Mohon tunggu...
Muhammad Natsir Tahar
Muhammad Natsir Tahar Mohon Tunggu... Writerpreneur

Muhammad Natsir Tahar ~ Writerpreneur - penikmat filsafat - hidup di Batam, Indonesia!

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Dalam Logika Terbalik, Ahok dan Rizieq Sama-sama Kecil dan Tak Penting

15 Mei 2017   13:16 Diperbarui: 15 Mei 2017   13:55 3910 9 9 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dalam Logika Terbalik, Ahok dan Rizieq Sama-sama Kecil dan Tak Penting
Ilustrasi: buletinmitsal.com

Bagaimana jika fenomena Ahok dan Rizieq yang telah menghisap perhatian dan energi publik segera ditepikan. Ini hanya masalah kecil, nomor sekian – sekian. Bukan perkara baru, hanyalah pengulangan yang bentuknya berbeda meski lebih masif. Membuat mereka kecil dan tidak penting adalah cara berpikir Logika Terbalik.

Logika bekerja secara silogisme, jika satu atau dua premis menyatakan itu benar, maka segera ditarik konklusi bahwa itu benar, demikian sebaliknya. Manusia secara umum lebih banyak menggunakan logika linguistik: memunculkan premis berdasarkan fakta – fakta ujaran. Logika bukanlah kebenaran, tapi hanyalah alat bantu untuk mencapai kebenaran. Yang memusingkan adalah ketika dua kubu sama – sama mengaku sebagai pelopor kebenaran yang disusun berdasarkan logika sepihak lalu melabel pihak lawan sebagai orang yang salah dan pasti salah.

Jika sudah begini, sampai hari terakhir bumi berputar tidak akan ada titik temu malah justru menumpuk bom waktu. Ada baiknya kita melakukan reframing, yakni membingkai ulang setiap kejadian dengan mengubah sudut pandang. Reframing hampir sama dengan Logika Terbalik. Psikolog mendefinisikan Logika Terbalik untuk menjawab persoalan dengan cara merekayasa akibat dengan mengubah sebab.

Misalnya jika ada yang mengatakan kita bangsa kuli, yang perlu kita lakukan bukanlah merespon balik tudingan tersebut dengan mencari-cari stigma lawan. Tapi temukan sebabnya dan perbaiki sampai tidak ada alasan apapun untuk menyebut kita sebagai bangsa kuli tapi bangsa tuan. Kenapa kita dijajah, kenapa kita digusur, kenapa kita dilihat sebelah mata, kenapa kita tertinggal secara ekonomi, kenapa kita ada di pinggiran, kenapa kita bodoh, semua penyebabnya dibongkar lalu perbaiki sampai tidak ada satu pun cap negatif yang muncul.

Penjajah itu buruk, tapi kaum yang terjajah tidak kalah buruknya, bahkan lebih buruk. Kaum yang terjajah beratus tahun adalah pecundang dalam sejarah. Salahkan diri sendiri, kenapa bangsa sehebat ini bisa dijajah sekian lama? Temukan sebabnya dan perbaiki, agar tak terulang. Neokolonialisme, neoimperialisme itu adalah genre baru dari episode penjajahan panjang yang menimpa bangsa ini. Kita yang lemah, dan orang kuat memanfaatkan kelemahan kita, lalu kita menyalahkan yang kuat.

Alih – alih membongkar logika usang - bahwa yang tertindas adalah yang selalu benar dan wajib dilindungi dalam kaidah humanisme dan norma - baiknya gunakan logika terbalik, perkuat diri sendiri, tiru bangsa Jepang atau Korea Selatan misalnya yang etos kerja dan gairah untuk meningkatkan kualitas diri mereka empat hingga sepuluh kali lipat dari kita. Kalau perlu datangi negeri orang, lalu kita yang menjadi tuan tanah di sana, ketepikan pribumi mereka. Jika tak mampu pelan – pelan saja atau terima kenyataan.

Budaya korupsi tidak bisa diselesaikan oleh satu figur atau maskot macam Ahok misalnya. Setiap manusia punya celah untuk salah dan tidak ada manusia setengah dewa dalam politik. Mereka hanyalah perangkat dan bualan zaman. Yang perlu kita lakukan adalah mengubah tabiat kolektif. Dalam Logika Terbalik semua pejabat dan semua elemen yang bersentuhan dengan uang negara adalah koruptor, kecuali mereka bisa membuktikan sebaliknya.

Dalam Logika Terbalik semua figur adalah pemain gelanggang yang meracuni sejarah kecuali mereka sudah membuktikan bahwa sepak terjang mereka bersih demi rakyat, demi umat, demi keindonesiaan yang lebih luas. Jika ingin mengubah negeri ini menjadi lebih baik masuklah ke domain politik dengan santun, tak perlu terlalu syahdu membentang sajadah ekstra parlementer di jalan – jalan ibukota. Habib Rizieq dalam Logika Terbalik hanyalah pemain gelanggang, sampai dia bisa membuktikan diri sebagai solusi terbaik untuk bangsa ini dengan cara – cara elegan dan prosedural.

Menggiring penghukuman Ahok atas penistaan al Maidah 51, dalam Logika Terbalik terkesan pemaksaan dan mengandung titik lemah. Bagaimana mungkin pelanggaran hukum langit diselesaikan dengan hukum bumi (KUHP sebagai turunan dari Civil Law warisan kolonial Belanda).

Di kubu sebelah pula, kenapa pula beramai – ramai menyalakan lilin dan menangisi seseorang yang hanya Anda kenal sepihak dan sudah pasti bukan dewa, semua itu hanyalah pembuktian kualitas diri yang inferior dan treatikal politik yang digerakkan para petualang, kecuali ada pembuktian logika bahwa itu mampu memberi nilai tambah kepada bangsa ini. Logika Terbalik akan membongkar semua lelaku dan cara berpikir usang, menolkan semuanya lalu menyusunkan kembali menjadi sesuatu yang baru dan bermanfaat.

Logika Terbalik meniscayakan bahwa pemimpin yang hebat dan efektif, pemimpin yang on the track, pemimpin yang kelihatan hasilnya dan memenuhi mayoritas kepuasan publik sebagai sesuatu yang wajar dan biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Jadi jika merasa sudah ketemu pemimpin seperti ini tak perlu didewakan lalu menumpahkan seluruh hidup mati kepada dia. Dengan Logika Terbalik, semua pemimpin sudah pasti sekelas Nelson Mandela, kecuali mereka hanyalah kawanan penjahat tengik yang sedang beruntung. Indonesia tak butuh figur, karena yang terpenting adalah membongkar isi kepala masing - masing. ***

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x