Mohon tunggu...
Mochamad Syafei
Mochamad Syafei Mohon Tunggu... Guru - Menerobos Masa Depan

Kepala SMP Negeri 52 Jakarta. Pengagum Gus Dur, Syafii Maarif, dan Mustofa Bisri. Penerima Adi Karya IKAPI tahun 2000 untuk buku novel anaknya yang berjudul "Bukan Sekadar Basa Basi".

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Pelajaran Sejarah dan Beban Kurikulum yang Berat

19 September 2020   05:43 Diperbarui: 19 September 2020   05:44 363
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Isu penghapusan mata pelajaran sejarah sebagai pelajaran wajib di SMA terus bergulir. Bahkan petisi di Change.org yang meminta Presiden Jokowi mengembalikan pelajaran Sejarah sebagai pelajaran wajib sudah ada dan sudah ditandatangani 9 ribu lebih orang. 

Keluhan yang sudah berpuluh-puluh tahun tapi tak pernah selesai adalah mengenai beban kurikulum yang terlalu berat. Beban kurikulum yang berat ini terutama terjadi di sekolah dasar, SMP, dan SMA. 

Bahkan sering muncul karikatur anak SD yang keberatan membawa buku buku pelajaran ke sekolah nya. Bahkan kenapa orang Indonesia pendek juga disebabkan karena beban tas yang melebihi kemampuan punggung nya untuk membawa buku ke sekolah. 

Hasrat setiap ahli bidang tertentu yang selalu menganggap bidang keahlian sangat penting memang wajar. Bukan masalah sama sekali. Menjadi masalah ketika hampir semua ahli bidang tertentu berlomba lomba memasukan bidang keahliannya ke dalam kurikulum. 

Sehingga kurikulum menjadi terlalu gemuk. Sehingga kurikulum sangat membebani peserta didik. Sehingga peserta didik kehilangan kebutuhan dirinya sendiri. 

Mungkin generasi kolonial masih ingat ketika sekolah dulu disuruh menghafal nama nama menteri kabinet.  Mungkin juga masih ingat ketika disuruh menghafal nama nama gubernur di seluruh provinsi yang ada di Indonesia. 

Apa pentingnya penghafalan nama nama itu jika bukan sampah otak saja. Otak anak negeri ini dipakai untuk menumpuk sampah. 

Keluhan beban kurikulum yang berat bukannya menjadikan kurikulum semakin ringan. Alih alih dikurangi. Hampir pada setiap pergantian kurikulum selalu tambahan beban. Setiap pergantian kurikulum selalu muncul desakan dari berbagai macam pihak. Dan akhirnya, kurikulum semakin gendut saja. 

Dan derita anak anak semakin menyedihkan. 

Padahal kurikulum 13 saja bisa disederhanakan.  Kurikulum darurat covid dapat menjadi contoh bahwa materi tertentu dapat dihilangkan.  Dan memang tidak terlalu penting. Bahkan pengulangan sebuah materi masih banyak terjadi. Materi A, ada di kurikulum SD, kemudian muncul pula di SMP, dan muncul lagi di SMA. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun