Mohon tunggu...
Andayo Ahdar Notes
Andayo Ahdar Notes Mohon Tunggu... menulis, membaca satu paket untuk melihat bangsa

menata hati,menitih jalan menuju cahaya terpancarkan iman sebagai jalan panjang yang harus kutempuh

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Tikus pun Melaut

13 Juni 2020   11:27 Diperbarui: 13 Juni 2020   11:23 42 1 0 Mohon Tunggu...

 Tikus pun Melaut
hiruk pikuk manusia yang beraktifitas  dikeramaian.  Begitu jelas terlihat hamparan yang membiru. Dengan riak gelombang menghempas-hempas kami yang berada pada sebuah kapal. Aktifitas manusia layaknya berada didaratan yang memiliki maksud dan tujuan yang sama,yakini segera sampai ditujuan dengan selamat.

Dengan kapasitas yang besar, tentunya sangat memungkinkan membawa bawaan yang besar pula. Itu bisa dilihat dari bawaan para penumpang yang terkadang melebihi kapasitas daya angkutnya. Ooh, ya. Kapal yang kami tumpangi kali ini tidak hanya mengangkut manusia namun kendaraan mulai dari roda dua dan roda lebih dari dua.

Menumpuknya barang adalah hal biasa dalam perjalanan laut. Perjalanan yang mengharuskan kita menikmati hari, sehari, dua hari ataupun seminggu tergantung rute maupun kestabilan dan umur kapal. Disetiap sudut bisa dijumpai jejeran-jejeran barang dan sekelompok manusia yang seakan mengisyaratkan ‘wilayah kekuasaan’ mereka. 

Yaa bisa dipastikan kelas ekonomi yang tersebar hingga digeladak yang berhadapan dengan laut lepas. Ini tidak bisa dinikmati oleh penghuni kapal yang kelas khusus meski tarifnya lebih mahal. Special for economic class..
Barang atau bawaan penumpang begitu bervariasi, hingga tak sadar, muatan lainnpun terikut yaitu barang yang tidak semestinya ikut naik ke kapal.

Interaksi sesama penumpang terjalin dan kenalan pun bertambah. Maka luaslah pergaulan hingga terjalinlah “ komunitas “ dadakan. Namun disela-sela komunitas itu, hal yang tak lazim hadir sebagai bahagian dari komuitas. Kehadirannya tidak pernah disangka apalagi diharapkan. Hadirnya malah membuat suasaana tidak nyaman bagi seluruh penghuni kapal.

Riuh,beberapa penumpang akibat ulah penumpang liar itu. Melesat dengan cepaty disela-sela kaki. Perasaan jijik dan jengkel menyeruak diantara mereka meski ada juga yang cuek dengan keadan itu.  “ ah, biasa aja itu.” Siapakah gerangan yang bisa mengalihkan sejenak perhatian orang pada kapal tersebut.

Ya,dia adalah salah satu makhluk ciptaan Allah. Tikus. Binatang yang sebahagian hidupnya lebih banyak nocturnal daripada eksis disiang hari. Sungguh mencengangkan, kok bisa ya, Tikus ikut melaut padahal hidupnya  didaratan atau adakah makhluk lain yang bernama Tikus Laut seperti halnya Anjing laut, Singa Laut ataupun Kuda Laut. Pertanyaan yang sebenarnya tidaklah susah untuk dijawab.

Kehadirannya bukanlah sesuatu yang di skenariokan, penumpang gelap. Darimana mereka datang?. Apakah berenang dari daratan hingga naik ke kapal,karena tidak  mampu membeli tiket?. Ahh, pertanyaan yang konyol.###

Dari ratusan atau bahkan ribuan penumpang, bawaan atau barang yang mereka angkut ke kapal susah untuk dideteksi satu persatu. Nah inilah yang dimanfatkan oleh Tikus untuk bisa lolos tanpa tiket naik ke kapal. Maka, bisa ditebak, penumpang menjadi carrier akan hadirnya tikus di kapal tanpa mereka ketahui. 

Tikus pun kini merasa nyaman dengan tempat barunya, ‘New normal’ bagi tikus. Tempat tinggal baru dan area jelajah baru. Ternyata bukan hanyaTikus, makhluk kecil yang hidup dikapal, Kecoa juga senantiasa menghampiri.  Kisah tentang Tikus ini, terjadi beberapa tahun silam.

Era berganti, gaya hidup juga beragam. Dunia kini fokus pada wabah yang mencekam. Korban berjatuhan menjadi topik berita di channel-channel televisi. COVID 19. Menyebar dengan cepat, lintas samudera,lintas Negara.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x