Mukhotib MD
Mukhotib MD profesional

consultant, writer, citizen journalist

Selanjutnya

Tutup

Fiksiislami Pilihan

Kliwon, Edisi Ingkung Ayam Kaji Komar

18 Mei 2018   14:11 Diperbarui: 18 Mei 2018   14:14 867 0 0
Kliwon, Edisi Ingkung Ayam Kaji Komar
Foto: portalsatu.com

Seruan sahur terdengar tak saja dari pengeras suara Masjid di dusun Bluwangan tempat tinggal Kliwon. Melainkan juga berasal dari anak-anak muda kampung yang berkeliling di jalan kampung sambil memukul benda-benda yang mereka bawa dari rumah. Sebagian memukul panci, tutup paci, piring, dan sebagian lagi membawa kenthong bambu dan obor berganggang bambu. Seorang anak membawa petasan yang dinyalakan sesekali saat keliling kampung.

"Pon, bangun. Saat sahur tinggal lima belas menit," kata Kliwon membangunkan anaknya. Si Pon memang sangat sudah dibangunkan, tidak saja saat sahur, juga sulit dibangunkan salat Subuh saat tidak sedang di bulan puasa.

SI Wage sudah menunggu di meja makan sambil melihat menu sahur buah tangan Legisah, simboknya. Menu itu biasa-biasa saja, tak ada yang baru seperti biasanya. Seakan menu makan sore yang dipindahkan waktu menghidangkannya menjadi dini hari.

"Kenapa?"

"Nggak apa-apa, Mbok." Wage terkesiap mendengar pertanyaan itu. Ia merasa nggak enak hati kalau sampai simboknya mengetahui dirinuya tak begitu berselera dengan menu sahur. Sebab, ia membayangkan, sahur di hari kedua puasa akan memasak ayam kampung, atau setidak-tidaknya telur dadar atau telur ceplok. Sayurnya, sop wortel, brokoli, dan kubis, sehingga akan terasa segar di makan dini hari dalam kondisi panas. Apalagi jika ada tempe goreng tanpa tepung, hmm, tentu akan terasa lebih lengkap menu sahurnya.

"Hari ini nggak ada uang," kata Legi dengan nada suara tertahan. Sebagai tukang panjat pohon kelapa, memang penghasilan Kliwon tak bisa ditentukan. Andaikan tak hujan, ia masih bisa mendapatkan upah dari memetik buah kepalka itu. 

Tapi kalau hujan, ia tak mendapatkan upah apa-apa, sebab tak mungkin bagi Kliwin memanjat pohon kelapa. Ia tak ingin mengalami nasib seperti Sapar, yang memaksakan diri memanjat pohon kelapa karena kebutuhan istrinya yang harus melahirkan di rumah sakit. Akibat jatuh dari pohon kelapa itu, Sapar sekarang tubuhnya bungkuk tak bisa leurus lagi. Konon, katanya, tulang belakangnya patah.

"Mana Wage, kok belum bangun?"

"Sedang ke jeding (kamar mandi), Mbok. Sudah kita mulai sahur saja," kata Kliwon sambil mengambil nasi dari cething.

Suara anak-anak kampung masih terdengar sayup dari kejauhan. Takmir masjid mengingatkan kembali agar warga bersegera sahur karena waktu imsyak sudah mendekat. Si Pon tak bersemangat makan sahur dengan menu sayur bayam di rebus dengan sambal kosek tanpa lauk apapun. Wage mengambil nasi dengan tangan gemetar, dan tampak keengganan dalam raut wajahnya.

"Assalamu'alaikum."

Sambil menjawab salam, Wage berlari membukakan pintu. Wak Kaji Komar berdiri depan pintu, di tangan kanannya membawa tas kresek. Kliwon berdiri menuju ke pintu bersalaman, sambil bilang, "masuk dulu Wak Kaji."

Wak Kaji Komar menolak karena ia tergesa akan sahur juga. Ia menyodorkan tas kresek berisi ingkung ayam jago, dengan tersenyum ia berkata, "Si Pon, ini rizkimu, ayo bawa masuk untuk lauk sahur sama Wage."

Si Pon menerima tas kresek itu, mencium tangan Wak Kaji dan langsung berlari sambil berteriak, "Kak Wage, kita sahur nikmat malam ini."

Si Pon dan Wage makan dengan asyiknya. Mulutnya belepotan kecap dari ingkung ayam jago bumbu kecap. Mereka tampak lahap sekali. Meski begitu, Wage tetap mengambil bayam rebus dan sambal kosek buatan simboknya. Mereka terus tertawa bahagia, samppai suara imsak, imsak, imsak, terdengar dari Masjid kanmpung. Si Pon mengerti benar, itu suara Wak Kaji Komar.

Kliwon dan Legi saling pandang. Ada titik air menetes di kedua sudut mata Legi.