Mohon tunggu...
Metik Marsiya
Metik Marsiya Mohon Tunggu... Menembus Batas Ruang dan Waktu

Praktisi Manajemen, Keuangan, Strategi, Alternatif dan Spiritual. Kutuliskan untuk anak-anakku, sebagai bahan pembelajaran kehidupan. ... Tidak ada yang lebih indah, saat menemani kalian bertumbuh dengan kedewasaan pemahaman kehidupan.... ................ tulisan yang selalu teriring doa untuk kalian berdua....

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Membaca Kesulitan Pemimpin Hari Ini, Spiritual Negeri

31 Mei 2020   02:25 Diperbarui: 2 Juni 2020   04:51 83 7 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Membaca Kesulitan Pemimpin Hari Ini, Spiritual Negeri
melamun, koleksi pribadi

"Apa yang kau lihat, anakku?" Ki Juru bertanya kepadaku dengan suara datar dengan nada yang sangat rendah. Mata Ki Juru memandang ke jauh ke bawah, dalam sebuah hamparan pemandangan yang selalu menarik dari sudut pandang Paseban Agung Batin.

Kami duduk bersama-sama dengan beberapa sesepuh lainnya, membentuk setengah lingkaran. Bersama-sama memandang hamparan pemandangan yang setiap saat bisa dijadikan sebuah kamera yang bisa dizoom setiap saat, untuk menunjuk pada objek-objek yang dibicarakan. Bahkan arah pandangan bisa dipindahkan setiap saat dengan kapasitas lensa kamera yang tidak terbatas.

Aku masih diam sesaat dengan menautkan jari jemariku dalam satu genggaman tangan sambil menggerakkan bola mata, melihat ke sekeliling, menoleh ke kiri dan ke kanan. Memperhatikan wajah-wajah sesepuh, membaca apa yang ada di dalam isi hati mereka. Membaca pikiran dan perasaan yang bisa terlihat dengan jelas di wajah-wajah datar. Sesepuh-sesepuh yang sudah belajar banyak tentang pengendalian diri, pengendalian pikiran dan perasaan.

Aku menarik nafas panjang. Saat tengah malam begini, saat dunia tertidur lelap, saat jagad raya benar-benar dalam sebuah kesunyian, bagi kami, tidak ada gelap, karena tidak ada malam. Bahkan di saat-saat seperti ini, jagad batin kadangkala bersinar dengan gemilang. Hal ini membuat mata kita bisa menerobos jauh ke dalam batin-batin manusia yang sedang berdamai dengan tidur malamnya.

"Terlalu banyak yang dilihat, saya bingung bagaimana cara mengungkapkannya". Sesepuh memandangku dengan penuh minat. "Kamu!" Panembahan Senopati tersenyum heran. "Bukankah kepalamu selalu penuh dengan banyak hal yang bisa kau sampaikan dengan mulut kurang ajarmu itu dengan sangat baik, bahkan, kamu akan menyampaikan banyak hal dengan sangat-sangat lancar dengan cara kurang ajar. Dan sekarang? Kamu telah kehilangan kata-kata untuk mengungkapkannya. Apakah kamu sudah tidak menjadi pintar lagi, atau kamu sudah begitu bodohnya. Hmmm, atau kamu ingin menjadi anak yang manis dan sopan? Waduh, rasanya aku masih kaget menerima ucapanmu barusan." Panembahan Senopati mengungkapkan dengan pandangan jahil kepadaku.

Aku menggosokkan kedua telapak tanganku, merasakan rasa panas di kedua permukaannya. Mataku  beralih pandang dari lantai Paseban ke jagad negeri ini.

"Bukannya bodoh, tetapi aku tidak tega untuk menyampaikannya."
"Bagus, perkembangan bagus ini, kamu belajar menjadi sedikit manis." Ki Juru menimpali kalimatku.

"Tepatnya begini, Ki. Ternyata dengan diam aku juga ikut ketularan  menjadi bodoh seperti yang sedang aku lihat."
Terdengar tertawa sesepuh bersamaan membahana memecah kesunyian Paseban Agung.

"Jadi kamu mau mengungkapkannya?"
"Pastilah, sebelum aku akan semakin bodoh karena tidak bisa berpikir dengan jernih."

Aku berusaha menjelaskan apa yang ada di pikiranku dengan sesepuh, sebagai bahan diskusi pembelajaran batin bagi seorang pemimpin untuk melihat permasalahan dengan jernih, tidak terikat dengan kepentingan-kepentingan pribadi yang membutakan mata hati.

Permasalahan di negeri ini sudah seperti lingkaran setan yang saling membelit satu dengan yang lain dari dulu. Sama halnya jika digambarkan bagaikan sebuah benang kusut yang membelit banyak pecahan kaca dan jarum-jarum runcing yang tajam di kedua ujungnya. Untuk memperburuk gambaran keadaannya, jarum itu sudah karatan di semua sisinya.  Sudah sewajarnya, jika harus membenahi keruwetan itu, kita harus mencari ujungnya, atau menarik satu demi satu bagian-bagian yang diikatnya. Tapi untuk kasus ini,  dari mana kita benahi, maka saja kita akan melukai diri sendiri. Pilihan paling mudah adalah melanjutkan hidup sendiri. Kemenangan sudah di tangan.

Permasalahan jelas, jalan keluar jelas, tetapi yang tidak mudah adalah kepentingan demi kepentingan yang harus diakomodasi. Sekarang sudah mulai mengesampingkan pendukung atau bukan pendukung yang penting sesuai dengan dirinya. Sesuai dengan maunya. Itu juga belum cukup. Menempatkan yang sesuai dengan maunyapun ternyata tidak mudah, karena dalam politik selalu saja banyak penumpang gelap, baik ambisi pribadi maupun ambisi orang lain yang akhirnya menjadi sebuah perusak sebuah pandangan objektif akan sebuah permasalahan.

Jabatan dan kekuasaan, akhirnya muncul sebagai simbol sebuah kerakusan dan ketamakan diri sendiri. Memilih pemimpin dari mereka yang menyodorkan dirinya sendiri, sama saja kita memilih mereka yang ambisi, yang artinya telah mengantongi kepentingan dan penumpang gelap yang akan ikut. Memilih yang diam, artinya sama juga memilih orang yang belum siap untuk perang di medan rimba kekuasaan yang penuh dengan intrik-intrik tiada akhir, sikut menyikut, saling menjatuhkan, saling menendang. Sama-sama sulit.

Awalnya kita paham bahwa pemimpin ini punya niat baik, tetapi dikelilingi dengan orang-orang yang berusaha memutus rantai dengan sekelilingnya, dengan orang-orang yang berpikiran jernih, akan membuat dirinya juga sama dengan orang-orang di sekelilingnya, tidak jernih dan akhirnya memenangkan pertandingan dengan membunuh banyak langkah banyak orang. Semua ini, entah disadarinya atau tidak.

Keputusan yang diambil kadangkala menjadi tidak sesuai dengan dirinya sendiri, karena lama-lama dia sudah tidak mengenal dirinya sendiri. Keputusan yang diambil menjadi berubah-ubah, karena dia tidak tahu mana yang benar dan salah. Langkahnya ambigu, karena dia tidak tahu siapa lagi yang bisa dipercaya. Sejujurnya langkahnya gelap, karena awalnya dia besar dari kemampuan memfilter ide dari orang-orang di sekelilingnya. Saat sekarang semua pintu sekelilingnya ditutup oleh orang-orang di dekatnya atas nama siapa yang berada paling dekat, ring 1 dan ring 0. Atas nama hanya yang paling dekat yang boleh bicara. Kasihan sekali, tetapi yang paling kasihan adalah negeri ini, selalu carut marut, dan mau tidak mau rakyat harus berjuang untuk berdiri sendiri di kakinya. Rakyat harus menutup mata untuk semua keabsurdan dunia elit pemimpin yang tidak pernah berakhir.

Lelah, letih, pusing dan tentu saja bingung. Tetapi dalam situasi sekarang ini perlu sesaat untuk merenung dan kembali mencari orang-orang yang ada di luar lingkarannya yang masih bisa diajak bicara dengan jernih dan bisa melihat sudut permasalahan dengan baik. Orang-orang yang bijak, yang cerdas, yang mumpuni tetapi tidak haus kekuasaan. Memang tidak mudah mencarinya, tetapi akan selalu ada orang-orang seperti ini yang bisa menjadi teman saat dalam kesulitan dan tidak akan menjerumuskannya.

"Demikian Ki juru, mungkin masih terlalu sedikit, lain kali kita sambung kembali," Aku menyudahi pertemuan ini. Akhirnya entah kenapa jadi aku ikut menjadi letih dan lelah, padahal belum menjadi pemimpin negeri, hanya melihat sekilas saja. Benar-benar menghabiskan seluruh energi ini.

VIDEO PILIHAN