Mohon tunggu...
Mohammad Syarrafah
Mohammad Syarrafah Mohon Tunggu... Penulis

Pernah belajar di TEMPO memungut serpihan informasi di jalanan. Bisa dihubungi di email: syarraf@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Menelaah Kepentingan Gerindra di Balik Syarat Rekonsiliasi Pemulangan Rizieq

11 Juli 2019   14:34 Diperbarui: 11 Juli 2019   14:49 0 1 0 Mohon Tunggu...
Menelaah Kepentingan Gerindra di Balik Syarat Rekonsiliasi Pemulangan Rizieq
Rizieq dan Prabowo/by keepo.me

Satu per satu kotak Pandora kubu Prabowo mulai terbuka. Di tengah alotnya rekonsiliasi usai Pilpres, ternyata Kubu Prabowo mengajukan sebuah syarat yang sangat mengejutkan dan serasa aneh.

Syarat itu adalah pemulangan pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab dan pembebasan pendukungnya yang ditahan kepolisian.

Pihak Jokowi atau istana pun menanggapinya dengan santai. Sebab, kepergian Rizieq ke ke Arab Saudi atas kemauan sendiri untuk ibadah umrah, sehingga dinilai tidak ada hubungannya dengan negara.

Drama itu pun terus berlanjut, dan kubu Prabowo semakin ngotot untuk memulangkan Rizieq. Ternyata, kepulangan Rizieq ke Indonesia itu terkendala visa dan izin tinggal yang sudah kadaluarsa. Dia dinyatakan overstay sejak 21 Juli 2018.

Pertanyaannya kemudian, kenapa Gerindra sangat ngotot ingin memulangkan Rizieq ke Indonesia? Ada apakah gerangan?

Rasa penasaran itu akhirnya dijawab oleh anggota Badan Komunikasi Partai Gerindra Andre Rosiade. Ia menjelaskan bahwa pemulangan pentolan FPI itu terkait dengan janji Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dalam Ijtimak Ulama' II.

"Bagaimanapun Pak Prabowo punya janji di Ijtimak Ulama II, bahwa beliau ingin ajak Rizieq pulang. Kalau memang ada kesempatan negara ini guyub lagi, kalau Pak Habib Rizieq mau dipulangkan, ya kenapa tidak gitu?" kata Andre. (CNNIndonesia.com)

Ijtimak Ulama II itu digagas oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF). Gerakan ini menjadi pendukung utama Prabowo-Sandi dalam Pilpres 2019.

Pada saat ijtimak ulama itu, Prabowo menandatangani 17 poin pakta integritas yang salah satu poinnya adalah tentang pemulangan Rizieq dan pemberian keadilan kepada tokoh-tokoh 212 yang diproses hukum jika terpilih jadi Presiden.

"Siap menggunakan hak konstitusional dan atributif yang melekat pada jabatan Presiden untuk melakukan proses rehabilitasi, menjamin kepulangan, serta memulihkan hak-hak Habib Rizieq Shihab sebagai warga negara Indonesia, serta memberikan keadilan kepada para ulama, aktivis 411, 212, dan 313 yang pernah/sedang mengalami proses kriminalisasi melalui tuduhan tindakan maka yang pernah disangkakan Penegakan keadilan juga perlu dilakukan terhadap tokoh-tokoh lain yang mengalami penzaliman," tertulis dalam poin 16 pakta integritas itu.

Atas dasar itulah, kubu Prabowo merasa mempunyai tanggungjawab moral untuk mengembalikan Rozieq. Meskipun sebenarnya, syarat itu sudah gugur dengan sendirinya ketika Prabowo-Sandi tumbang dari pasangan Jokowi-Ma'ruf.

Membaca Hidden Agenda Gerindra
Mungkin, perasaan tanggungjawab moral itulah yang hanya tampak di permukaan. Namun, saya kira ada hidden agenda di balik ini semua hingga Gerindra terus ngotot ingin memulangkan Rizieq.

Direktur Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Sirojuddin Abbas mengatakan syarat pemulangan Rizieq hanya retorika dari Gerindra untuk menghibur kelompok pendukungnya yang berasal dari Alumni 212 dan FPI.

"Retorika saja, retorika untuk meng-entertain kelompok 212 dan FPI supaya Gerindra dianggap sebagai pembela mereka. Jika itu terjadi maka kelihatannya Gerindra berharap mereka mendapat poin politik dari kelompok 212 dan FPI itu," kata Abbas. (CNNIndonesia.com)

Abbas juga menjelaskan pengajuan syarat ini tidak terlepas dari upaya Gerindra menjaga basis massa dari kelompok Islam, khususnya para pendukung Rizieq yang tergabung dalam kelompok Alumni 212 dan FPI.

Dalam hal ini, Gerindra tidak ingin kehilangan pendukungnya yang cukup besar dari pengikut Rizieq. Karena bagaimana pun juga, Rizieq masih sangat banyak pengikutnya, terutama Alumni 212 dan FPI.

Jika berpikir lebih jauh ke depan, tentu Gerindra akan memelihara kesolidan pencinta Rizieq ini, sehingga gerakan ini bisa dimanfaatkan lagi di masa mendatang, terutama dalam pesta demokrasi Pilpres 2024.

Konklusinya adalah melalui pemulangan Rizieq ini, Gerindra bisa mencapai dua tujuan sekaligus. Pertama, bisa menuntaskan tanggungjawab moralnya kepada Rizieq dan pendukungnya.

Meskipun pemulangan ini tidak berhasil, minimal Gerindra sudah memberikan perhatian kepada Rizieq dan pendukungnya, sehingga tetap merasa diperhatikan dan senang.

Kedua, berhasil atau tidak pemulangan ini, karena pendukung Rizieq sudah merasa diperhatikan dan sudah senang dengan Gerindra, maka Gerindra akan sangat mudah mengakomodasi dan "menyetir" gerakan ini, sehingga bisa dimanfaatkan pada setiap pemilu, baik pemilihan Gubernur DKI maupun Pilpres 2024 mendatang.

Akhirnya, mari kita nikmati saja fenomena politik di Republik ini. Salam.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x