Mohon tunggu...
Moh. Nazmudin
Moh. Nazmudin Mohon Tunggu... pelajar/mahasiswa -

Sedikit skeptik. Ya, saya suka baca. Dan tak jarang menantang diri sendiri untuk melakukan sesuatu dan menantang diri dalam memahami sebuah konsep hidup, alur hidup, pemahaman umum-khusus dan cara berfikir dan bertindak baik yang sama, sedikit sama atau berbeda sama sekali.

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Label: Salah Satu Tulisan Randomku

19 September 2013   22:00 Diperbarui: 24 Juni 2015   07:39 64
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Lahir sebagai anak terahir di sebuah keluarga.

Ayah berpulang sebelum genap usiaku sembilan tahun.

menjadi tradisi di keluarga bahwa memasuki remaja, seorang anak harus mengikuti pendidikan yang di sediakan di sebuah pesantren. Menghabiskan masa kecil di rumah bersama ibu dan beberapa kakak yang telah menyelesaikan pendidikan di pesantren. Dan sialnya jarak antara kakak yang ada di rumah dan saya sangat jauh. Kebiasaan dan kegiatan kami pastilah berbeda.

mendapai artikel seru mengenai kedekatan teman. Antar teman lelaki yang ada di laman ini http://www.artofmanliness.com/2012/07/29/bosom-buddies-a-photo-history-of-male-affection/ saya ikut menyimak.

Dan kemudian mata ini menangkap sebuah komentar yang cukup tajam, yaitu:

"In reading this article it just really made me think about how stupid people are in trying to classify everything and give it a label and look for hidden meaning in everything. I feel sorry for guys who don’t get to experience the warmth and familiarity I have with my mates, because I know for a fact that my world would be a pretty cold and unexciting place without them in it."

Saya ingin mengatakan bahwa, saya yang cukup banyak menghabiskan waktu sendiri, bahkan lebih sendiri daripda seorang janda kesepian atau duda kesepian yang ditinggal pasangan dalam waktu yang telah lama dan masih belum bisa move on, merasa bahwa.. benar sekali artikel tersebut sangat berlebihan dalam melabeli sesuatu.

Perlukah kita melabeli semua hal?

Mengingat percakpanku bersama seorang teman mengenai pedidikan dan pelabelan, dan didukung tulisan Edward deBono dalam bukunya Think Before It Is Too Late, merasa dalam kubu yang sama, bahwa selama ini manusia memang masih sebatas "melabeli" sesuatu yang ada di semesta.

Jika kita mempelajari psikologi, sebenarnya ini tentang label, bukan?

Dan mempelajari tentang ilmu politik juga?

Ah entahlah, saya hanya sekedar sok tahu dalam hal ini...

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Catatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun