Muhammad Natsir Tahar
Muhammad Natsir Tahar profesional

Muhammad Natsir Tahar menuduh dirinya sebagai seorang Writerpreneur. Sejak meninggalkan newsroom, ia terlibat dalam penulisan puluhan buku bersama Batam Link Publisher dan Focus Publishing Intermedia. Ia juga menjadi editor beberapa buku biografi, sejarah, wisata, dan buku motivasi (success story). Pernah aktif sebagai Kolumnis di Harian Batam Pos, Tanjungpinang Pos dan sejumlah tabloid. Bersama Focus Publishing Intermedia, ia berperan sebagai Publishing Director merangkap Copywriter dan Copy-editing sejumlah produk: buku, majalah, company profiles, project proposal, Annual Report, website contents, dll.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Artikel Utama

Ramadan, Antara Humanisme Religi Vs Sekuler

9 Juni 2018   13:06 Diperbarui: 12 Juni 2018   14:30 1698 0 1
Ramadan, Antara Humanisme Religi Vs Sekuler
Ilustrasi: www.pritikin.com

Ramadan dapat menjadi satu etape antara hedonistik menuju transenden. Ramadan memerangkap ruang dan waktu untuk menihilkan logika-logika sekuler yang membatasi ego manusia dengan Tuhannya. Sehingga untuk melewati fase ini, Allah hanya memanggil orang-orang beriman, tidak cukup hanya label Islam.

Di luar teologis, salah satu aliran filsafat yang dapat didekatkan dengan Ramadan adalah humanisme.

Ia telah menjadi doktrin beretika yang cakupannya diperluas melebihi batas etnis atau identitas tertentu. Humanisme dalam Islam dapat dipanggil sebagai hablumminannas yang diikat oleh dogma muamalah.

Di sini humanisme mengalami kontradiksi antara religi dan sekuler.

Ketika kita sebagai umat post modernis dipeluk sangat ketat oleh dalil-dalil humanisme sekuler yang ditandai oleh globalisme, teknologi dan jatuhnya kekuasaan agama, maka Ramadan hadir meluruskan bahkan menihilkan.

Bila di luar Ramadan hubungan sosial kita kerap memenuhi unsur transaksional dalam kawah besar kapitalisme dan politis, maka Ramadan akan membakar logika yang dibangun oleh filsafat umum. 

Dalam Ramadan, seorang Muslim, misalnya, akan memberi lebih banyak karena adanya pelipatgandaan pahala dan balasan di dunia.

Di tengah momen safari, sedekah dan santunan Ramadan dijadikan siasat selebritas beraroma politis atau narsis. 

Allah memanggil hanya umat yang transenden untuk dapat memasuki zona Ramadan. Panggilan ini bersifat khusus sebab Ramadan adalah sebentuk perlawanan yang keras terhadap sistem eksistensial yang selama ini telah mengatur gerak dan pikir manusia di ujung zaman.

Adalah eksistensialisme yang menjadi tuhan baru kaum hedonis. Sebagai salah satu aliran besar dalam filsafat, khususnya tradisi filsafat barat, ia mempersoalkan eksistensi manusia dan eksistensi itu dihadirkan lewat kebebasan.

Jean-Paul Sartre yang terkenal dengan diktumnya human is condemned to be free atau manusia dikutuk untuk bebas menjadi semacam pikir sesat ketika kebebasan ditaruh di luar aturan Tuhan.

Bagi eksistensialis, kebebasan adalah satu-satunya universalitas manusia, sehingga batasan dari kebebasan dari setiap individu hanyalah kebebasan individu lain.

Maka di dalam zona Ramadan, pikiran kita yang mungkin terhegemoni oleh eksistensi yang dibangun oleh filsafat barat dapat segera dinetralisasi, sebab Ramadan sepenuhnya otoritas Tuhan. Orang berpuasa tidak diberi sedikitpun kebebasan untuk menentukan anasir benar dan salah bagai eksistensialis, kecuali sudah digenggam penuh oleh Allah.

"Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untukKu dan Aku yang akan membalasnya," demikian firman Allah dan hadist Qudsi.

Sehingga dalam Ramadan, dalil filsuf Sartre bahwa eksistensi mendahului esensi dapat dipatahkan di sini. Karena dalam Ramadan - dan memang semestinya dalam iman - bahwa esensi manusialah yang mendahului eksistensinya.

Esensi sendiri adalah landasan dasar manusia yang tak bisa diubah-ubah yang terikat aturan Tuhan, sedang eksistensi adalah pilihan bebas. Bagi manusia bertuhan eksistensinya akan dipandu oleh esensinya sebagai penghamba Tuhan.

Para filsuf yang menganut mazhab eksistensialisme mungkin hanya meletakkan eksistensi pada prinsip fenomonologis yang berdasarkan hanya kepada fenomena yang tertangkap oleh kesadaran pengalaman indera manusia. "Cogito ergo sum:aku berpikir maka aku ada," kata Descartes.

Dengan kata lain, manusia tidak lagi ada ketika mereka berhenti menangkap fenomena untuk memandu eksistensi mereka.

Ramadan telah mengajak seorang Muslim pulang kepada pengembaraan spritualitas yang hakiki. Sadar atau tidak, kita yang saban waktu melakoni diri sebagai makhluk materialis bahkan begitu taklid kepada eksistensialis, Ramadan dapat dijadikan momentum untuk mengenal esensi.

Sebagai makhluk beragama yang melaksanakan ibadah sebatas ritual kosong bahkan narsistik, Ramadan dapat menjadi terminal kontemplatif untuk memperbaiki tujuan-tujuan ibadah.

Ramadan secara universal akan mendatangkan nilai tambah bagi hubungan theosentris kita sebagai hamba Allah dan hubungan antroposentris sesama Muslim dan sesama makhluk. 

***