Mochamad Syafei
Mochamad Syafei Guru

Guru SMP Negeri 135 Jakarta. Pengagum Gus Dur, Syafii Maarif, dan Mustofa Bisri. Penerima Adi Karya IKAPI tahun 2000 untuk buku novel anaknya yang berjudul "Bukan Sekadar Basa Basi".

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Kacamata Mbah Sapto

8 November 2018   09:03 Diperbarui: 8 November 2018   09:10 180 3 1

Laki laki tua itu tinggal sendiri.  Karena laki laki tua itu rajin, rumahnya selalu terlihat rapi dan bersih.  Siapa yang lewat depan rumah Mbah Sapto pasti akan berdecak kagum melihat tingkat kebersihan dan kerapian rumah itu yang di atas rata rata.

Kerja Mbah Sapto setiap hari nyaris sama.  Mirip video yang diputar ulang untuk dilihat setiap hari.  Kalau kemarin atau kemarin nya atau kemarin nya lagi, kamu ngelihat jam segitu Mbah Sapto sedang menyiram bunga, maka sudah dapat dipastikan pada hari ini atau besok pagi, kamu akan melihat adegan yang sama tepat pada saat jam yang sama.

Hidup Pak Sapto dibiayai dari uang pensiunnya.  Tak banyak, tapi cukup untuk hidup laki laki tua yang dari kecil sudah terbiasa hidup sederhana.

Selama menjadi PNS, Mbah Sapto terkenal dengan kelurusan sikap hidupnya.  Wajar, kalau jabatannya tak naik naik.  Kalau kamu lahir di atas tahun 2000, mungkin agak susah memahami hidup di bawah rezim otoriter Suharto.  Tak apa lah

Hanya saja, kalau kamu sedikit jeli, ada perubahan sedikit dalam hidup laki laki tua itu. Lagi lagi, kalau jeli.  

Mbah Sapto suka agak lama memperhatikan seseorang.  Seperti sedang berupaya mengenali orang yang ada di depannya.  Sampai terlihat matanya yang "nyureng".

Kenapa itu terjadi?

Mbah Sapto pernah cerita kalau kacamatanya mulai bermasalah.  Kacamatanya seperti sedang melakukan pembangkangan terselubung.  Dan Mbah Sapto sangat yakin dengan keyakinan ini.

Kalau kamu perhatikan, kacamata yang sekarang oleh Mbah Sapto memang bukan kacamata yang biasa.  Sekarang Mbah Sapto memakai kacamata baru.

Kacamata lama Mbah Sapto kemarin dibanting dan diinjak injak.  Mbah Sapto sendiri pelakunya.  Mbah Sapto merasa kalau kacamatanya sudah keterlaluan.  Harga diri Mbah Sapto diinjak injak.  Maka Mbah Sapto langsung melakukan pembalasan.  Kacamata yang selalu diletakkan dengan rapi di atas lemari kecil itu dibanting, kemudian dinjak injak menjadi kepingan kepingan kecil.

Dan setelah melakukan itu semua, Mbah Sapto terlihat lega.  Terlihat benar seperti orang yang baru saja meletakkan beban berat di pundaknya.  Ada perpaduan rasa syukur dan rasa gembira yang tak terkira.

Sebetulnya, Mbah Sapto menginjak injak kacamata sambil mengumpat nya.  Umpatan yang sudah lama sekali dibuang dalam kehidupan nya selama ini.

Kalau kamu melihat rumah Mbah Sapto, kini, kamu akan mengganti perasaan decak kagum dengan perasaan sedih teriris. Karena Mbah Sapto sering sedang menangis di depan pintu rumahnya.

Tentu sambil memegangi kacamata.  Tangan sebelah kiri memegangi kacamata baru.  Dan tangan sebelah kanan memegangi kacamata lama.

Mukanya mengingatkan wajahku sendiri kelak kalau sudah tua.  Apa iya?