Mohon tunggu...
Felix Tani
Felix Tani Mohon Tunggu... Petani dan Peneliti Sosial

Sosiolog kampungan, petani mardijker, penganut paham "mikul dhuwur mendhem jero", artinya memikul gabah hasil panen di pundak tinggi-tinggi dan memendam jerami dalam-dalam di lumpur sawah untuk menyuburkan tanah.

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Saya Senang Membaca Koran Sabtu Pagi Ini

11 Oktober 2014   22:59 Diperbarui: 17 Juni 2015   21:26 0 3 4 Mohon Tunggu...

Headline Kompas pagi ini, Sabtu, membuat hati senang dan tenang. Ada foto dengan pose gandeng tangan siap gotong-royong dari empat orang tokoh puncak negeri kita: Ketua DPD Irman Gusman, Ketua DPR Setya Novanto, presiden terpilih Joko Widodo, dan Ketua MPR Zulkifli Hasan. Ada judul berita utama yang memberi rasa optimis: "Presiden, MPR, DPR, DPD Bergandengan". Tentang "diplomasi meja makan" Jumat malam yang "Jokowi banget" (10/10) di Jakarta. Tentang semangat "merah putih menjadi Indonesia hebat". Tentang kesepakatan gotong-royong sinergis antara Presiden, MPR, DPR, dan DPD. Gotong-royong mencapai tujuan bersama: kesejahteraan rakyat. Joko Widodo menyimpulkan: "Semua yang terjadi kemarin sudah selesai, rampung. Jangan tanya-tanya lagi soal jegal-menjegal. Sekarang saatnya kita bekerja." Artinya, hubungan pemerintah dan parlemen ke depan akan sangat dinamis konstruktif, demi mencapai merah-putih hebat, Indonesia hebat. Kemarin, Jumat pagi (10/10) saya sempat murung membaca headline Kompas. Ada berita kemasygulan Menko Perekonomian Chairul Tanjung, atas respon negatif pasar terhadap gejala polarisasi parlemen dan pemerintah. Kalau pasar murung, prospek ekonomi buruk, rakyat lalu terpuruk. Tambahan lagi, ada berita bahwa Hasyim Djoyohadikusumo, Waka Dewan Pembina Gerindra akan mengganggu pemerintahan Joko Widodo. (Walaupun kemudian dia membantahnya dan bilang siap dukung Jokowi). Sampai-sampai Chairul Tanjung berkata: "Duduklah bersama, cobalah cari solusi. Duduk bersama saja belum ketemu solusi, iris kuping saya kalau pasar tidak rebound (membaik). Ada keinginan saja, itu sudah luar biasa. Apalagi ada kesepakatan." Jumat malam, parlemen dan pemerintah tidak hanya duduk di meja makan. Tapi bersepakat membangun sinergi untuk menjalankan dan mengontrol pemerintahan mendatang, demi kesejahteraan rakyat. Demi merah putih, Indonesia hebat, kedaulatan politik, ekonomi, dan sosial-budaya. Mari kita tunggu Senin minggu depan. Mudah-mudahan "I like Monday". Harga saham naik, nilai rupiah menguat, dan iklim investasi mulai memberi harapan. Tapi, diplomasi meja makan Jumat itu jangan membuat rakyat terlena. Ini politik, tempat semua hal yang muskil jadi mungkin. Jadi, rakyat harus tetap kritis terhadap parlemen dan pemerintah. Masih ingat apa yang menjadi ancaman terbesar bagi ketahanan nasional menurut Prabowo? "Kemiskinan," itu kata Prabowo. Ya, benar, kemiskinan. Tapi bukan kemiskinan ekonomi rakyat sebenarnya. Melainkan kemiskinan moral parlemen, yang menyebut diri wakil rakyat. Kemiskinan moral yang memimpin perilaku babarian di parlemen. Itulah, ancaman ketahanan nasional yang terbesar dan nyata mengancam. Karena itu, rakyat harus tetap kritis. Boleh senang, boleh tenang. Tapi harus tetap berjaga, karena si barbarian tetap berkeliaran di Senayan.(*)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x