Mohon tunggu...
Rusmin Sopian
Rusmin Sopian Mohon Tunggu... Freelancer - Urang Habang yang tinggal di Toboali, Bangka Selatan.

Urang Habang. Tinggal di Toboali, Bangka Selatan. Twitter @RusminToboali. FB RusminToboali.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen: Perempuan Istimewa dari Pantai Selatan

12 November 2021   21:00 Diperbarui: 12 November 2021   21:02 201 13 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Cerpen : Perempuan Istimewa dari Pantai Selatan

Sudah tiga bulan, semenjak ditinggalkan sang suami, Fatimah bekerja sebagai penjual ikan keliling. Ikan-ikan segar itu didapatnya dari para nelayan yang baru tiba di pantai saat cahaya matahari diufuk timur mulai menerangi semesta raya. Pekerjaan ini dilakukannya biar asap dapurnya tetap mengepul dan anak semata wayangnya bisa bersekolah.

Usai menunaikan sholat subuh, Fatimah bergegas menuju Pantai Selatan yang terletak diujung kampung. Sinar keemasan dari cahaya pagi matahari menjadi daya tarik fatimah untuk segera mendatangi pantai Selatan yang dibaluri pasir yang bersih dan mengkilap. Sementara sarapan pagi untuk anak semata wayangnya sudah tersiap rapi diatas meja. Selembar uang kertas lima ribuan diselipkannya di tas anaknya.

Dengan kaki beralaskan sandal jepit, kaki jenjang Fatimah melangkah pasti menuju Pantai Selatan yang sudah ramai dengan kedatangan para nelayan dari melaut. Hembusan  dingin pagi yang menghantam tulang belulang tubuh indahnya tak dihiraukannya sama sekali. 

Kecantikan yang menghiasi wajah Fatimah,  membuat para nelayan kadang kala enggan untuk mengambil uang dari Fatimah. Kekaguman para nelayan pada pesona yang dimiliki fatimah membuat para nelayan yang melabuhkan perahunya di Pantai selatan itu, kerap kali enggan menerima uang pembelian ikan dari fatimah. Rasa tak enak kerap kali terselip di nurani Fatimah terhadap perlaukuan para nelayan kepadanya.

" Sudah bawa saja ikannya," demikian kira-kira jawaban dari para nelayan saat Fatimah hendak menyodorkan uang pembelian ikan kepada para nelayan.
Fatimah hanya menelan ludah.

Berita tentang suami Fatimah yang meninggalkan perempuan yang dulu dikenal sebagai kembang kampung Pantai Selatan itu membuat suasana udara pantai yang tenang dengan hembusan angin dari laut yang sepoi berisik dengan cerita para nelayan tentang kebodohohan suami Fatimah yang pergi meninggalkan perempuan itu.

" Aneh sekali kawan kita itu. Istri cantik malah ditinggal," ujar seorang nelayan
" Hanya suami bodoh yang mau mempertahankan istri yang hobbi berselingkuh," jawab seorang nelayan lainnya.
" Fatimah selingkuh?," tanya seorang nelayan lainnya.
" Nggak usah pura-pura tidak tahu. Semua orang di Kampung kita ini sudah mengetahui tingkah busuk Fatimah," jawab nelayan itu.
" Aku yakin orang sekampung kita tidak percaya kalau si fatimah selingkuh. Masa sih hanya gara-gara Pakbos juragan ikan sering ngasih uang ala kadarnya kepada anaknya lewat fatimah, dipikir selingkuh. Dunia memang mau kiamat. Perbuatan baik selalu diasumsikan untuk mengharapkan sesuatu," balas seorang nelayan lainnya.
" Saya pikir suami manapun, akan merasa disepelekan kalau istrinya selalu menerima uang dari orang lain. walaupun uang itu bukan untuk dirinya,' sambung nelayan yang lain.

Obrolan para nelayan yang baru pulang melaut itu tiba-tiba terhenti. Dari kejauhan terlihat Fatimah berjalan ke arah pantai Selatan dengan menjinjing keranjang. Bau amis ikan mulai tercium di udara bebas pantai. Lenggang-lenggoknya membuat semua mata nelayan di Pantai Selatan memandangnya tanpa berkedip sama sekali. 

Sementara siulan godaan dari para nelayan terus berhamburan di udara pantai Selatan dan menusuk kalbu. Fatimah terus melangkah ke pantai untuk mengambil ikan segar yang akan dijualnya dengan bersepeda keliling Komplek perumahan yang sudah banyak berdiri tegap disekitar kampungnya.

Perempuan penjual ikan keliling itu hampir terjerembab  bersama sepedanya, saat memasuki halaman rumahnya. Bagaimana tidak, sebuah mobil mewah milik Pakbos Juragan Ikan yang amat terkenal parkir di halaman rumahnya. Diteras rumahnya terlihat seorang lelaki parlente duduk di kursi yang terbuat dari papan bekas sisa para nelayan membuat perahunya. Jantungnya seakan-akan mau copot dari tangkainya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan