Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Karyawan Swasta

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Dendam

10 Juni 2018   20:18 Diperbarui: 11 Juni 2018   00:23 2171 13 6
Cerpen | Dendam
pixabay

"Aku bermimpi lautan kering kerontang.  Perahuku terdampar di tengah-tengah.  Tersangkut di antara dua batu karang yang menjulang," seorang nelayan setengah baya bercerita kepada temannya yang sedang memperbaiki jala.

"Terus? Ikan-ikannya pada kemana?"  Temannya menjawab seadanya sambil terus fokus pada jalanya.

"Dalam mimpiku, ikan-ikan pindah ke daratan.  Siripnya berubah menjadi kaki. Insangnya hilang digantikan hidung dan paru-paru.  Mereka berjalan seperti manusia.  Tapi tetap dengan sisik di punggungnya.  Ukurannya, hampir tiga kali lipat biasanya."

Temannya menghentikan gerakan tangan pada ayunan jarum dan benang.  Mulai tertarik dengan cerita mimpi si nelayan tua.  Memutuskan untuk bertanya;

"Lalu? Apa yang terjadi kemudian.  Apakah mereka berbaur hidup dengan manusia?"

"Tidak.  Mereka justru berburu manusia sebagai mangsa," jawaban yang mengejutkan.

"Mimpimu gila kawan!  Mengerikan!  Semoga itu tidak terjadi."

-----

Dan memang itulah yang akhirnya terjadi.  Dunia gempar!  Berbagai jenis ikan kini hidup di daratan.  Berburu manusia sebagai mangsa.  Belut listrik menyengat korbannya hingga hangus sebelum menelannya bulat-bulat.  Gurita melilit dengan tentakelnya.  Meremukkan tulang.  Hiu putih dan paus pembunuh menjelajahi kota demi kota.  Tak mengenal kenyang.  Menghabiskan sekian banyak manusia setiap harinya.

Manusia mencoba bertahan.  Sekuat tenaga.  Tapi percuma.  Senjata-senjata mutakhir dan canggih tidak ada artinya karena sudah diredam oleh serbuan jutaan ubur-ubur berbisa.  Dunia masuk dalam situasi chaos sejadi-jadinya.

Manusia lari dan bersembunyi dalam hutan yang tersisa.  Makhluk-makhluk jelmaan ikan itu punya juga satu kelemahan.  Mereka sama sekali tidak berani memasuki hutan.  Entah karena apa, yang pasti tidak pernah ada kejadian manusia diburu sampai dalam hutan dan dimangsa.

-----

Namun karena hutan yang tersisa tinggal sedikit, tak cukup ruang bagi manusia untuk bersembunyi di dalamnya.  Tak sampai seperseratus dari populasi saja.

Alhasil, jutaan manusia harus berlari kesana kemari.  Setiap hari.  Menghindar dari perburuan yang menakutkan.  Makhluk-makhluk itu berburu manusia bukan karena kebutuhan untuk makan.  Tapi lebih mirip pada pelampiasan dendam.

Semakin lama populasi manusia semakin sedikit.  Dunia dikuasai ikan.  Tidak ada negara.  Tidak ada pemerintahan.  Total kekacauan.

Manusia yang masih bertahan adalah yang mengungsi ke dalam hutan.  Meskipun jumlahnya hanya jutaan, namun karena kebutuhan, dirambahlah hutan yang tersisa menjadi pemukiman, ladang dan kebun untuk memenuhi kebutuhan makan.

Pinggiran hutan dibiarkan utuh agar makhluk-makhluk jelmaan ikan itu tidak bisa masuk.  Namun tengah-tengah hutan berlubang sana sini karena ekspansi.  Kayu-kayu ditebangi, mata air di lubangi, sungai dibendung, dan sulur rotan dihabisi.

Dalam proses bertahan hidup ini, manusia kembali pada kebiasaan lamanya.  Penghuni hutan yang asli harus menyingkir karena diusir.  Bahkan hewan-hewan itu diburu untuk memenuhi kebutuhan akan daging.  Dunia lama berputar ulang.  Di dalam hutan.

Manusia-manusia yang selamat memulai kehidupan baru.  Di dalam hutan yang tidak lagi bisa disebut hutan.  Tumbuh menjadi desa dan perkampungan. 

-----

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2