Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Karyawan Swasta

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Mencambuk Diam

13 Oktober 2017   15:58 Diperbarui: 13 Oktober 2017   16:29 193 1 0

Bergelut dengan kata selicin belut, membuatku berpikir laksana angin ribut.  Dimana letak frasa yang seharusnya diucapkan.  Sedangkan kalimat sekarang lebih suka jika dihamburkan.

Pelangi tak pernah berduka.  Warnanya juga tak bisa menua.  Mendatangi mata tanpa perlu memberikan tanda mata.  Indahnya sudah cukup untuk membebat luka.

Malam tertatih datang sebab senja terlalu lama mendandani muka.  Bedaknya dari mendung yang pecah dihancurkan angin.  Maskaranya diambil dari patahan bulu ekor Kolibri.  Pemanis bibir dipinjam dari perasan daun jati.  Sedangkan rona pipi tersipu karena disentuh oleh daun Puteri Malu.

Tak usah takut lagi untuk mencambuk diam.  Keluarkan segala yang berbunyi lantang.  Diam bukan lagi emas.  Diam itu awal mula dari cemas. Ibarat laut tenang namun ternyata menyimpan badai yang siap mengganas.

Jakarta, 10 Oktober 2017