Mohon tunggu...
Monika Ekowati
Monika Ekowati Mohon Tunggu... Seorang biarawati Tarekat SND--> ARTIKEL yang kutulis ini khusus untuk KOMPASIANA Jika muncul di SITUS lain berarti telah DIJIPLAK tanpa IJIN PENULIS !

Betapa indahnya hidup ini, betapa saya mencintai hidup ini, namun hanya DIA yang paling indah dalam Surga-Nya dan dalam hidupku ini, saya akan mencintai dan mengabdi DIA dalam hidupku ini ARTIKEL yang kutulis ini khusus untuk KOMPASIANA Jika muncul di SITUS lain berarti telah DIJIPLAK tanpa IJIN PENULIS !

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Hanya Debulah Aku di Alas kaki-Mu Tuhan

16 Februari 2021   21:35 Diperbarui: 16 Februari 2021   21:42 798 39 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Hanya Debulah Aku di Alas kaki-Mu Tuhan
geosnews.com

Hakikat  Manusia

"Just as a candle cannot burn without fire, men cannot live without a spiritual life."
"Seperti halnya lilin tidak dapat menyala tanpa api, manusia tidak dapat hidup tanpa kehidupan spiritual." Buddha

Manusia  diciptakan  Tuhan dalam  daging (  badan )  dan  roh dengan  segala  paduan  unsur-unsur  yang  unik  nan  kreatif, yang  menggambarkan  Keunikan  dan  Maha  Karya Tuhan yang  luar  biasa  oleh  karena  itu  sewaktu  Tuhan menciptakan  manusia  Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita. ( Kejadian  1:26)

Supaya  badan  manusia  sehat  maka butuh  makan dan  minum yang  mengandung, vitamin, nutrisi, karbohidrat, protein dan  yang  lainnya. Juga  supaya  roh  kita  sehat  butuh makanan  rohani semisal, doa, bacaan  rohani, sakramen 9  bagi  yang  katolik ), Puasa, matiraga/ ugahari, Kesadaran  diri, melakukan  kebajikan dan  pebuatan  baik, semua  itu  akan  memberi  nutrisi  pada  kehidupan  jiiwa  (spiritual  kita )  yang  tidak  dapat  mati.

Jiwalah  yang  nantinya, setelah  badan  kita  mati  akan  tetap  hidup kembali  ke  " Citra-nya"  yakni  Tuhan  sendiri. Jika  hidup  kita  di  dunia  selalu  mengutamakan untuk berlaku  sesuai  kehendak  Tuhan. melakukan  perbuatan-perbuatan  baik yang  menjadi  berkat  bagi  sesama.

Rabu  Abu awal  masa  Prapaskah

Menerima Abu 9/holonis.com
Menerima Abu 9/holonis.com
Hari  ini taggal 17 Februari  Gereja  Katolik  memulai  masa  Prapaska, selama 40  hari diawali  dengan  hari  "Rabu  Abu" masing-masing  umat yang  dating pada  Misa  Penerimaa  Abu (  yang  dibuat  dari  daun  Palma yang  kering yang  sudah  disimpan   sejak ipacara  Minggu  Palma, tahun  sebelumnya)  nah  daun  palma  tersebut, dibakar  dan  diberkati dengan direciki  air  suci dan  ditandakan  di  dahi  umat :  dengan  perkataan  imam atau  prodiakon :  " Bertobatlah  dan  percayalah  kepada  Injil ".

Abu  itu  menandai  umat  katolik  untuk  mengawali  masa  Prapaska (  Puasa  dan  Pantang ) juga  mengingatkan kita bahwa  kita  dari  abu  dan  akan  kembali  menjadi  Abu.

 Penyadaran  bahwa  kita  adalah  abu, yang  sejatinya tak  berguna, rendah, lemah  tak  berdaya, namun  Tuhan  berkenan  mencintai setiap  pribadi  dengan  " tanpa  Syarat "  hendaknya  menggugah  kesadaran  kita  untuk  bersyukur, mencintai  Tuhan  dan  kehendak-Nya  juga  mencintai sesame (  saudara-saudari  kita  sesama  manusia) serta  seluruh  alam  ciptaan.

Biasanya Paus dan  Para  Uskup, menulis surat  yag  berisi  " Pesan  Prapaskah  bagi  para  umat" yang  tentunya intinya  mengajak  umat  untuk mempersiapkan  diri  dan  menggunakan  waktu  "Retret Agung" masa  Prapaskah  ini  sebagai  masa  memperbaharui  diri, membangun  Kesadaran  diri, untuk  hidup  lebih  baik dan  lebih  solider kepada  sesama  yang  miskin, terlantar , terpinggirkan.

Kita  diminta  untuk  hidup  lebih  ugahari  dan  berhemat lebih  sederhana, agar  kita  dapat  menyisakan uang, materi  untuk  dapat  menolong  sesame kita  yang  berkekurangan, apalagi  disaat pandemic  seperti  ini.

Bapa  Suci, Paus  Fransiskus mengajak  umat  Katolik  untuk  meneladan  Yesus.  Bahwa  Puasa, doa dan sedekah, seperti yang dikhotbahkan oleh Yesus (Mat 6:1-18), memungkinkan dan mengungkapkan per-tobatan kita. Jalan kemiskinan dan penyangkalan diri (puasa),kepedulian dan kasih sayang kepada orang miskin (sedekah),dan seperti anak kecil berdialog dengan Bapa (doa) me-mungkinkan kita untuk menjalani kehidupan dengan iman  yang tulus, harapan yang hidup dan memberlakukan amalkasih.

 Bagaimana  kita  beriman

memanggil kita untuk menerima kebenaran sertamemberikan kesaksian terhadapnya di hadapan Allah dan semua saudara-saudari kita. Dalam Masa Prapaskah ini, menerima dan menghayati  kebenaran yang diwahyukan dalam Kristus. Berarti, pertama-tama, membuka hati kita terhadap sabda Allah, yang  diwariskan Gereja dari generasi ke generasi. Kebenaran ini  bukanlah konsep abstrak yang diperuntukkan bagi segelintir  orang cerdas pilihan. Sebaliknya, kebenaran tersebut merupakan pesan yang dapat diterima dan dipahami oleh kita semua berkat kebijaksanaan hati yang terbuka terhadap kemuliaan Allah, yang mengasihi kita bahkan sebelum kita   menyadarinya. Kristus sendiri adalah Sang kebenaran ini. Demikian  tegas  Paus Fransiskus.

Prapaskah adalah masa untuk percaya, menyambut Allah kedalam hidup kita dan memperkenankan Dia untuk "berdiam"di antara kita.  Puasa melibatkan pembebasan  dari semua  yang membebani kita  seperti konsumerisme atau   informasi berlebihan, entah benar atau salah  guna membuka   pintu hati kita terhadap Dia yang datang kepada kita, miskindalam segala hal, namun "penuh kasih karunia dan kebenaran"(Yoh 1:14) : Putra Allah, Sang Juruselamat kita.

Dalam Masa   Prapaskah, semoga kita semakin peduli dengan"mengucapkan kata-kata penghiburan, kekuatan, pelipur danpenyemangat, dan bukan kata-kata yang merendahkan,menyedihkan, amarah atau menunjukkan cemoohan" (FratelliTutti, 223).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN