Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Karyawan Swasta

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Reinkarnasi (Bab 13)

17 Mei 2018   13:05 Diperbarui: 17 Mei 2018   13:22 255 2 0

Raja membuka matanya.  Kereta melambat.  Menurut perkiraan Raja seharusnya kereta sudah memasuki Surabaya.  Semalaman dia pulas karena kelelahan.  Pertarungan melawan Harpy sungguh menguras tenaga.  Pengalaman pertama bagi Raja melawan makhluk jadi-jadian.  Tapi ini nyata.  Luka di lengannya adalah bukti dan fakta yang tak bisa dibantah.

Kereta berhenti.  Raja memandang keluar jendela.  Matanya mengerjap memastikan dia tidak lagi di situasi magis.  GUBENG.  Benar, dia sudah di Surabaya.  Raja keluar dari pintu kereta terdekat.

Begitu turun dari kereta, Raja mengedarkan pandangan ke sekeliling.  Matanya mencari-cari.  Itu dia! Seorang gadis cantik menunggunya di luar peron stasiun.  Didampingi oleh dua orang yang tak dikenal oleh Raja.  Seorang pemuda yang terlihat tangguh dan seorang setengah baya yang nampak waspada.

Raja menghampiri Citra dengan rasa rindu dan was-was yang tak bisa disembunyikan.  Citra tersenyum sumringah.  Tatapannya jatuh pada lengan Raja yang dibebat oleh baju.  Senyumnya berubah.

"Kau tidak apa-apa Raja?"  Citra bertanya sambil memeriksa lengan Raja. 

Raja serasa diobati oleh dokter tercanggih dengan obat termanjur di dunia.  Lengannya yang masih terasa nyeri mendadak hilang sakitnya.  Namun pemuda ini menahan diri.  Dia menggelengkan kepala membesarkan hati Citra.

Citra kemudian memperkenalkan Raja kepada Sin Liong dan Mang Candra.  Mereka berbasa basi sejenak untuk menghilangkan rasa canggung dan kikuk sambil berjalan menuju tempat parkir.  Raja dan Citra sedang diharu-biru rasa sehingga hilang kewaspadaan. 

Dalam sekejap mata, mereka sudah dikelilingi oleh sepuluh orang berbadan kekar dengan tampang sangar di halaman parkir.  Tanpa ba bi bu sekelompok orang itu langsung menyerang Sin Liong, Mang Candra dan Raja serta berusaha menangkap Citra. 

Tentu saja hal ini mengagetkan Citra dan kawan-kawan.  Sin Liong sempat berbisik kepada Raja untuk melindungi Citra sebelum akhirnya pemuda keturunan Tionghoa ini baku hantam dengan gerombolan.  Mang Candra tidak tinggal diam.  Guru silat Cimande ini bergabung bersama Sin Liong menghadapi delapan orang di antara mereka.

Dua orang sisanya masih berupaya menangkap Citra dan mencoba menjatuhkan Raja.  Dua orang  bertubuh kekar dan nampaknya adalah pemimpin dan wakil pemimpin dari gerombolan orang-orang kasar itu terlalu memandang rendah Raja dan Citra.  Ketika salah satu mencoba menangkap lengan Citra, Raja dengan sigap menangkap laki-laki itu dan membuat gerakan membanting.

Terdengar suara ngekkkk sewaktu tubuh besar itu terbanting di ubin parkir.  Laki-laki yang bertubuh lebih kecil bertindak tidak sesembrono temannya.  Dia segera menyerang Raja dengan pukulan dan tendangan yang kuat dan terlatih.  Raja yang rajin belajar pencak silat sejak kecil melayani gempuran si penyerang dengan tenang.  Citra sendiri dengan santainya memperhatikan sambil duduk di sebuah bangku sudut lapangan parkir.

Tidak jauh dari gelanggang Raja melawan pemimpin gerombolan, Sin Liong sudah berhasil menjatuhkan dua pengeroyoknya.  Mang Candra malah sudah membuat tiga pengeroyoknya pingsan.  Pertarungan yang mirip tawuran karena melibatkan banyak orang ini ditonton oleh puluhan orang.  Para petugas keamanan stasiun kebingungan bagaimana cara melerai adu jotos yang brutal itu.  Salah seorang bergegas menghubungi kantor polisi terdekat.  Sungguh tidak beruntung sekali bahwa hari ini semua polisi yang bertugas di stasiun sedang melakukan apel di Polrestabes Surabaya.

Citra menilai situasi akan semakin runyam.  Matanya menangkap gerakan tangan dua orang yang sedang dihadapi Sin Liong.  Keduanya meraih ke pinggang, mencabut revolver kaliber besar untuk ditembakkan ke arah Sin Liong dan Mang Candra.  Bahkan pemimpin gerombolan yang terdesak oleh Raja juga memperlihatkan gelagat yang sama.  Di tangannya tiba-tiba sudah tergenggam sepucuk pistol yang siap ditembakkan.

Citra menggeram lirih.  Tangannya melambai bergantian ke arah tiga orang pengeroyok yang memegang senjata api.  Terdengar bunyi klik klik ketika serempak senjata itu ditembakkan.  Tak satupun peluru keluar.  Tiga pistol itu malah meledak di bagian magazine peluru.  Melukai si empunya senjata yang langsung mengaduh-aduh sambil memegang tangan mereka yang berlumuran darah.

Sin Liong menyadari hal ini.  Berlari menuju mobilnya, starter dan memberi tanda kepada tiga rekannya untuk segera masuk mobil.  Mang Candra, Raja dan Citra serentak masuk ke dalam mobil yang menderum kencang keluar stasiun dengan terlebih dahulu menabrak portal parkir.

Gerombolan pengeroyok buru-buru berlarian ke dua mobil pick up di luar stasiun yang langsung dihidupkan mesinnya dan tancap gas kabur.  Apalagi dari kejauhan terdengar suara sirine polisi meraung-raung.

------

Bandara Internasional Soekarno-Hatta.  Pukul 9 pagi.  Sebuah pesawat China Airlines mendarat dengan mulus di tengah cuaca gerimis yang sedang merundung Jakarta.  Begitu pintu Garbarata terbuka, dua orang berbaju turis turun sambil membetulkan letak kacamata mereka.  Feng Siong dan Hoa Lie telah tiba.

Di pintu kedatangan, seorang berbaju adat Jawa lengkap dengan surjan dan blangkon menjemput mereka.  Mengantarkan ke mobil yang parkir di tempat parkir VVIP dan biasa dikhususkan untuk para pejabat militer berpangkat tinggi.  Dua motor voorijder dan sebuah mobil pengawalan kemudian membuka jalan bagi mobil mewah berplat hijau dengan logo bintang empat tersebut.

------

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2