Mohon tunggu...
Mohammad farid
Mohammad farid Mohon Tunggu... Dengan membaca dan menulis kita dapat berada ditempat yang belum pernah kita injak.

Lawyer (Advokat/Pengacara/Penasehat Hukum) Wannabe || aku tak seperti aku yang dirimu lihat || bin Andi bin Ramli bin Yacoeb.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Ketika Gelar Sarjana Sekadar "Prestise" di Undangan Pernikahan

24 Mei 2019   23:10 Diperbarui: 25 Mei 2019   04:50 0 17 5 Mohon Tunggu...
Ketika Gelar Sarjana Sekadar "Prestise" di Undangan Pernikahan
Ilustrasi:artophilia.com 

Saya yang pernah/hampir/sedang/akan menjadi Tokoh Utama dalam tulisan ini.

Bersorak seorang manusia kepada langit beserta isinya sembari menengadahkan kepala 3 bulan setelah memanjakan diri pasca di-Wisuda oleh Pimpinan Fakultasnya berbarengan dengan Ratusan Wisudawan/ti lainnya "Wahai Penguasa langit dan bumi mengapa Engkau jadikan nasibku seperti ini?"

Namun hingga detik ini tetap tak ada yang menarik dari hidupnya (menurut diri dia sendiri) dan sipemilik sorak tersebut tetap menganggap dirinya adalah seorang Sarjana Hukum yang masih sepele diantara teman-teman sebayanya.

Meski hal ini sangat tidak penting untuk dijelaskan namun engkau wajib menyadari bahwa dirimu bukanlah manusia yang seperti dikatakan oleh motivator-motivator dari tingkat lokal hingga dunia yakni "kau adalah istimewa sebab setiap manusia yang ada dimuka bumi ini lahir teruntuk menjadi istimewa". 

Kubantah logika berpikir ini sembari berbisik "kau jangan terlalu pragmatis melihat dunia". Kenapa begitu? Karena jika setiap Manusia itu lahir untuk menjadi Istimewa "Lantas sesungguhnya siapa yang Istimewa diatas Bumi ini?"

Jika kita bertanya, siapa yang Istimewa di bumi ini? Maka dengan sederhana aku menjawab ialah manusia-manusia yang tidak meminta pertanggungjawaban Penguasa Semesta kepadanya atas apa yang telah dialami sekarang, dalam Agamaku (lain menyesuaikan) manusia bertugas bahkan berkewajiban meminta hanya kepada Tuhan.

Dan meminta/berharap saja sedikit kepada selain Tuhan itu sudah termasuk dalam golongan Dosa Besar, artinya kita hidup bukan untuk menuntut Tuhan memberikan apa yang telah dijanjikan-Nya. Didalam Kitab yang kupercayai serta mutlak kebenarannya yakni Al-Quran didalam Q.S. 13 [11] Allah Azza wa Jalla Berfirman;

"Baginya (manusia) ada malaikat- yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia."

Yang harus menjadi perhatian dari Surah diatas ialah, bahwa keistimewaan diri bukanlah semata-mata didapat karena kepercayaan garis tangan dan sejenisnya namun melainkan Usaha, Kerja Keras, Konsistensi, serta yang terutama Doa itulah hal-hal yang dapat menghantarkan kita kepada jenjang Keistimewaan.

Saya bangga menjadi Seorang/Kandidat Sarjana Hukum.

Lalu mengapa aku merasa tertegun melihat teman-teman sebayaku lebih dulu merasakan nikmatnya sibuk dibandingkan diri ini yang masih merasa menjadi "Manusia yang tak Berguna" di setiap bangun dari ranjang tempat tidurku. 

Nikmatilah selagi situasi itu masih menemani hingga situasi tersebut membenci dan pergi untuk meninggalkanmu bersama Keistimewaan yang telah menunggu lama serta rindu untuk mengisi hari-harimu.

Perlu kita ingat serta pahami sesungguhnya jangan pernah sekalipun menentukan masa depan dengan menjadikan awal karier dari orang lain sebagai tolok ukur diri kita, sebab persepsimu salah besar karena apa yang kau lihat itu belum tentu sebagai masa depan yang diidam-idamkan oleh orang tersebut, dan jika kau ingin "kesibukan" merenunglah sebab Kesibukan bukanlah arti dari sebuah Kesuksesan ataupun Keistimewaan rubahlah Perspektifmu dalam melihat isi dunia yang sesungguhnya.

Ada dua adagium yang selalu kuingat sampai detik ini dari beberapa seniorku di kampus dan di LSM tempat kupernah belajar banyak tentang arti kehidupan yakni:

1. Jika ada hal yang ingin kau pertanyakan atau sebuah narasi pernyataan janganlah pernah berbicara di punggung teman, berbicaralah di depan dengan akar konsep berpikir yang rasional.

2. Jika kau ingin hidup tenang berbicaralah seperlunya kuping kau diberi dua, corong kau satu itu semua guna agar kau terbiasa mendengarkan dengan seksama setelah itu berbicaralah dengan rasional dan hati-hati.

Selain dari berbagai macam antologi, konsep-konsep berpikir seperti diatas juga selalu menjadi subbagian alat hingga untuk mencapai tujuan hidupku nanti serta untuk tetap menjalani kehidupan sekarang dengan berbagai macam tempat, situasi, dan manusia-manusia yang silih berganti untuk melengkapi perjalanan hidupku. Bukan maksud menggurui teman-teman semua namun setiap manusia mempunyai pengalaman berbeda-beda dalam rel orientasi diri hingga kelak teori-teori tersebut dapat diimplementasikan secara manfaat pada kehidupan bermasyarakat.

Hari ini adalah dimana kau berusaha untuk memahami isi narasi ini, mungkin sulit untuk berdialektika dengan apa yang kau baca sekarang karena aku bukanlah seorang Jurnalis maupun Penulis ulung sehingga dapat menyajikan narasi-narasi yang terstruktur dan sistematis.

Untukmu tetaplah bersemangat dan bangga telah menjadi Sarjana Hukum hingga nanti sebuah tanggung jawab besar wajib terselesaikan oleh keahlianmu dan bagi teman-teman yang masih berjuang mendapatkan gelar tersebut.

Tetap semangat untuk menghadapi berbagai macam dinamikanya hingga gelar tersebut sempurna bertengger di pundakmu demi kelak dapat menjalankan amanah dengan baik sebagai Akademisi dan atau Praktisi tanpa melupakan nilai-nilai dari visi Tri Dharma Perguruan Tinggi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2