Mohon tunggu...
Miramira Ntapjiwa
Miramira Ntapjiwa Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Hanyalah seorang mahasiswa sastra yang sebenarnya nilai bahasanya juga tidak kalah jeblog dengan nilai lainnya

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Salahkah Menjadi Seorang Aseksual?

1 Juli 2021   17:48 Diperbarui: 1 Juli 2021   17:56 314
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Seorang komedian asal Amerika, Janeane Marie Garofalo pernah berkata di salah satu acara stand-up comedy miliknya bahwa dirinya tidak pernah merasakan ketertarikan seksual.

"saya tidak memiliki ketakutan terhadap hubungan intim, saya hanya merasa tidak tertarik dengan hubungan seks" komentarnya.  

Manusia memiliki berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi untuk bertahan hidup. Kebutuhan manusia paling dasar manusia adalah kebutuhan fisik, yang meliputi udara, makanan, minuman, tempat tinggal, kehangatan, tidur, hubungan seks dan sebagainya.

            Akan tetapi, tidak semua orang menganggap hubungan seks sebagai kebutuhan. Beberapa kalangan tidak menganggap hubungan seks sebagai suatu kebutuhan, hingga tidak merasakan kenyamanan dalam hubungan seksual. Bahkan sebagian orang mengaku sama sekali tidak memiliki ketertarikan terhadap hubungan tersebut. Fenomena ini lah yang memunculkan orientasi baru dalam kehidupan seksual manusia, yaitu aseksualitas.

Aseksualitas adalah orientasi seksual, seperti menjadi gay atau pun mereka yang normal. Janeane merupakan satu dari sekian persen orang, terutama seorang public figure yang merupakan 'muka' media, yang teridentifikasi sebagai seorang aseksual, yang merupakan sebuah orientasi dan bukan merupakan sebuah pilihan.

            Menurut situs Asexuality.org, orang dengan orientasi ini tidak memiliki ketertarikan terhadap hubungan seksual. Orang dengan orientasi ini juga  tidak memiliki ketertarikan secara seksual terhadap laki-laki maupun perempuan karena mereka memandang kedua gender tersebut sama saja. Apabila mencari di twitter mungkin pernah melihat tweet dengan tajuk "One Percent Asexuals". Menurut penelitian Anthony F. Bogaert pada tahun 2004, beliau menyebutkan bahwa 1% dari populasi manusia di dunia adalah aseksual. 

            Dari kemungkinan 1 persen itu, ada berbagai macam spektrum. Misalnya seperti Janeane, beliau adalah seorang aseksual namun dia romantic. Ia mengakui bahwa dirinya tidak tertarik dalam hubungan secara seksual pada orang lain, tapi dia masih memiliki ketertarikan secara romantis. Hal ini dapat dibuktikan ketika dirinya sempat menikahi Robert Cohen pada tahun 1992.

            Tapi ada juga aseksual yang tidak punya ketertarikan romantic. Hal ini membuat seseorang tidak hanya tidak tertarik secara seksual terhadap orang lain namun juga tidak memiliki ketertarikan terhadap hal-hal romantis seperti jatuh cinta, berpacaran, menikah, dan seterusnya.  rasa ketertarikan seseorang bisa dibagi menjadi beberapa macam, yaitu:

  • Ketertarikan secara seksual (ada keinginan untuk melakukan hal-hal yang bersifat seksual)
  • Ketertarikan secara romantic (keinginan untuk melakukan hal yang romantic)
  • Ketertarikan secara estetika (bisa menikmati dan mengagumi keindahan fisik seseorang)

Dari beberapa macam rasa ketertarikan diatas, aseksual hanya tidak dapat merasakan ketertarikan secara seksual kapada seseorang, namun masih bisa memiliki rasa ketertarikan secara romantic dan secara estetika. Aseksual juga lebih menyukai hubungan persahabatan dekat daripada hubungan intim.

Sulit untuk menemukan informasi mengenai hal-hal yang berhubungan dengan aseksualitas di Indonesia. Apabila mencoba untuk mencari hal-hal yang berhubungan dengan aseksualitas dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan Google, yang keluar hanyalah reproduksi aseksual, definisi aseksual dalam konteks Biologi, dan beberapa tulisan orisinil yang berisi penjelasan seadanya tentang aseksualitas yang ditulis oleh orang yang kemungkinan besar bukanlah orang aseksual.

Sedangkan apabila mencari informasi yang berhubungan dengan aseksualitas dalam bahasa Inggris dengan menggunakan Google akan muncul website khusus tentang aseksual yang memiliki firumnya, artikel-artikel tentang aseksualitas yang ditulis oleh orang-orang aseksual atau pakar seksologi, dan bahkan ditemukan blog-blog milik orang-orang aseksual yang mendiskusikan pengalaman pribadi mereka sebagai seorang aseksual.

Dari sini saja sudah terlihat perbedaan antara orang-orang barat yang mengenal dan memiliki pandangan terbuka mengenai aseksual dengan orang Indonesia yang masih memiliki pandangan yang tertutup mengenai orientasi aseksual ini.

Masih banyak orang Indonesia yang menganggap identitas-identitas LGBTQ+ termasuk aseksualitas sebagai pengaruh budaya Barat yang tidak ada hubungannya -- atau bahkan mengancam -- kebudayaan Timur kita. Padahal dengan menyebarkan informasi mengenai aseksualitas ini menggunakan bahasa Indonesia, dapat diyakini bahwa kita bisa mengurangi miskonsepsi mengenai aseksualitas dan menyadarkan bahwa ada banyak orang Indonesia yang mengidentifikasikan diri mereka sebagai aseksual dan bukan hanya sedang meniru budaya barat saja.

"Saya merasa Indonesia masih belum bisa menghargai orientasi seksual seseorang diluar yang normal. Saya sebagai ace (sebutan untuk orang yang aseksual) merasa tidak nyaman membayangkan apabila orang tua saya mengetahui bahwa saya merupakan seorang aseksual karena pandangan orang Indonesia akan seksualitas diluar hetero masih dipandang miring." Ujar narasumber berinisial T yang telah diwawancara oleh penulis perihal aseksual di Indonesia.

"Saya berharap apabila informasi mengenai aseksual ataupun orientasi seksual lainnya sudah mulai banyak di Indonesia, maka miskonsepsi orang terhadap aseksual ini dapat diatasi dan mereka bisa lebih menghormati satu sama lain." Tambah T. T merupakan salah satu dari total orang aseksual di Indonesia yang menutupi fakta orientasi seksual nya dari masyarakat karena rasa takut akan pandangan orang lain terhadap dirinya. Beliau mengetahui bahwa masyarakat Indonesia masih memiliki asumsi jelek terhadap isu yang berhubungan dengan orientasi seksual karena dianggap menyalahi aturan agama.

Pentingnya dari penyebaran informasi yang berkaitan dengan aseksual menggunakan bahasa Indonesia adalah adanya koneksi antara penulis dengan pembaca yang merupakan aseksual. Menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dalam informasi mengenai aseksualitas terasa seperti mendapatkan validasi.

Dan lagi, dengan menggunakan bahasa Indonesia dalam menyebarkan informasi mengenai aseksualitas akan mempermudah aksesibilitas nya. Hal itu disebabkan karena tidak semua orang Indonesia dapat mengerti bahasa Inggris dan akan lebih mudah untuk mengedukasi masyarakat Indonesia menggunakan bahasa ibu mereka.

Saat ini informasi mengenai aseksualitas dalam bahasa Indonesia masih minim, hal ini menyebabkan adanya kesalahpahaman atas orientasi seksual tersebut. Namun, penulis percaya bahwa ke depannya akan semakin banyak informasi tentang aseksualitas dalam format bahasa Indonesia akan memperbanyak jumlah orang Indonesia yang tidak lagi miskonsepsi mengenai hal tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun