Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Karyawan Swasta

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

[Luka] yang Disayat oleh Laut yang Ditemukan Pelautnya

10 November 2018   00:03 Diperbarui: 10 November 2018   00:46 247 11 7
[Luka] yang Disayat oleh Laut yang Ditemukan Pelautnya
pixabay.com


Rimba, nama anak kecil laki-laki yang lucu itu menjauh kegirangan ketika jilatan kecil ombak berusaha mencapai lututnya. Berteriak-teriak memanggil mamanya.

"Mama, Mama, pantai ternyata menyenangkan. Mama selama ini bohong mengatakan pantai itu menakutkan dan berwajah muram," mulutnya yang mungil memprotes mamanya.

Perempuan itu memalingkan muka. Pesisir di hadapannya ini mengingatkannya pada irisan-irisan kecil yang menyakitinya secara besar. Sebuah kenangan yang selalu saja menggenang di pelupuk mata bila hinggap di hatinya.

Sudah begitu lama dia menghindari pantai dan pesisir. Jika saja Rimba yang sudah berusia 6 tahun tidak memaksanya untuk pergi ke pantai. Katanya neneknya bercerita bahwa ayahnya adalah seorang pelaut yang berhasil menemukan kembali lautnya.

Perempuan itu terpaksa melanggar janjinya untuk tak membawa Rimba mendekati laut dan pantai. Dan dia meminta hanya sekali ini saja Rimba pergi ke pantai.

Rimba ngotot bahwa hadiah ulang tahunnya kali ini adalah pergi ke laut. Rimba ingin tahu laut yang telah ditemukan ayahnya. Penasaran sekali dengan cerita neneknya.

Rima, mamanya, tidak bisa menolak keinginan anak lelaki yang sangat disayanginya itu.

Demi Rimba, aku akan menghadapi horison itu sekali lagi. Bisik Rima dalam hati.

----

"Kau tahu Lava?" Rindang selalu memanggil Rima dengan sebutan Lava. Plesetan dari Love katanya.  

"Kenapa horison langit itu begitu muram sekarang? Padahal musim badai masih lama?" Rindang melanjutkan. Rima menggeleng. Berupaya keras menyingkirkan helai-helai rambut yang menjatuhi muka. Mengganggu saja. Dia sedang menikmati wajah Rindang yang sedang berusaha mencari kata-kata selanjutnya.

"Mungkin para pelaut telah kehilangan lautnya," Rindang seolah berkata kepada dirinya sendiri.

Rima sebenarnya bingung. Ini retorika atau majas dalam sastra?

"Aku akan menjadi pelaut yang akan menemukan kembali lautnya. Aku berjanji Lava," Rindang tetap memandang horison itu. Sepertinya janjinya bukan cuma buat Rima.

Rima sedikit terpana. Itu janji yang luar biasa maknanya. Dia belum tahu kelak berwujud apa tapi hatinya mulai memberikan aba-aba.

----

Sebulan setelah perbincangan yang menyiratkan ketakutan bagi Rima itu, Rindang berpamitan. Persis di tempat sama. Di pesisir yang horisonnya bermuram durja.

"Aku harus meluaskan pengalaman dan petualanganku Lava. Tak mungkin aku membiarkan darah pelaut dalam diriku beku. Kau tahu itu."

Rima melemparkan tatapan ke ombak yang menjilati kakinya. Berharap sangat jilatan itu menghangatkan. Tapi nyatanya tubuhnya menggigil.

Rindang tersenyum. Meraih Rima dalam pelukan. Tahu persis apa yang sedang dipikirkan oleh kekasihnya ini. Rasa takut akan kehilangan.

"Kamu jangan cemas Lava. Tunggulah aku di pesisir ini setiap kali kau merasa rindu. Lihatlah horison langit sebelah sana. Aku pastikan tak akan lagi bermuram durja. Aku akan berada di sana. Mencatnya dengan warna ceria."

Hati Rima langsung saja luruh di pasir yang dipenuhi bekas-bekas rumah kecomang yang rusak karena garam. Mulutnya terasa asin. Dialiri sungai kecil yang mengalir di pipi. Dari matanya yang mulai berhorison sepi.

----

Satu hal yang bagi Rima bukanlah bagian dari luka. Rindang melamarnya disusul dengan pernikahan di antara keduanya. Tepat sebulan sebelum Rindang berangkat dengan kapal tanker tempatnya bekerja.

Bulan-bulan setelah kepergian Rindang, Rima begitu rajin mengunjungi pantai itu. Dia dengan setia selalu menunggu sampai cakrawala pudar seluruhnya dan horison tak nampak lagi. Rima ingin memastikan horison itu menampilkan raut muka seperti apa. Dan selalu saja. Bermuram durja.

Rima ingin sekali melihat horison itu cerah ceria. Seperti janji Rindang yang hendak mencatnya. Horison itu adalah simbol keberadaan suaminya. Ayah dari calon bayi yang sekarang dikandungnya.

Bahkan Rima memutuskan membeli rumah tidak jauh dari pantai yang akhirnya disebutnya sebagai pantai Perjanjian. Bagi Rima, nama itu selalu mengingatkan betapa Rindang berjanji kepadanya untuk selalu membuat horison laut berwarna cerah. Rima percaya dengan janji Rindang. Dalam hatinya, Rima memutuskan horison itu kelak akan menuntun suaminya pulang. Menungguinya melahirkan.

Setiap pagi, Rima beraktifitas seperti biasa. Menjadi guru bagi anak-anak pantai yang umumnya enggan bersekolah formal. Terikat pada keteraturan waktu yang membuat mereka tidak leluasa membantu orang tuanya menyiangi udang atau menjemur ikan asin.

Rima menyukainya. Deretan pantai ini bukan pantai wisata. Memang benar-benar sebuah pantai di mana nelayan berpenghidupan. Mengajari anak-anak itu membaca bisa melupakan ingatannya pada Rindang sesiangan.

Menjelang sore, setelah mengajar Paket A bagi nelayan-nelayan yang buta huruf, Rima mandi dan berdandan cantik. Lalu melangkah dengan pasti ke tepi pantai Perjanjian. Menghabiskan waktu untuk menatap horison. Berharap cemas raut mukanya seperti apa.

Begitu setiap harinya. Begitu setiap sorenya. Begitu juga dengan wajah horisonnya. Selalu bermuram durja. Tapi itu tak menghalangi Rima mengumpulkan keping-keping bahagia yang akan dilengkapinya dengan kelahiran anaknya dan juga kepulangan Rindang.

----

Tepat pada kandungan sembilan bulan bayinya, seperti biasa, sore itu Rima berjalan tersaruk-saruk di pantai. Hatinya gembira bukan main. Tadi pagi Rindang menelponnya menggunakan telpon satelit. Tak lama lagi akan merapat di pelabuhan Taichung di Taiwan. Setelah minyak dibongkar, rencananya Rindang akan terbang kembali ke Indonesia. Menemani Rima menanti kelahiran anak pertama mereka.

Sambil bernyanyi-nyanyi kecil Rima menunggu horison laut sore ini. Rima ingin mengabarkan kebahagiaan kepada horison yang telah setia menemaninya selama ini.

Rima berdiri dengan santai. Membiarkan gelombang kecil menjilati kakinya yang telanjang. Hampir setahun ini air laut terasa hangat. Rima suka sekali merendam kakinya berlama-lama.

Rima menjengit. Kaget sekali merasakan air laut begitu dingin. Buru-buru Rima menarik kakinya. Menjauh dari jilatan ombak. Bersamaan dengan matanya yang bersirobok dengan horison laut di sebelah barat.

Rima sampai lupa mengatupkan mulutnya. Horison itu untuk pertama kalinya berwarna indah dan ceria. Cantik sekali. Menyenangkan dan membahagiakan. Rima langsung teringat dengan janji Rindang.

Ah, kali ini kau menepati janjimu Rindang. Sebelum pulang rupanya kau sempatkan diri mencat horison itu dengan warna ceria. Rima tersenyum. Lelaki yang dicintainya itu ternyata tidak sekedar bicara.

Handphone di tangannya bergetar. Panggilan masuk. Rima sengaja tidak membunyikan selulernya jika sedang berada di sini. Dia tidak ingin terganggu dengan suara panggilan yang bising.

Rima menikmati untuk terakhir kalinya horison yang luar biasa itu sebelum ditenggelamkan senja. Mengangkat telpon. Berharap Rindang kembali memberinya kabar tentang rencana kepulangannya.

Bukan nomor Rindang. Sebuah suara simpatik di seberang sana mengabarkan berita yang membuat Rima tak ingat apa-apa lagi. Pingsan di pantai yang lengang.

Kapal tanker Rindang tenggelam di selat Taiwan setelah dihantam Taifun Morakot. Rindang bersama puluhan orang awak kapal tak bisa diselamatkan.

Begitu terbangun, Rima hanya tahu dirinya terbaring di kamar sebuah rumah sakit di kota. Di sampingnya berdiri ayah dan ibunya. Ibunya menggendong seorang bayi mungil yang tertidur pulas.

Rima berbisik lirih,"namanya Rimba, Ibu. Aku akan membesarkannya jauh dari pantai dan laut. Mereka telah merenggut ayahnya. Seorang pelaut yang menemukan kembali lautnya."

----

Rima memandangi Rimba yang kembali berlari-lari kecil di sepanjang pantai. Tersenyum samar. Hati dan bibirnya bergetar.

"Berlarilah sepuasnya anakku. Inilah laut yang telah ditemukan kembali oleh pelautnya. Pandanglah horison di sana. Jika bermuram durja, itu artinya ayahmu lupa membawa catnya."


Bogor, 10 Nopember 2018