Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Karyawan Swasta

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Firasat, Hidup Mati dan di Antaranya

12 Juni 2018   21:28 Diperbarui: 12 Juni 2018   21:48 382 5 1

"Masihkah kau mencintai langit dibanding bumi?"

Perempuan itu menatap lelaki di sebelahnya dengan mata bertanya.  Lelaki itu menggeser duduknya menjauh.  Berusaha keras ingin menjawab.  Tapi tidak ada kalimat jawaban meluncur dari mulutnya.  Senja itu akhirnya berlalu begitu saja.

Pertanyaan itu berulang keesokan harinya.  Ketika mereka menghabiskan waktu di sebuah pantai yang banyak kehilangan pasir.  Menikmati pesisir berlumpur.  Lelaki itupun mengulang jawabannya dengan tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.

Perempuan itu akhirnya putus asa.  Tak pernah bertanya lagi kepada kekasihnya.  Kelak dia akan mencari sendiri jawabannya.  Atau saat lelaki itu bersedia menjawab dengan sukarela apa pilihannya.

Mereka memang pernah berdebat panas mengenai hal ini.  Perempuan itu bilang bahwa dia lebih menyukai bumi.  Sementara si lelaki mengatakan bahwa dia lebih mencintai langit.  Masing-masing punya alasan.  Berbeda tentu saja.

Perempuan itu menyebutkan sederet alasan kenapa dia lebih menyukai bumi.  Di bumilah ari-arinya tertanam.  Di bumilah dia menitipkan kehidupan.  Di bumi jualah kelak mayatnya akan dikuburkan.

Lelaki itu terperangah.  Membalas dengan tak mau kalah.  Langit adalah penyokong utama mengapa manusia bisa bernafas dengan lega.  Udara.  Langit juga adalah pelindung hebat yang menyediakan punggungnya untuk disengat matahari.  Setiap hari.

Apabila sudah sampai pada topik ini biasanya keduanya lalu bertengkar.  Mempertahankan pendapat masing-masing.  Tiada akhir.  Selanjutnya saling berdiaman.  Beberapa hari.

-----

Sembari mencoba mengingat semua yang baru saja terjadi, lelaki itu menggigit bibir untuk memastikan dia memang masih hidup.  Bibirnya tidak terasa sakit.  Tapi dadanya berdenyut nyeri.  Aku masih hidup!  Pikirnya senang hati.

Lelaki itu keheranan bagaimana dia bisa keluar dari mobilnya di kekacauan separah ini.  Kecelakaan beruntun di jalan tol membuat mobilnya jungkir balik.  Ringsek tak berbentuk lagi.  Di sebelahnya, ekor truk kontainer malang melintang menutupi jalan.  Sebuah bus yang tadinya sarat muatan penumpang, tergeletak di jurang di bawah sana.  Kosong.  Karena isinya sekarang adalah tumpukan jenazah yang sulit dikenali.

Lelaki itu mencoba berdiri.  Rusuknya terasa sangat sakit.  Berhasil.  Tapi anehnya tubuhnya menjadi begitu ringan.  Seperti melayang.  Matanya bertemu dengan matahari yang masih bersemu merah.  Di sekelilingnya suasana nampak masih remang-remang.  Bahkan gema sisa adzan subuh terdengar dari jauh.

Kenapa tiba-tiba aku berada di tempat ini?  Ini kan rumah masa kecilku di desa.  Supaya lebih meyakinkan hati, lelaki itu melangkah ke halaman.  Sebuah taman kecil berisi bunga-bunga kanthil tumbuh subur di situ.  Menyiarkan wangi yang dikenalinya.

Aahhh itu kan bunga-bunga kanthil kesukaan emak?  Perasaan dia sudah lama tidak pulang kampung.  Terakhir justru ketika dia memakamkan emaknya yang meninggal di usia tua.  Sekitar 5 tahun yang lalu.

Lelaki itu mengerjapkan matanya.  Seberkas cahaya menyilaukan matanya.  Cahaya yang ganjil karena bergerak mendekat dengan cepat.  Mungkin itu rombongan kunang-kunang.  Atau bintang jatuh yang terlalu dekat ke tanah.

Bukan.  Sama sekali bukan seperti yang dipikirkannya.  Cahaya itu adalah cahaya dari lampu senter yang sangat terang.  Menyorot langsung ke matanya.  Seperti memeriksa apakah ada kegelapan bersemayam di tubuhnya.

Lelaki itu berusaha mengelak.  Tidak berhasil.  Cahaya itu terlanjur menyusup melalui semua lubang di tubuhnya.  Bercampur dengan aliran darah dan kepadatan sungsum.  Tubuhnya menggeliat hebat.  Kesakitan. 

Membuatnya tidak sadar.

-----

Perempuan itu mengusap butir-butir mutiara yang tumbuh di pipinya.  Lelaki di hadapannya ini tidak bergerak.  Hanya suara mesin penopang kehidupan yang berbunyi ringan.  Selebihnya, diam tanpa suara maupun gerakan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2