Mohon tunggu...
MOHAZ
MOHAZ Mohon Tunggu... MOHAZ (MOchammad Hamid AsZhar)

MOHAZ adalah Pembangun Peradaban. Pemimpin bisnis yang berjuang jadi penggerak kemajuan UKM di Indonesa dari sisi Permodalan dan Manajemen. Property and Community Developer. Aktivis pembaharuan dan influencer Green, Healthy, Abundance and Smart Civilization.

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Tujuan Hidup, Masih Perlukah? !

7 Maret 2021   20:20 Diperbarui: 8 Maret 2021   04:37 126 3 0 Mohon Tunggu...

Kita menetapkan tujuan hidup berdasarkan tingkat pemahaman atas informasi dan imajinasi tertentu. Kita merasa bahwa kita telah mencapai titik dimana kita mengetahui segalanya di alam semesta, padahal pemahaman kita sangat terbatas. Dengan pemahaman yang terbatas maka tujuan yang terbentuk juga terbatas. Jika kita bertumbuh dengan cepat, kita akan merevisi tujuan kita sendiri. Satu contoh ketika kita ingin pendapatan Rp 1,2 miliar per tahun. Dan ternyata kita bertumbuh secara sangat cepat jauh di atas Rp 1,2 miliar per tahun maka kita akan merevisi kembali tujuan tersebut. Sebaliknya bila kita menetapkan target pendapatan Rp 1,2 miliar per tahun tidak ada dedikasi mencapainya maka target pendapatan tersebut hanya akan menjadi keinginan muluk-muluk. Kalaupun tujuan tersebut tercapai sesuai target, kegembiraan itu bertahan tidak lama. Penelitian yang dilakukan Phillippe Verduyn dan Saskia Lavrijsen dari University of Leuven, Belgia menunjukkan bahwa durasi kegembiraan itu hanya bertahan 35 jam. Jika tidak mencapai tujuan cenderung akan patah semangat. Terlebih lagi mencapai tujuan hidup belum pasti, namun menua dan mati suatu hari nanti itu pasti.

Apakah masih diperlukan tujuan hidup dengan semua derivatifnya seperti cita-cita, impian, visi, misi, target dan sebagainya?

Seringkali kita menyukai adanya tujuan hidup karena itu memberi rasa tertentu. Kita mencari tujuan hidup sebagai percikan struktur psikologi yang kita atur sendiri. Struktur psikologi berfungsi berdasarkan tingkat pemahaman atas informasi dan imajinasi terbatas yang kita kumpulkan. Fakta sebenarnya banyak hal dalam hidup ini yang tidak kita ketahui. Jika kita hidup 1000 tahun pun masih tidak akan tahu sepenuhnya hidup ini secara keseluruhan. Kita merasa bila mempunyai tujuan akan terhubung dengan kehidupan, padahal tidak. Jika kita memiliki tujuan hidup dan sudah memenuhinya, setelah itu apa yang kita lakukan? Puas sebentar setelah itu bosan. Kita mencoba cari-cari kembali tujuan hidup baru. Tujuan hidup akan terus berganti-ganti sesuai dengan informasi dan imajinasi kita yang berkembang seiring berjalannya waktu dan kondisi yang ada. Begitu seterusnya seperti tiada habisnya. Ini yang disebut psychological trap. Proses pikiran dan emosi seringkali jauh lebih penting dari proses hidup itu sendiri, padahal sejatinya proses hidup itu sendiri yang lebih penting. Kita jadi tidak bisa langsung menikmati hidup here and now, di sini dan sekarang juga.

Tujuan hidup juga sering membuat seseorang sombong dan gila. Berpikir bahwa telah melakukan hal yang paling fantastis. Struktur psikologi manusia selalu menginginkan suatu tujuan, bahkan seringkali bukan tujuan yang sederhana namun tujuan yang diklaim mulia berasal dari negara atau Tuhan. Seringkali orang-orang yang memiliki tujuan seperti ini melakukan hal-hal kejam dan mengerikan di bumi ini, seperti tega membunuh makhluk lain atau membunuh diri sendiri yang tidak perlu atas nama negara atau Tuhan. Mengapa hal ini terjadi? Karena begitu memiliki tujuan hidup yang diklaim berasal dari negara atau Tuhan, kehidupan di sini dan sekarang ini menjadi kurang penting dibanding tujuan tersebut. Ini adalah psychological trap selanjutnya.

Jadi tujuan hidup sebenarnya tidak diperlukan. Langsung saja menikmati hidup here and now, di sini dan sekarang juga. Langsung mengabdi kepada prosesnya. Jim Collins dan team risetnya juga menyampaikan bahwa untuk membangun perusahaan yang great, tujuan perusahaan seperti visi, misi, target tidak terlalu diperlukan. Yang diutamakan justru pembentukan team dan karakter yang humble dan disiplin.  Mengacu pada intrinsic motivation yang disampaikan Deci, E. L., & Ryan, R. M bahwa ada 3 hal yang berpengaruh terhadap intrinsic motivation yakni devotion, mastery dan autonomy. Maka hanya mereka yang mengabdi total pada apa yang mereka lakukan sesuai kemampuan terbaiknya, yang akan melakukan hal-hal berarti dalam kehidupan. Jika kita memiliki pengabdian total kepada apa yang kita kerjakan sekarang tergantung waktu dan kesempatan yang ada kita akan pergi sejauh kita pergi. Namun kita sering dilatih seperti monyet sirkus. Pawang harus memberinya iming-iming pisang agar monyet melakukan atraksi. Kalau tidak diberi pisang monyet sirkus tidak akan melakukan atraksi. Apakah kita manusia serendah itu? Yang diperlukan sebenarnya bukan tujuan hidup. Yang diperlukan adalah pengabdian. Pengabdian tidak hanya sekedar pergi ke rumah ibadah. Dalam bidang apapun memerlukan pengabdian. (QS 51 : 56) Tidak ada orang mengalami pencapaian tertentu yang tidak memiliki pengabdian terhadap apa yang dilakukan. Prof. Angela Duckworth menyebutnya “grit”. Perpaduan khusus antara hasrat dan ketekunan dan merupakan kunci semua pencapaian atau prestasi.

Tujuan hidup adalah untuk hidup itu sendiri. Seberapa indah, berarti dan mendalam atas hidup yang kita jalani. Hidup secara indah, berarti dan mendalam artinya sebelum kita mati, diri kita melampaui tubuh dengan segala pernik-pernik dunia fisik fana yang kita kumpulkan. Melampaui pemikiran dan akumulasi berjuta memori yang kita kumpulkan. Jiwa kita naik di level energi tinggi yang penuh dengan keikhlasan, gratitude, keberlimpahan, cinta, sukacita, keseimbangan, kedamaian dan pencerahan. Surga itu di sini sekarang ! Bila kita tidak bisa merasakan kenikmatan dan kebahagiaan sekarang di dunia, sungguh akan sulit merasakan kenikmatan dan kebahagiaan di alam berdimensi lebih tinggi di akhirat. (QS 3 : 102) Bila kita mengunjungi orang-orang jompo dan tua, apa yang telah mereka dapatkan setelah sekian puluh tahun menjalani hidup ini? Nothing ! Kecuali seberapa indah, berarti dan mendalam menjalani hidup. Berdasarkan riset John Izzo Ph.D pada tahun 2008 terhadap 1500 responden usia 60 tahun keatas dan 235 sampel di Amerika dan Kanada, menyampaikan bahwa seberapa indah, berarti dan mendalam menjalani hidup itu dicapai ketika menjalani hidup dengan jujur, tidak menyia-nyiakan hidup, hidup dengan cinta, menikmati hidup setiap saat dan banyak berbagi. 

Referensi :

Ibn Katsir, Ismail  (774 H) "Tafsir Alquran al-Adziim", Dar Alamiah (QS 51 : 56) (QS 3 : 102)

Deci, E. L., & Ryan, R. M. Intrinsic Motivation and Self-Determination in Human Behavior. New York, NY: Plenum. 1985.

Collins, Jim. Good to Great: Why Some Companies Make the Leap and Others Don't, Harper Business; 1st edition (July 19, 2011)

Deci, E. L., & Ryan, R. M. The “What” and “Why” of Goal Pursuits: Human Needs and the Self-Determination of Behavior. Psychological Inquiry, 11, 227-268. 2000.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN