Felix Tani
Felix Tani profesional

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

Wisata Artikel Utama

Tak Ada Kupu-kupu di Tempat Konservasi Kupu-kupu

7 Maret 2018   13:55 Diperbarui: 7 Maret 2018   15:44 749 6 3
Tak Ada Kupu-kupu di Tempat Konservasi Kupu-kupu
Danau Kassi Kebo Bantimurung. Di sini Alfred Russel Wallace pernah berdiri tahun 1857 (Dokpri)

"Wajib hukumnya ke Bantimurung," saran teman lama yang sekarang buka restoran es pallubutung di Maros, Sulawesi Tengah, pada suatu siang yang terik di penghujung Desember 2017 lalu.

Tadinya saya dan keluarga, kami berempat, berencana melihat obyek wisata Gua Prasejarah Leang-leang dan perbukitan karst Rammang-rammang. Yang terakhir ini merupakan area karst terluas kedua di dunia, dan sudah direkomendasikan sebagai situs warisan dunia.

"Tidak usah ke Rammang-rammang. Kurang menarik. Ke sana cuma naik perahu katingting di antara hutan sagu," sergah teman tadi. Ya, dia orang situ, jelas obyek itu biasa-biasa saja baginya.

Tapi, ya, sudahlah. Ikut saran teman, kami putuskan untuk pergi ke Gua Leang-leang dan selanjutnya Bantimurung saja.

Maka setelah menutup makan siang dengan suguhan khusus es pallubutung di restoran milik teman tadi, kami segera beranjak ke lokasi tujuan wisata.

Gua Leang-leang adalah tujuan pertama. Tapi pengalaman di sana akan saya kisahkan lain waktu saja. Sekarang saya ceritakan kunjungan ke lokasi kedua dulu, Bantimurung.

Setelah membeli tiket masuk, kami berempat  melangkahkan kaki ke dalam kawasan Bantimurung. Kawasan ini merupakan bagian dari Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Sulawesi Selatan.  Total luas arealnya 43,750 ha, mengiris sebagian wilayah Maros dan Pangkep.

Berkunjung ke Bantimurung berarti berkunjung ke "Kerajaan Kupu-kupu". Itu nama pemberian Alfred Russel Wallace, saintis pertama yang mengeksplorasi kawasan itu bulan Juli-Oktober 1857. Wallace melaporkan temuan 256 spesies kupu-kupu di sana.

Dari penjaja jajanan yang beroperasi di dalam kawasan, kami mendapat informasi habitat kupu-kupu ada Danau Kassi Kebo, di ujung jalan setapak yang terentang mengikuti tepi sungai ke area hulu. Jaraknya sekitar 1 km dari pintu masuk kawasan.

Perlu sedikit usaha karena sebelum mencapai area landai di atas, kami harus mendaki rentetan anak tangga. Kalau tidak salah hitung semuanya 119 anak tangga. Tapi ada nikmat alamnya, karena di sisi kanan kami bisa menikmati hamburan dahsyat air terjun Bantimurung.  Di bawah sana terlihat banyak pengunjung yang terjun berenang-renang meniti aliran sungai yang deras.

Saya kira, kami menghabiskan waktu sekitar 20 menit perjalanan di bawah naungan sejuk tajuk hutan, sebelum akhirnya tiba di tepi Danau Kassi Kebo. Danau ini kecil,  sebagian tepiannya berpasir.  Suasana sekitar terasa mistis, tapi tetap memancarkan keindahan hutan basah tropis.

Saya bayangkan, di tepian berpasir itulah tahun 1857 Pak Wallace berdiri takjub menatap ribuan kupu-kupu warna warni ragam jenis terbang di pucuk pepohonan, kerlap-kerlip diterpa berkas sinar matahari pagi. Sebuah pemandangan surgawi, tiada tara.

Tapi, berdiri di tepian berpasir itu, berputar 360 derajat, mata saya tak melihat seekorpun kupu-kupu di Kassi Kebo.  Di mana kini "Kerajaan Kupu-kupu" yang dikisahkan Pak Wallace itu. Apakah sudah punah ditaklukkan Kerajaan Burung atau bahkan Kerajaan Manusia? Sebab manusia terkenal sebagai pemusnah flora dan fauna paling hebat.

Kami berempat kecewa berat tak mendapati seekorpun kupu-kupu di Bantimurung. Melihat aku murung, isteriku dan anak-anak mengajak masuk ke gua batu yang terletak di sisi danau. Kata para pemandu yang siap di mulut gua, itu adalah gua pertapaan Raja Toalaka tempo dulu.  Di dalam gua, pemandu itu menunjukkan tempat-tempat tapa, sumber air wudhu, dan tempat shalat Sang Raja.  Ya, lumayanlah, jelajah gua untuk pelipur lara.

Perjalanan turun dari Kassi Kebo ke pintu keluar kawasan Bantimurung terasa lebih mudah dan cepat. Walau mata masih tetap jelalatan berharap melihat seekor kupu-kupu terbang. Sebab bukan ke Bantimurung namanya kalau tak bersua kupu-kupu. Tapi, sampai keluar kawasan dan kembali ke areal parkiran, tak juga ada seekor kupu-kupu terbang di udara Bantimurung.

"Kita beli awetan kupu-kupu saja," usul anak-anak. Maka jadilah seperti itu. Setelah tawar-menawar yang sedikit alot, selusin awetan kupu-kupu seharga Rp 75,000 pindah ke tangan kami. Tidak semua kupu-kupu Bantimurung, ada yang berasal dari Papua. Tapi, ya, lumayanlah untuk oleh-oleh kenangan, bukti pernah ke Bantimurung.

"Datanglah di bulan Agustus. Itu musim kupu-kupu. Kalau Desember tidak ada kupu-kupu," kata pedagang awetan kupu-kupu menanggapi keluhan kami tak bersua kupu-kupu. Yaah, dia tidak tahu kami datang ke Bantimurung karena rejeki Liburan Natal, bukan Libur Agustusan. Salah musim, ternyata.

"Itu kupu-kupu!"  Anak bungsu saya tiba-tiba bersorak, sambil menunjuk ke arah pucuk perdu di sebelah kiri, selang berapa menit  mobil yang kami tumpangi bergerak ke luar kawasan Bantimurung. Spontan dengan mata berbinar gembira kami menoleh ke kiri dan ... benar ... ada seekor kupu-kupu terbang di sana.

Di mata saya, kupu-kupu itu tak jauh beda dengan kupu-kupu yang kerap singgah di taman kecil di depan rumah kami. Tapi mohon dimaklumi saja kegembiraan kami. Sebab setelah hampir dua jam menjelajah Bantimurung tanpa bersua seekorpun kupu-kupu, pada akhirnya Tuhan mengirimkan seekor ke depan mata, sebelum kami benar-benar melewati gerbang Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung.***