Mohon tunggu...
Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Mohon Tunggu... buruh proletar

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Monolog di Bandara

12 Juli 2019   14:41 Diperbarui: 12 Juli 2019   14:47 0 9 1 Mohon Tunggu...
Monolog di Bandara
Sumber: pixabay.com

Di sini. Adalah area dengan ekspektasi raksasa dan tensi tinggi. Orang-orang yang berkeliaran kesana kemari mudah meledakkan emosi. Apalagi jika pertemuan kemudian diperlambat atau perpisahan lantas dipercepat.

Di sini. Mirip sekali dengan kepundan gunung berapi. Orang-orang itu membawa magma di kepalanya dengan volume berbeda-beda. Tergantung seberapa dahsyat harga diri yang merasa mereka punya. Siap meledak kapan saja. Dengan alasan apa saja.  

Tidak akan ada yang mengaku sebagai hamba sahaya di sini. Karena mereka menyanjung dirinya sebagai orang-orang yang sedang menjalani misi mendaki langit tanpa tepi. Menanam pandangan acuh tak acuh. Meski nanti mereka akan melewati ladang kapas yang kemegahannya nyaris sama dengan etalase ruh.

Oleh karena itu. Di sini saya tidak mau berlaku kontra. Apalagi berlagak sebagai panglima. Bisa-bisa mereka menguliti saya dengan pandangan cuka. Di pintu masuk saja, saya mengendap-endapkan diri saya hingga sedemikian tak kentara. Saya harus berlaku sebagai mata-mata. Berbaur secara samar, menyamar, baru saya bisa mulai menggambar.

Nyaris semua sepatu berhak sekian inchi. Saya sampai terheran-heran apakah generasi sekarang kelebihan gizi? Menyaksikan gemulai langkah mengetuk-ngetuk lantai dengan irama Vivaldi. Teratur dan lentur. Saya sampai bosan mendengarkan. Bayangkan, saya yang menyukai suara kekacauan, harus dihadapkan dengan sekian banyak keteraturan. Huh! Rasanya gendang telinga saya nyaris runtuh!

Saya duduk di suatu sudut yang terlepas dari pandangan mata orang-orang yang sebenarnya pun enggan melihat. Saya meyakinkan diri saya bahwa ini adalah spot terbaik untuk meneropong semesta kecil yang bergerombol, mengobrol, ataupun hanya sekedar memamerkan kemewahan di aksesoris mereka yang berkilauan.

Jika ada rombongan pejabat, seolah-olah bandara kalang kabut sedang dibersihkan. Orang-orang harus segera menyingkir memberi jalan. Jika tidak, ajudan mereka akan memelototkan mata mereka yang kecil selebar-lebarnya. Menunjukkan isyarat kuat bahwa sedang ada kuasa hendak lewat.

Saya tersenyum kecut. Teringat di negeri saya ini, semua tempat umum yang dibangun dari pajak dan keringat rakyat, menempatkan para pejabat sebagai pemilik yang hebat. Kadangkala saya harus menahan emosi hingga ke ubun-ubun bila sedang berkendara di jalan tol. Astaga! Nyaris setengah jam sekali suara sirine menguing-nguing tiada henti.

Bukan mengantar orang yang mau mati, tapi meminta jalan bagi para pejabat tinggi yang seolah telah kehabisan waktu untuk berangkat lebih awal, beriringan dan mengantri dengan sopan, membuka jendela dan menyapa rakyatnya jika sedang bertemu dengan kemacetan. Para pejabat itu sebagian besarnya memasang mode perang di pikiran mereka. Harus didahulukan! Kalau tidak nyawa negara terancam!

Saya sangat sering berkhayal, kalau saja saya seorang manusia yang punya kemampuan mematikan mesin mobil tanpa menyentuhnya, saya akan membuat iringan mobil pejabat itu mangkrak di baju jalan. Lalu mereka menghentikan kendaraan rakyatnya dengan sopan. Berkenalan dan meminta tumpangan. Hahaha, khayalan saya agak berlebihan memang, tapi paling tidak kemarahan saya agak terlampiaskan.

Kembali ke bandara. Sebelum pesawat mengudara saya biasanya berdoa. Semoga semua baik-baik saja. Lalu saya berusaha sekerasnya menulis apa saja di atas sana. Kebanyakan tentang rindu dan cinta. Karena bagaimanapun kita ini memang selalu diburu rindu dan memburu cinta.

Terhadap apa saja. Semua universal adanya. Tidak hanya tentang urusan kelamin pria atau wanita. Tapi juga urusan penting dengan tanah, hujan, dan juga Tuhan.

Kira-kira begitu adanya. Kecuali kalau saya ternyata salah menerjemahkan semua klausa yang bersliweran di bandara.

Medan, 12 Juli 2019