Felix Tani
Felix Tani profesional

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight headline

Sosiologi Pekuburan, Simbol Status Orang Batak Toba

13 September 2017   18:08 Diperbarui: 14 September 2017   09:01 2241 10 6
Sosiologi Pekuburan, Simbol Status Orang Batak Toba
Kuburan Mewah Orang Batak (Foto: medan.tribunnews.com)

Pernah melintas di jalan raya Trans-Sumatera khususnya ruas Parapat-Balige? Pasti bisa melihat bangunan makam-makam permanen di koridor kiri dan kanan jalan. Mulai dari makam berkijing biasa, sampai makam berbentuk rumah beton mini, lengkap dengan patung pasutri duduk di terasnya. Jenis yang terakhir ini tergolong dalam makam mewah.

Timbul pertanyaan, mengapa sebuah makam harus mewah dan tampil mencolok mata menghadap jalan raya seperti itu? Pamer? Betul, dalam arti sosiologis, menerakan suatu simbol status bagi keluarga mendiang. Menampilkan simbol eksistensi sosial ke ruang publik.

Maka pekuburan orang Batak Toba, dalam hal ini pekuburan "milik" kampung (huta), pada dasarnya merepresentasikan status sosial keluarga, sekaligus pelapisan sosial di sebuah kampung.

Intinya, kuburan berkijing biasa atau tanpa kijing merepresentasikan keluarganya yang berada di lapis sosial bawah, warga biasa. Sedangkan kuburan berupa rumah beton mini merepresentasikan keluarganya yang berada di lapis sosial atas, warga elit politik dan ekonomi kampung.

Penjelasannya sederhana saja. Untuk membangun makam rumah beton mini, lengkap dengan sepasang patungnya, dibutuhkan biaya besar. Tidak saja untuk biaya material bangunan dan tukang. Tapi juga untuk biaya pesta "peresmian"-nya. Hanya warga elit kampung, yang biasanya juga punya banyak kerabat sukses di rantau, yang mampu membiayainya secara tanggung-renteng.

Ini kaitannya dengan tiga nilai sukses orang Batak Toba, yaitu "hamoraon, hagabeon, hasangapon" (kaya, sukses, mulia). Capaian tiga nilai itu mesti ditampilkan antara lain melalui fisik bangunan makam orang tua atau kakek-moyang yang "mewah". Maka ketika warga kampungnya atau kampung lain lewat di depan makam itu, maka akan terlontar suatu pengakuan, "Betullah, keturunannya kaya, sukses, dan mulia".

Andaikan makam orang tua atau kakek-moyabgnya tidak dibangun mewah, orang akan bilang dengan nada sinis, "Percuma keturunannya kaya, sukses, dan mulia." "Lupa bahwa semua itu mereka raih berkat restu orangtuanya." "Anak-anaknya gak tahu terimakasih." Begitulah.

Sudah menjadi watak Batak juga rupanya agak "tipis kuping". Tidak akan kuat mendengar ujaran-ujaran sinis semacam itu. Maka lebih baik memanen pujian, dengan cara membangun makam orangtua.

Sekaligus sebagai pernyataan tentang status sosial mereka yang tinggi. Ini semacam menyumbang menara untuk bangunan gereja, yang terlihat dari kejauhan, lalu orang akan ingat siapa penyumbangnya. Maka tidak ada makam yang membelakangi jalan raya di Toba.

Begitulah, dengan melihat fisik makam di pekuburan kampung Batak Toba, kita langsung bisa tahu keluarga mana yang tergolong warga biasa atau elit di kampung itu. Sistem pelapisan sosial kampung itu, tergambarkan dengan tegas di pekuburan. Maka makam orang Batak Toba bukan sekadar kuburan jasad, tetapi simbol status bagi keluarga besar mendiang.***