Mohon tunggu...
Monica Yesica
Monica Yesica Mohon Tunggu... Pejalan

Part Time Writer | Contact me at monicayesicaf@outlook.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen | "Kemana Perginya Manusia-Manusia Itu, Ibu?"

11 April 2020   15:48 Diperbarui: 11 April 2020   16:16 14 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen | "Kemana Perginya Manusia-Manusia Itu, Ibu?"
Burung Terbang di Langit Merah | Source: https://pxhere.com

Daun-daun pohon apel bergoyang-goyang ditiup angin. Beberapa buahnya jatuh ke tanah. Seekor monyet dengan cepat berlari menyambar buah-buah yang jatuh, "Hey hey cepat sini!", kata anak monyet menyerukan ke teman-temannya. "Kau makan jangan loncat-loncat, nanti tersedak", kata seekor monyet yang berbulu hitam pekat dan bertubuh kekar. "Lihat ayah, buah-buah ini semua jatuh. Biasanya manusia-manusia itu yang memetiknya sampai tak bersisa", kata anak monyet itu dengan buah apel masih di mulutnya.

Setiap sore memang banyak anak manusia bersepeda atau sekedar berjalan-jalan di taman itu, tetapi berbeda dengan hari-hari belakangan ini. Taman itu sepi, beberapa kali manusia lalu-lalang tetapi seperti tergesa-gesa. Mereka semua menggunakan tutup muka di wajahnya, bahkan ada yang memakai jaket tebal sampai menutupi tangan dan kepala. "Ayah, ayah, aku boleh tambah lagi ya apelnya", anak monyet itu merengek-rengek sambil menggaruk tangan si monyet besar. Monyet besar memetik beberapa buah apel dan memberikan ke monyet kecil, "Kau bagikan ke teman-temanmu yang lain". Monyet kecil melompat-lompat kegirangan. 

Seekor burung Cucak Jenggot terbang rendah dan hinggap di dahan pendek, ia mematuk-matuk buah apel yang masih menggantung di ranting. Beberapa detik kemudian rombongan burung Cucak Jenggot lainnya berhamburan menghampiri pohon apel itu. Warna buah apel yang merah terang sepertinya menarik perhatian burung-burung itu dari kejauhan. Masing-masing burung hinggap di dahan sambil mematuk-matuk buah apel merah. "Aku baru lihat buah apel di sini. Biasanya pohon ini tidak berbuah", cicit salah satu burung. "Kau salah. Pohon apel ini selalu berbuah tetapi entah kemana buah itu. Mungkin manusia yang membawa keranjang di punggungnya yang mengambil semua buah-buah ini". 

Sebuah apel jatuh dan mengenai kepala anak monyet, "Aduh! Siapa yang melempar apel ini, hey!", teriaknya sambal menggaruk-garuk kepala. "Maapkan aku", cicit seekor burung kecil dari atas dahan. Anak monyet itu melihat ke atas, banyak sekali burung-burung di atas pohon itu. "Maapkan aku. Kau tidak apa-apa?", burung kecil itu terbang rendah ke arah anak monyet. "Tidak apa-apa. Hey, aku baru melihatmu sekarang", kata anak monyet itu menyapa burung kecil. "Ya aku tinggal di pohon sana. Ketika hendak terbang, kami melihat ada pohon apel sedang berbuah", cicit burung kecil yang hinggap di pundak monyet. "Aku juga baru melihat pohon ini sekarang. Warnanya sangat merah dan menggiurkan. Kawan-kawanku langsung menyerbu ke pohon ini".

Monyet itu duduk di bawah pohon dengan burung kecil masih di pundaknya, "Ayahku bilang manusia-manusia sudah jarang mncul di sini. Biasanya di sini ramai sekali. Sekarang hanya satu dua saja manusia yang lewat". Burung kecil itu terbang berputar-putar di atas kepala monyet, "Aku tidak tahu itu karena aku selalu terbang di langit. Tapi, kau tahu tidak? Akhir-akhir ini langit berwarna biru dan terang sekali! Angin-angin hitam yang selalu membuat aku batuk-batuk sudah jarang terlihat. Kalau pagi hari aku bisa melihat matahari kuning itu dengan sangat jelas. Lalu, kau tahu tidak? Sekarang kalau aku mencicit semua burung-burung mendengar suaraku, padahal suara cicitanku paling kecil di antara semua. Aku senang sekali!", burung kecil itu terbang rendah dan mengepakkan sayapnya dengan amat cepat. Saking cepatnya hingga menabrak sebuah apel yang secara bersamaan jatuh dari ranting paling rendah. "Aduh!", cicit burung kecil. Anak monyet itu tertawa sampai terjungkal.

"Ayok, bawakan apel itu untuk Ibu. Ia sudah lama menunggu", bapak monyet menghampiri anak monyet itu bersama dengan kawanannya. Anak monyet tergesa-gesa megumpulkan apel yang berhamburan di tanah. "Aku harus segera pulang. Ibuku menunggu", kata anak monyet tergesa-gesa. "Beberapa hari lagi aku akan ke pohon yang di sebelah sana", katanya sambal menunjuk pohon apel yang buahnya masih kecil-kecil, "Sepertinya pohon itu mau berbuah. Aku pergi dulu ya, sampai jumpa", anak monyet itu melambaikan tangannya yang berbulu. 

Seekor burung besar terbang rendah menghampir burung kecil, "Kau sudah kenyang, kan? Kita pulang sekarang, ya". "Iya, Ibu. Aku tadi bertemu teman baru. Seekor monyet". Ibu dan anak burung serta rombongan burung yang lain terbang pulang. "Lihat, Ibu! Mataharinya merah sekali! Aku belum pernah melihat matahari semerah itu. Apakah itu berbahaya, Ibu?", anak burung mencicit penuh ketakutan. Ibu burung hanya tertawa kecil, "Justru itu warna matahari tenggelam yang sebenarnya. Warnanya merah dan keemasan di batas khatulistiwa. Cantik, bukan?". "Aku belum pernah melihat matahari berwarna merah, Ibu. Kenapa baru sekarang ia muncul?", anak burung itu terus bertanya. "Dia muncul setiap hari dengan warna yang sama tapi sebelumnya selalu tertutup dengan angin-angin hitam. Aku tidak tahu apa yang terjadi di bawah sana, tapi kudengar dari kawanan monyet itu bahwa manusia mulai jarang terlihat, mungkin ada hubungannya dengan menghilangnya angin-angin hitam di langit". "Ada apa dengan manusia-manusia itu, Ibu?, "Ibu juga tidak tahu. Mungkin mereka ingin kita terbang bebas jadi gantian mereka yang tinggal di sarang. Sudah sana terbang lebih cepat. Nanti kita ketinggalan rombongan". Kawawan burung itu pun terbang tinggi di tengah matahari yang sebentar lagi tertidur.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x