlaku etika atau norma adat "makan dulu bicara kemudian". Untuk memahami norma ini, saya akan ceritakan satu kasus dulu. Setelah itu baru masuk pada satu tafsir makna secara ringkas.

***

Suatu hari pada tahun 1978, keluarga namboru Si Poltak di Desa Panatapan, Tapanuli Utara datang membawa sipanganon (makanan) ke rumah Ompung Poltak.

Sesuai statusnya sebagai boru (penerima mempelai perempuan), seturut adat Dalihan na Tolu makanan yang dibawa adalah indahan na las dohot juhut na tabo, nasi hangat dan lauk daging yang enak. Juhut di situ berarti daging seekor pinahan lobu, babi, ukuran remaja. Karena ini acara adat keluarga, partisipannya terbatas, maka ukuran babi sedangan saja. Orang Batak bilang, lomok-lomok, babi ukuran tanggung.

Karena merupakan ulu ni sipanganon, kepala makanan atau hidangan utama dalam acara makan adat, maka daging babi itu disajikan lengkap bagian-bagiannya. Kepala, leher, dan pinggul kanan dan kiri harus tersaji utuh sesuai bentuk aslinya. Bagian-bagian ini disampaikan kepada pihak hula-hula (pemberi mempelai perempuan) sebagai jambar, pemberian sebagai pengakuan atas status atau posisi adat. (Hal ini sebaiknya menjadi topik artikel tersendiri).

Di rumah Ompung Poltak, setelah makanan disajikan dan doa makan (siang) dipanjatkan, pihak namboru Si Poltak mempersilahkan hadirin makan bersama. Sebait umpasa atau petitih adat Batak diujarkan: "Sititi ma sigompa, golang-golang pangarahutna. Tung so sadia pe naeng tarpatupa, sai anggiat ma godang pinasuna." Artinya: Sititi adalah sigompa, gelang-gelang pengikatnya. Walau tak seberapa sajian kami, semoga berkahnya melimpah.

Umpasa itu diamini seluruh hadirin dengan menyerukan, "Ima tutu!", artinya "Jadilah seperti itu!" Lalu makan dan minum bersama sampai puas.

Setelah selesai makan, pihak Ompung Poltak, diwakili anak laki-laki sulung, dalam hal ini pada posisi hula-hula, membuka pembicaraan dengan sebuah pertanyaan. Katanya, "Nunga bosur hami mangan indahan na las, sagat marlompan na tabo nabinoanmuna i. Nuaeng pe ba paboa hamu ma tu hami dia do hinarohon muna dohot lapatan ni sipanganon na binoan muna i."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN