Politik Pilihan

Menangis atau Tidak, Puan Maharani Selalu Dianggap Salah

16 Mei 2018   13:12 Diperbarui: 16 Mei 2018   13:55 432 0 1
Menangis atau Tidak, Puan Maharani Selalu Dianggap Salah
radarsemarang.com

Ada hal yang selalu menjadi bahan ocehan dan nyinyiran pihak tertentu untuk menegasikan Puan Maharani, yaitu ketika ia menangis saat subsidi bahan bakar minyak (BBM) dicabut oleh pemerintah saat itu (masa pemerintahan SBY) lalu membandingkannya dengan pencabutan subsidi BBM pada pemerintahan saat ini, dan Puan Maharani tampil biasa-biasa saja seperti tak ada pembelaan sebagaimana sebelumnya.

Dua realitas yang "sengaja" dipertentangkan untuk menggambarkan sosok Puan Maharani yang paradoks, tanpa memberikan analisa objektif dan fair terhadap konstelasi perpolitikan yang berubah, kebijakan pro rakyat pemerintah, serta kerja-kerja dan prestasi Puan Maharani yang sejatinya terbukti dan langsung dirasakan oleh rakyat.

Isu itu menggelinding semakin liar, dibenturkan kesana-kemari dengan realitas lain yang sejatinya tidak berhubungan, dikaitkan dengan partai PDI-P yang dinegasikan sedemikian rupa. Tak jelas arah dan juntrungannya. Memang begitulah irama khas dari menggelindingnya isu; yang penting partai atau sosok tertentu dijelekan dulu, kemudian dikapitalisasi menjadi kebencian yang membuncah. Damage has been made.

Pelan tapi pasti, mari kita lebih bijak membaca situasi. Kita bisa saja mengkritisi, tapi tak perlu didasari rasa benci. Jangan sampai kebencian terhadap sesuatu, membuat kita tidak berlaku adil. Untuk alasan itulah, tulisan ini hadir.

Tentu tidak untuk menjadi pengadil, tapi setidaknya ada perspektif lain yang harus kita pahami sehingga tersedia "kaca" yang lebih besar, dan kita sadar, bahwa Puan Maharani telah berbuat banyak untuk negeri jika dibandingkan kita yang hanya bisa ngoceh dan nyinyir, lalu mencaci maki.

Mari kita uraikan pelan-pelan...

Kenapa dulu Puan Maharani menangis?

Ketika masih di DPR, Puan Maharani menangis karena ia sadar betul, bahwa pencabutan BBM yang dilakukan oleh pemerintah saat itu bukan untuk rakyat melainkan untuk kebutuhan lain yang sifatnya tidak mendesak, seperti belanja rutin untuk pegawai, aparatur dan atribut negara.

Kemudian rakyat diberikan "kenikmatan semu" dengan munculnya bantuan-bantuan yang sifatnya tidak produktif. Ketika itu, pemerintah berhasil menukar kesedihan rakyat kecil dengan alasan yang terkesan dibuat-buat sebab faktanya ketika terjadi kenaikan harga BBM justru subsidi terus membengkak. (kompas.com).

Pemerintah berdalih untuk menyehatkan postur anggaran karena subsidi BBM yang tidak tepat sasaran sekaligus untuk membangun infrastruktur guna memberikan pelayanan yang terbaik seperti infrastruktur dasar dan transportasi (detik.com).

Fakta menunjukkan, bahwa ketika itu, tidak banyak pembangunan infrastruktur yang dilakukan. Pada perkembangannya, justru ditemukan proyek pembangunan yang mangkrak. Ini bukan mengulik luka lama, tapi memang begitulah adanya.

Itulah kenapa Puan Maharani menangis. Terlebih lagi, posisi partainya sebagai oposisi pemerintah tidak memberikan banyak ruang untuk berbuat. Sehingga tidak mungkin suaranya didengar oleh SBY ketika itu.

Sekarang, kenapa Puan Maharani tidak menangis?

Bukan berarti ia tidak sedih melihat penderitaan rakyat kecil. Puan Maharani tahu bagaimana tangisan rakyat itu harus dihapus. Puan Maharani, dalam darah dan pikirannya, selalu terpatri untuk membuat rakyat bahagia, seperti cita-cita kakeknya, Ir. Soekarno. Puan Maharani tidak menangis, sebab ia paham kondisi sebenarnya ketika ia berada dalam pemerintahan. Menjadi bagian dari pemangku kebijakan sebagai menteri.

Puan Maharani paham, bahwa alasan pencabutan itu berdasarkan alasan yang masuk akal, yaitu membangun infrastruktur dan menciptakan program yang produktif bagi rakyat. Terlebih lagi, sebagai bagian dari pemerintahan, tidak mungkin ia mencampuri hal yang bukan tugasnya. BBM adalah urusan kementerian yang lain, bukan kementeriannya.

Apakah Puan Maharani harus menangis dengan kondisi saat ini? Sedangkan saat ini ia bisa langsung berdiskusi dengan Presiden, memberikan masukan kepada Presiden sesuai dengan peran dan fungsinya, dan itulah yang tidak diketahui oleh publik. Artinya ada kerja-kerja dan upaya lebih yang dilakukan oleh Puan Maharani saat ini dibandingkan dengan hanya sebatas tangisan.

Pada konteks inilah, pertanyaan penting yang perlu disadari, untuk apa Puan Maharani menangis? Apakah dengan tangisan itu akan menjadikan pihak-pihak tertentu yang "menggonggong" akan diam? Bukankah hal itu akan semakin diramaikan lagi sebagai pencitraan dan akan tercipta kegaduhan politik yang semakin tidak produktif?

Terlebih lagi, Puan Maharani meyakini, bahwa pemerintahan Jokowi ini berada pada jalur yang semestinya (on the track). Berbagai pembangunan infrastruktur dikerjakan secara massif.

Kita bisa lihat hasilnya sekarang. Pembangunan infrastruktur wilayah timur dan tengah, pembangunan tol laut, jembatan, irigasi, pertanian, KIS, KIP, PKH, Energi, Pembangkit Tenaga Listrik, Sertifikasi Tanah, dan berbagai kerja atau kebijakan lain yang luar biasa berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat. Memang tidak sempurna. Tapi setidaknya jauh lebih baik dari sebelumnya

Ada yang mengkritisi, ngapain membangun infrastruktur? Jangan salah, bahwa dulu, Soekarno pun dikritik secara luar biasa ketika membangun (Proyek Mercusuar). Bahkan mungkin lebih parah dibandingkan sekarang.

Andai saja sejak dulu dunia medsos ramai, gambar Soekarno mungkin akan dijadikan meme dan ploncoan. Dulu, Soekarno membangun Masjid Istiqlal, Monas, Kawasan Gelora Bung Karno, Hotel Indonesia, Sarinah, Hotel Indonesia, Wisma Nusantara, dan proyek mercusuar lainnya bukan tanpa kritikan.

Kenyataannya, justru bangunan-bangunan itulah yang menjadi identitas bangsa saat ini. Artinya, Soekarno tidak hanya membangun benda saja, tapi sekaligus identitas dan jiwa bangsa.

Itulah yang juga dilakukan oleh Jokowi saat ini. Kalau ada yang bertanya untuk apa membangun tol dan jalan di tempat yang tidak dilewati oleh banyak orang?

Nanti, sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang, mereka akan mendapatkan jawabannya. Artinya, pemerintah saat ini mempunyai cara pikir yang visioner. Manfaatnya akan dirasakan anak cucu kita nanti.

Kalau kemudian ada isu-isu tentatif yang sengaja disebarkan menjelang tahun politik melalui kapitalisasi kebijakan pemerintah yang dianggap tidak populis, hal itu bisa dijelaskan oleh pemerintah dengan baik dan detail. Memuaskan? Tentu saja tidak, sebab sebagian pihak memang tidak untuk mencari jawaban; hanya menginginkan kegaduhan.

Ketika Puan Maharani memahami kondisi itu dengan baik dari dalam, dengan informasi yang bisa dipertanggung-jawabkan, bahwa negara ini sedang membangun dan mengupayakan kesejahteraan rakyat, untuk apa Puan Maharani menangis?

Pada titik inilah, Puan Maharani menangis salah, tidak menangispun akan salah. Kenapa? Karena sebagian masyarakat kita lebih suka melihat sesuatu berdasarkan kacamata kebencian. Padahal sudah jelas dalam Islam dikatakan, Jangan sampai kebencian terhadap suatu kaum, membuat kita tidak berlaku adil.

Kemudian, perlu juga mengaitkan Puan Maharani dengan Soekarno dalam konteks "kecintaannya" terhadap rakyat. Puan Maharani, tak hanya keturunan Soekarno secara biologis tapi sekaligus menjadi "anak idelogis" yang sedari kecil dijejali dengan pemikiran, ide, dan gagasan Soekarno membangun negeri.

Puan Maharani tidak hanya hatam membaca buku-buku Soekarno secara teks saja, tapi Puan Maharani juga belajar secara konteks ketika sejak awal mendapatkan pendidikan politik Soekarno dari keluarganya.

Dari kecil, Puan Maharani sudah paham Soekarno itu seperti apa. Maka tidak aneh ketika Puan Maharani menjadi salah satu penerus yang paling "mentereng" karir politiknya dibandingkan dengan yang lain. Artinya, darah politik Soekarno mengalir dalam diri Puan Maharani. Bagaimanapun juga, Puan Maharani adalah penerus dari pendiri republik yang memang dipersiapkan untuk membangun rakyat.

Jadi, tak perlu meragukan ke-Soekarno-an Puan Maharani, sebab ia lebih tahu dan lebih paham bagaimana cita-cita, ide, gagasan, dan pemikiran Soekarno.

Lalu apa yang dilakukan oleh Puan Maharani? Puan Maharani, memang sudah karakternya, tidak terlalu memerhatikan exposure. Tipikal orang yang bekerja dalam diam.

Jadi kalau ada orang yang bertanya, Puan Maharani kerjanya apa? Maka seharusnya kita perlu jujur, bahwa Puan Maharani telah banyak melakukan kerja, kebijakan dan melahirkan prestasi. Sayangnya, media tak terlalu banyak yang mengeksposnya, karena ia bukan sosok yang suka menjajakkan dirinya sebagai orang yang latah media.

Sebagai Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Puan Maharani adalah sosok pekerja keras yang mampu melakukan kerja-kerja koordinatif, sinkronisasi serta pengendalian kebijakan kementerian yang berada di bawah garis koordinasinya.

Coba kita lihat bagaimana persiapan Asian Games 2018 sudah bagus, penyebaran KIP, KIS, PKH, dan Sertifikasi Tanah yang luar biasa, kita bisa melihat koordinasi Puan Maharani soal kesehatan, pendidikan, pembangunan sosial, dan tentang kepemudaan dan olahraga.

Puan Maharani telah melakukan banyak kerja dan kebijakan, yang pada akhirnya kita harus mengakui prestasinya (asumsi.co dan kumparan.com).

Soal popularitas di media, tentu saja bukanlah hal yang penting bagi Puan Maharani, terutama posisinya sebagai Menko, tidak sama dengan Kementerian yang mengurusi teknis secara langsung. Tapi setiap kebijakan kementerian yang berada di bawah garis koordinasinya, akan selalu berdasarkan pertimbangan dan diskusi dengan Puan Maharani.

Sudahkah kita menjadi orang-orang yang lebih baik dari Puan Maharani dalam konteks pembangunan dan kontribusi terhadap negeri? Mungkin kita perlu membeli kaca yang lebih besar untuk diletakkan dalam kamar. Sesekali kita bisa mengukur diri saat bangun tidur.