Mohon tunggu...
Miarti Yoga
Miarti Yoga Mohon Tunggu... Konsultan Pengasuhan

Mengenal Diri, Mengenal Buah Hati

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Ketika Orangtua Tanpa Jejak Belajar

8 Juli 2020   07:36 Diperbarui: 8 Juli 2020   07:28 72 12 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ketika Orangtua Tanpa Jejak Belajar
https://www.suara.com/

Oleh: Miarti Yoga

Seperti halnya teori rizqi, bahwa apa yang dimaksud rizqi itu adalah perihal yang dimakan dan digunakan. Pun dengan ilmu. Bahwa hakikat dari ilmu adalah apa yang kita pahami dan apa yang kta amalkan.

Kadang atau bahkan sering, di antara kita sebagai rang tua mengeluhkan kondisi anak, atas hasil belajar yang telah ditempuh. Meminjam spontanitas orang Sunda, "Diajar teh euweuh tapakna" (Belajar tapi tidak ada hasilnya. Tak berbekas).

Jika dikaitkan dengan modal yang telah kita keluarkan, bukan tak ada perasaan "rugi". Rugi telah mengeluarkan sekian biaya, namun tak ada efek atau tak ada hasil yang signifikan, yang kasat mata, yang jelas "juntrungannya". Tentu saja, hal ini menjadi bahan keresahan tersendiri. Atau ketika kita sedang dalam kondisi tak tenang, batin bisa bergumam; "Sakitnya tuh di siniiiiii."

Salah satu hakikat pendidikan adalah GRADUAL. Artinya, ada tahap-tahap atau proses perbaikan yang didapat. Sebalinya, pendidikan tak bisa dibangun dengan cara-cara instan. Misalnya, anak usia 4 atau 5 tahun dipaksa untuk bisa membaca dalam tempo belajar yang super singkat. Dua pekan atau satu bulan bisa baca, misalnya.

Contoh instan lainnya adalah ketika kita mengirimkan anak ke sebuah pesantren, lalu kita mentarget dengan target langit spekalutif alias tanpa perhitungan. Kita berharap bahwa setelah kelak satu semester anak kita pulang ke rumah, lalu anak kita harus berada dalam kondisi sholeh, tertib, patuh, hafal sekian banyak juz, dan lain-lain. Ini pun bagian dari pola berpiikir yang tak berhakikat. Karena memang lembaga pendidikan bukan tempat untuk kita menitipkan anak kita SEUTUHNYA.

Hakikat berikutnya, bahwa pendidikan adalah sebuah proses utuh menyeluruh. Artinya, ketika anak kita dididik, ditempa, dilatih, itu bukan saja untuk mendapat hal-hal yang sifatnya knowledge (pengetahuan). Melainkan, bagaimana mereka terbangun RASA (cerdas emosi), serta bagaimana mereka mendapat keterampilan hidup dan dan bagaiamana pula mereka dapat membuktikan ilmu-ilmu yang dapat dalam konteks kehidupan (psikomotorik).

Jadi, ketika setiap hari anak kita diingatkan untuk sholat, lalu materi bacaanya pun sudah mereka kuasai (baik dri madrasah terdekat maupun dari sekolah), namun pada kenyataan mereka cukup sulit untuk sekadar bangkit menunaikan sholat. Ada apa gerangan? Kenapa mereka begitu "hoream" (berat)? Kenapa wawasan dan wejangan seputar sholat itu seolah tak membekas?

Apakah semata-mata enggan, atau tak cukup alasan alias kurang motivasi terkait mengapa mereka harus melakukan hal tersebut. Tentunya hal ini, perlu kita gali. Khususnya, bagaimana keterampilan kita sebagai orang tua dalam hal MENGGALI ALASAN. Hal ini akan sangat erat kaitannya dengan motivasi, dengan kebersediaan mereka menjalani sesuatu.

Namun di luar itu semua, ada satu hal yang menjadi bahan muhasabah bersama terkait MODEL. Kita sebagai orang tua, sebagai guru di sekolah, hakikatnya adalah MODEL. Tepatnya, ROLE MODEL. Keseharian kita, itu akan menjadi jejak KESIMPULAN bagi anak. Artinya, mereka akan menyimpulkan sebuah PERSEPSI dari cara kita bersikap, dari cara kita berbicara, dari cara kita memerintah, dari aktivitas sehari-hari kita.

Dan kita yang hari ini sebagai sebuah lulusan dari universitas tertentu, dari lembaga pendidikan tertentu atau bahkan dari agenda-agenda pelatihan tertentu, lalu tidak beraktivitas yang sesuai dengan ilmu yang pernah diampu atau tidak sesuai dengan jurusan yang pernah kita ambil. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN