Mohon tunggu...
Milkhaturrohman
Milkhaturrohman Mohon Tunggu... Mahasiswa Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Menulislah, karena itu bisa membuatmu ingat!!!

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Memahami Karakteristik Peserta Didik di Sekolah Dasar melalui Implementasi Nilai Religius

3 Desember 2020   14:00 Diperbarui: 3 Desember 2020   14:02 41 0 0 Mohon Tunggu...

PENDAHULUAN 

               Pada kodratnya manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang diciptakan dengan segala kesempurnannya. Hal yang paling menonjol dari apa yang Tuhan berikan kepada manusia adalah dengan memberikan kita akal yang dapat kita gunakan untuk membedakan baik maupun buruk dalam segala situasi maupun kondisi, akal juga mampu membuat kita berfikir untuk mengembangkan potensi yang kita miliki walaupun dalam hal ini masih ada kekurangan ynag menyertai kita. Manusia juga diciptakan mempunyai ambisi dan nafsu namun dalam hal ini kita masih dapat mengontrol dan mengarahkan pada hal positif. 

               Apabila kita berbicara mengenai pembelajaran maka disini peran kita sebagai pendidik harus ekstra sebab kita harus mampu menganalisis situasi dan kondisi peserta didik yang mana hal ini berpengaruh penting bagi perkembangan mereka. Dalam hal ini (Martini,2012) "Anak tidak berkembang secara otomatis, namun mereka dipengaruhi oleh cara lingkungannya. Ketika seorang anak memasuki lingkungan sekolah awal non formal yang baru seperti taman kanak-kanak bagi pemula, maka ruang dan kesempatan untuk berinteraksi semakin luas. Stimulasi yang diberikan oleh pendidik juga berpengaruh. Cara pendidik memberikan stimulus terhadap anak adalah tergantung pada pemahaman pendidik terhadap anak."

               Dalam hal ini anak didik yang memasuki sekolah dasar juga akan memiliki kesempatan yang sama untuk berinteraksi serta berkembang dengan luas melalui lingkungan sekolahnya. Namun selain yang disebutkan tersebut factor lingkungan lain juga berpengaruh seperti, keluarga dan juga masyarakat. Dalam hal ini kita akan memahami karakteristik peserta didik melalui Implementasi nilai religious.

PEMBAHASAN

               Pada hakikatnya seseorang yang baru terlahir ke dunia adalah ibarat sebuah kertas putih yang masih kosong. Tulisan akan terbentuk pada dirinya tergantung dengan lingkungan sekitar, ibarat kata sifat kita tergantung sekitar kita jajahi. Dalam hal ini lingkungan merupakan hal penting yang ikut andil dalam pembentukan karakter seorang anak, karena dari lingkungan tersebut memiliki efek samping yang mana apabila lingkungan tersebut baik maka mampu menciptakan serta mengembangkan moral, nilai-nilai budaya sosial maupun karakter anak begitu pula sebaliknya apabila lingkungna tersebut buruk maka akan membentuk karakter maupun moral anak tersebut menurun. Dalam konteks segi anak didik, sangat tampak bahwasannya anak didik hidup diantara lingkungan masyarakat tempat ia berbaur dengan pendidikannya.

               Menurut Ki Hajar Dewantara lingkungan tersebut meliputi; lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat. Yang man hal ini disebut "Tripusat Pendidikan" atau lingkungan pendidikan. Sesuai uraian tersebut maka Lingkungan keluarga adalah lingkungan perkembangan anak yang pertama dan utama yang mana dalam hal ini karakter anak terbentuk dari apa yang orang tua mereka ajarkan, apa yang anak itu lihat dan dengar dari orang tua maka itu akan menjadi karakter awal dalam perkembangan mereka, apabila lingkungan keluarga baik maka anak bisa juga baik, namun sangat disayangkan di zaman sekarang banyak anak-anak kecil yang sudah pernah berbicara kasar dari apa yang mereka tonton di kesehariannya dalam keluarga. Oleh karena itu dalam konteks lingkungan ini  keluarga harus mampu menetralkan maupun mengarahkan pada hal yang baik untuk perkembangan anak. Yang selanjutnya adalah lingkungan sekolah, yang mana disini tugas pendidik adalah mendidik anak didik.

               Dalam hal ini sekolah bertangggung jawab atas pendidikan anak yang diserahkan kepadanya. Lingkungan ini juga berpengaruh besar terlebh didalam lingkungan ini terdapat teman sebaya yang bisa saja mempengaruhi terlebih mereka berasal dari lingkungan keluarga yang berbeda, mengutip dalam sebuah Jurnal (baharuddin, 2018: 384) bahwa pendidikan karakter disekolah berpengaruh pula pada peserta didik  "Character education becomes the basic of learning in schools, because the implementation of character or student should be given early on. The ethict of care can be seen as fundamentally relational, not individual-agent-based in the way of virtue ethics, and the ethics of care is more indirect than character education. Mastery of character education can`t be seen from the student answer the question, but they can be seen from daily behavior. Implementation of character education is the daily attitude of a person that reflact the character it self, so habituation of a good attitude is the right step in the learning procces"  yang mana mempunyai arti bahwa "Pendidikan karakter menjadi dasar pembelajaran di sekolah, karena pada implementasinya karakter atau siswa harus diberikan sejak dini.etika kepedulian dapat dilihat sebagai dasar relasional, bukan berbasis individu-agen dalam cara beretika kebijakan, dan etika kepedulian lebih tidak langsung lagi dari pada pendidikan karakter. Penguasaan pendidikan karakter tidak dapat dilihat dari cara siswa menjawab soal, tetapi dilihat dari perilaku sehari-hari. Pelaksanaan pendidikan karakter merupakan sikap keseharian seseorang yang mencerminkan karakter itu sendiri, sehingga pembiasaan sikap yang baik merupakan Langkah yang tepat dalam proses pembelajaran". Oleh karena itu sebaiknya kita memperhatikan pemilihan sekolah yang tepat seperti memperhatikan segi spiritual, emosional. Jasmani, intelektual serta sosialnya.

               Yang  selanjutnya adalah lingkungan masyarakat, yang mana lingkungan ini biasa disebut sebagai lingkungan masyarakat. Setiap manusia tidak akan dapat terlepas dari lingkungan masyarakat, penataan dan pemilihan lingkngan yang baik akan berpengaruh juga pada perkembagan intelektual maupun karakter anak didik. 

Namun akhir-akhir ini sangat disayangkan karena bangsa kita sudah mulai melupakan jati dirinya, baik itu dari kalangan para pejabat maupun orang masyarakat awam yang sudah mulai tergerus karakter bangsanya.  Jika hal ini tetap berjalan maka dapat mengakibatkan kegerusnya aspek kehidupan bangsa seperti social, ekonomi, politik maupun agama. Jika kita amati banyak sekali contohnya seperti dari aspek social, masyarakat bersikap acuh tak acuh terhadap saudara sebangsa yang membutuhkan pertolongan, ada pula hal yang sering kita dengar yaitu bullying yang sering terjadi di lingkup pendidikan, tenru saja hal semacam itu sangat disayangkan apabila tetap berlanjut, yang selanjutnya ada juga dari segi politik, yaitu praktek korupsi yang mana praktek ini justu dilakukan oleh pejabat pemerintah yang seharusnya memberi pengayoman bagi warganya justru malah mengambil hak mereka demi dirinya dan keluarganya. Dan apabila kita memperhatikan lagi dari segi agama dewasa ini, yang mana banyak sekali aliran-aliran baru yang mulai muncul tuk mencari banyak pengikut.

Dan jika hal tersebut tetap berlanjut maka karakter generasi penerus bangsa dapat terkontaminasi. Karena bangsa ini bergantung pada karakter individu untuk menciptakan peradaban yang maju. Seperti yang diwanti-wantikan oleh presiden petama Negara Republic Indonesia, mengutip dari Muchlas dan Hariyanto (2013:1) yang mana Bung Karno menegaskan bahwasanya " Bangsa ini harus dibangun dengan mendahulukan pembangunan karakter karena Character building inilah yang akan membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju dan jaya, serta bermartabat. Kalau Pendidikan karakter ini tidak dilakukan, maka bangsa kita akan menjadi bangsa kuli".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x