Mohon tunggu...
M Iqbal M
M Iqbal M Mohon Tunggu... Active Art Consciousness, Writter, and Design Illustrator.

Aktif bermanifesto, bermalas-malasan, dan memecahkan misteri. Selebihnya, seorang pendamba pembebasan utopia hitam dan ketiadaan, tanpa awalan dan akhiran. Kontak saya di Twitter @into_the_wisdom.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Pertapa yang Menanggalkan Dirinya untuk Berjalan di Antara Kerumun Abad 21

26 November 2020   10:41 Diperbarui: 24 Desember 2020   09:28 89 5 0 Mohon Tunggu...

Oleh: M.Iqbal.M

Manusia dituntut untuk menyesuaikan diri terhadap sesuatu yang bukan berciri kemanusiaan. Kita semua dikutuk untuk menjadi manusia yang terjebak pada tradisi rutinitas re-generasi spesies manusia yang membosankan. 

Kita dipaksa untuk beradaptasi dengan dekadensi ketidakberdayaan. Kita disiksa oleh peralatan kita sendiri yang bernama logika kecemasan dan ketakutan terhadap keberlangsungan hasrat masa depan. Sebaliknya, peralatan yang tidak logis pun juga turut ambil bagian untuk menyiksa diri kita.

Itulah sebabnya mengapa hasrat kesenangan dapat ditemukan pada lingkaran-lingkaran tradisi zona kenyamanan yang sukar ditinggalkan oleh kerumunan yang tidak pernah ada habisnya. 

Sebaliknya, kebijaksanaan ditemukan pada sudut-sudut penderitaan yang terbatas. Dan seringkali hanya orang yang peka terhadap kedalaman sajalah yang dapat merasakan penderitaan. Itulah penderitaan sesungguhnya, yang tidak datang dari bawah atau atas, melainkan dari campur-aduk kepekaan rasa yang bisa muncul pada keduanya. 

Katakanlah sebuah proyek permainan antara kedua wujud remeh-temeh yang dari dulu sampai sekarang tidak kunjung dapat kita--spesies manusia--pahami.

Apakah anda tidak percaya ?. Coba lihat saja, sudah seberapa juta banyaknya berbagai macam fenomena yang terekam dalam sejarah, yang menunjukan bahwa siapapun yang mencoba keluar dari dekadensi dan berupaya menemukan jalan askendensi.

Pada akhirnya hanya akan berjumpa dengan kebuntuan-kebuntuan yang akan menambah siksa untuk diri sendiri. Itulah sebuah rekaman tentang kedirian yang menjejaki peradaban yang sejak awal tercipta telah membawa garis pesakitan yang tinggal menunggu jatuhnya butir terakhir pada jam pasir yang membuat tubuh kita semua mulai membusuk disaat yang bersamaan. Apalagi di dalam dramatisir-dramatisir peradaban abad 21 ini.

Meski begitu, tetap ada saja seorang yang bertapa. Dan tentu saja seorang pertapa dapat menahan pesakitan sekaligus ketersiksaan sembari terus melanjutkan hidup di dalam kubangan. 

Lantas bagaimana dengan nasib seorang pertapa yang sudah muak terhadap kubangan dan lebih menyukai perjalanan? Teramat jelas bahwa seorang seperti itu tidak boleh menuju kebuntuan, lantaran ia memilih untuk tetap berjalan di tepi jurang meski ia harus rela bernegosiasi pada kebijaksanaannya.

Sebab jika telapak kakinya masih menapak di bumi yang sama dengan para kerumun, maka secara otomatis ia termasuk inheren dengannya, sehingga secara otomatis pula mengkaburkan jarak antara kategori tindakan baik dan buruk, atau salah dan benar. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN