Mohon tunggu...
Qomarul Huda
Qomarul Huda Mohon Tunggu... Guru - Bapak satu anak

Masih belajar dunia tulis menulis

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Membela Guru

25 November 2021   16:45 Diperbarui: 25 November 2021   16:58 181 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Guru sedang mengikuti upacara HGN (sumber foto: Tim IT MAN 2 Rembang)

Syahdan, ketika itu Jepang terlibat dalam pertempuran di akhir Perang Dunia 2. Pasukan udara Amerika Serikat menjatuhkan bom atom dengan kekuatan dahsyat di dua kota penting di Jepang saat itu, Hiroshima dan Nagasaki sebagai balasan serangan tentara Jepang terhadap pangkalan militer AS di Pearl Harbour Hawaii.

Luluh lantaknya kedua kota tersebut membuat Jepang terguncang hebat. Kaisar Jepang saat itu, Hirohito tampaknya sudah menyadari bahwa kekalahan telah berada di depan mata. Ia mengumpulkan para jenderal dan menanyakan "berapa guru yang masih hidup?". Ini membuat para Jenderal kaget karena mengira kaisar akan menanyakan kondisi militer.

Sang kaisar menjelaskan bahwa Jepang telah kalah dan tidak akan bisa bangkita dan mengejar ketertinggalannya jika tidak belajar. Maka kemudian disinyalir ada sekitar 45.000 guru yang masih tersisa.

Kepada para guru ini mereka bertumpu karena menjadi ujung tombak kebangkitan Jepang setelah porak poranda akibat Perang Dunia 2. Karena mereka telah menyadari akan sia-sia jika melanjutkan perang dengan kondisi militer yang seperti itu.

Dari cerita di atas kita bisa mengambil pelajaran berharga bahwa guru mempunyai peran besar dalam peradaban sebuah negara. Kita lihat sendiri bagaimana Jepang bisa bangkit dengan begitu cepat dan menjadi kekuatan ekonomi dunia.

Tidak pelak lagi guru merupakan profesi yang mulia. Ia punya tempat tersendiri dalam masyarakat dan lebih berwibawa. Saya ingat almarhum bapak saya waktu saya kecil merupakan satu-satunya orang di kampung saya yang menjadi guru sekolah. Hingga masyarakat sekitar terbiasa memanggil dengan sebutan Pak Guru bahkan sampai beliau pensiun.

Profesi guru saat ini masih masih menjadi primadona dan terus eksis seiring dengan berbagai problematika yang menyertainya. Misalnya bisa kita sebut masalah pemerataan. Persebaran guru di Indonesia dianggap masih belum merata. Masih kekurangan guru di luar pulau Jawa terutama daerah yang masuk 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Hal ini mengakibatkan terjadinya kesenjangan dalam distribusi pemerataan guru.

Dengan adanya kesenjangan ini bisa jadi kualitas pendidikan antar daerah juga bisa njomplang. Ini memungkinkan terjadi karena sarana prasarana juga masih banyak yang belum memadai dan tertinggal.

Kesejahteraan menjadi masalah klasik yang dihadapi para guru khususnya guru honorer. Masih banyak kisah kisah guru honorer yang mendapat gaji jauh dari kata layak walau sudah mengabdi cukup lama. Maka tidak heran jika banyak guru non PNS mencari penghasilan sambilan agar asap dapur bisa terus mengepul.

Pihak pemerintah sudah berupaya maksimal agar para guru honorer dan swasta bisa mendapatkan penghasilan tambahan misal bantuan dari pemerintah daerah, pemberian Bantuan Subsidi Upah (BSU), inpassing, sampai program sertifikasi guru. 

Di setiap penerimaan CPNS, formasi guru selalu mendapat perhatian karena terhitung banyak formasinya. Namun mulai tahun ini pemerintah tidak membuka lagi formasi guru di cpns dan dialihkan menjadi PPPK.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan