Mohon tunggu...
meuti bulan
meuti bulan Mohon Tunggu... Freelancer

Menulis dan Freelancer.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

"A Child Called 'It'" oleh David Pelzer, Sebuah Kisah Kekerasan terhadap Anak

8 Juni 2021   09:34 Diperbarui: 8 Juni 2021   09:50 68 2 0 Mohon Tunggu...

Pada malam hari, aku tidak lagi bermimpi. Pada siang hari, aku tak membiarkan diriku berangan-angan. Khayalan-khayalanku menjadi Superman yang dulu begitu hidup, sekarang tak ada lagi. Saat tertidur, jiwaku bagai masuk ke sebuah lubang hitam. Pada pagi hari aku tak lagi terbangun dalam keadaan segar; aku selalu merasa lelah dan berkata pada diri sendiri bahwa hidupku di dunia ini berkurang satu hari lagi, selalu dengan perasaan takut, setiap hari. Tanpa satu pun mimpi, kata-kata seperti harapan dan iman bagiku hanya rangkaian huruf yang tersusun begitu saja menjadi sesuatu yang tak punya arti- kata-kata seperti itu cuma ada dalam dongeng.(David Pelzer;124).

Ibukulah yang paling kubenci. Aku berharap dia mati saja. Tetapi sebelum dia mati, aku ingin merasakan berlipat kali rasa sakit dan kesepian yang kurasakan selama bertahun-tahun. (David Pelzer;125)

Tetapi yang paling aku benci sebetulnya adalah diriku sendiri. Semakin hari aku semakin percaya bahwa segala sesuatu yang menimpa diriku atau terjadi di sekitarku adalah akibat kesalahanku sendiri karena aku membiarkan semua itu berlangsung sekian lama. Aku menginginkan apa yang dimiliki orang lain, tetapi aku tak bisa memilikinya, maka aku membenci semua orang yang memiliki apa saja yang tak bisa kumiliki. (David Pelzer;128)

Bertahun-tahun ibu mencuci otakku dengan menyuruhku berteriak sekeras-kerasnya, "Aku benci diriku! Aku benci diriku!" Usahanya itu berhasil. Beberapa minggu sebelum aku masuk ke kelas lima, aku merasa sangat membenci diriku sendiri sampai-sampai aku merasa ingin mati saja, (David Pelzer;128)

Membaca nukilan kisah masa kecil David Pelzer di atas, yang diceritakan dalam buku A Child Called 'It sukses membuat saya menangis, membaca paragraf demi paragraf tulisan David, membuat saya berpikir, betapa kelam masa kecilnya. 

Semestinya, di usia anak-anak dia bisa menikmati masa kecilnya. Bermain, dan menikmati kebahagiaannya memperoleh kasih sayang, rasa aman dan nyaman dari kedua orangtua. Namun, sayang yang di dapatkannya hanyalah sebuah penyiksaan baik verbal maupun non verbal. Dan, itu dilakukan oleh orang terdekat dalam kasus ini, ibunya.

Klimaks dari penyiksaan terhadap David mampu membuat David membenci dirinya sendiri hingga muncul sebuah pengharapan agar hidupnya segera berakhir saja. Keputusasaan yang mendalam membuat David berpikir jika, yang terbaik adalah sebuah kematian. Dalam benak David tertanam, jika, dia bukan siapa-siapa, bukan apa-apa. Dia sekedar "sesuatu" atau "It". 

Identitas diri yang dihilangkan mampu mematikan diri David. Penyiksaan tersebut diperparah dengan adanya bullying dari teman sekolah. Akibatnya fatal, David menjadi seorang anak yang tertutup, cenderung menyendiri, merasa rendah diri, dan tidak memiliki rasa percaya diri .

Rentetan kisah tragis David Pelzer tersebut, membuat saya terhenyak betapa lingkungan terdekat yang seharusnya bisa menjadi sebuah tempat ternyaman dan ter-aman, ternyata berubah menjadi sebuah neraka bagi dirinya. Entah apa, yang mendasari perilaku ibu David hingga mampu melakukan penyiksaan yang melukai psikis dan fisik putranya. Namun, hal tersebut membuat saya berpikir jika lingkungan terdekat bisa menjadi sebuah tempat yang berbahaya dan menakutkan bagi seorang anak.

Di dalam negeri sendiri, akhir-akhir ini, berita yang berisi kekerasan terhadap anak meningkat. Berdasarkan Pelaporan Pada Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMPONI PPA) hingga 3 Juni 2021 terdapat 3.122 kasus kekerasan terhadap anak.(Tribunews.com). 

Dari kasus tersebut, yang mendominasi adalah kasus kekerasan seksual terhadap anak. Pemerintah sendiri sudah berupaya melakukan penanganan  kasus kekerasan terhadap anak secara utuh dan terintegrasi, mulai dari pengaduan hingga pendampingan terhadap anak korban kekerasan. (media indonesia.com).

Baru-baru ini, warga di wilayah Purbalingga dan sekitarnya, digemparkan oleh pesan berantai berupa video dan foto-foto seorang anak berusia 7 tahun bernama Ro, yang diikat dan dirantai orangtuanya, sebab ditinggal bekerja di pasar. 

Kejadian tersebut ditengarai bukan hanya sekali terjadi melainkan sudah beberapa kali terjadi, Namun, pada tubuh Ro, tidak ditemukan bekas siksaan dan di lokasi tersebut juga disediakan makanan dan minuman untuk si anak.

Berdasarkan pengakuan tetangga dekat mereka, diperoleh sebuah informasi jika, keluarga mereka jarang bersosialisasi dengan tetangga dan tidak pernah datang dalam kegiatan yang diadakan RT dan RW, dan mereka juga terkenal galak dan keras dalam mendidik Ro (Kompas.id).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN