Mohon tunggu...
maya hafizah
maya hafizah Mohon Tunggu... Lainnya - blogger

Blogger sejak 2017, bergabung kompasiana 2023 keseharian Membaca,Menulis,Nonton.

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Ketika Dimensia Disebut karena Faktor Kerasukan

17 Maret 2023   11:30 Diperbarui: 17 Maret 2023   11:41 59
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Image captiohttps://hellosehat.com/saraf/alzheimer/faktor-penyebab-demensia-adalah/n

Melihat kerabat yang kita sayangi mengalami masalah dengan ingatan mereka bisa menjadi pengalaman yang sangat menyakitkan dan memilukan. Namun, ini adalah kenyataan yang harus dihadapi oleh banyak keluarga di seluruh dunia, terutama ketika kerabat mereka mengalami Dimensia.

2  hari yang lalu saya menerima telepon dari Ibu saya dan mengabari bahwa Kakaknya mengalami lupa ingatan, saya bergegas menuju ke tempat tinggalnya ,dan disana anak-anaknya sedang berkumpul , suaminya terlihat syok dan menangis, lalu saya menyapa bibi saya, disitu saya melihat dia baik-baik saja namun 3 menit kemudian ia menanyakan bagaimana saya tiba disana dan setiap 3 menit kemudian dia menanyakan hal yang sama,   tiba tiba saya teringat sebuah film yang berjudul My only One 2018 di film tersebut itu adalah Gejala Dimensia pada orang tua.

Secara umum demensia adalah istilah untuk kepikunan, yang merupakan gangguan otak yang berdampak pada kemampuan seseorang untuk berkomunikasi dan melakukan aktivitas sehari-hari. 

Gejala demensia merupakan suatu kondisi yang biasanya berkembang secara perlahan-lahan dan terus memburuk seiring waktu jika tidak mendapat perawatan atau pencegahan dini.

Saya lalu memberitahukan kepada keluarganya untuk membawanya ke RS ke poli bedah saraf atau ke IGD agar dokter IGD bisa menyarankan ke poli mana Pasien bisa ditangani,bahkan saya mengatakan tidak perlu khawatir biaya saya akan membantu secara maksimal,

namun keluarganya bersikeras bahwa kakak mama saya telah kerasukan, saya memaklumi pendapat mereka karena mereka tidak memliki pengetahuan tentang dunia kesehatan, saya bahkan memberikan contoh ketika orang dengan gangguan psikologis bisa pulih dengan perawatan yang tepat {ada di artikel sebelumnya dengan judul Pengalaman pribadi merawat penderita skizofrenia]

saya melihat sepupu saya menelpon seorang pakar agama {ustad}setelah itu saya kembali pulang kerumah, saya tidak bisa menolongnya lagi.
 

Esoknya saya datang lagi melihat kondisinya, dan saya lihat  kakak mama saya mengalami kepulihan, dia hanya lupa ingatan yang kemarin saat saya datang dan sebelum saya datang dihari yang sama, saya masih menawarkan untuk cek kesehatan sekali lagi namun lagi-lagi mereka sepakat mengatakan penyebabnya karena kerasukan, dan saya pun menyerah, saya hanya menyarankan untuk memberikan makanan yang sehat seperti nasi dan sayuran hijau, serta sering di ajak bicara agar tidak depresi atau kelelahan serta tidur yang cukup.

Pengetahuan tentang dunia medis sangat penting untuk mengubur mitos tentang kerasukan yang dikaitkan dengan demensia,skizofrenia,bipolar,atau jenis lainnya sementara itu, Demensia adalah kondisi kesehatan yang kompleks dan mempengaruhi fungsi otak, termasuk memori, bahasa, persepsi, dan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Banyak orang mengaitkan demensia dengan kerasukan atau kutukan, yang dapat mengarah pada stigma dan diskriminasi terhadap orang yang mengalami kondisi ini. Namun, pengetahuan medis yang memadai dapat membantu untuk menyingkirkan mitos ini dan memperbaiki pemahaman tentang demensia. Melalui pendidikan dan pemahaman yang lebih baik tentang penyebab, gejala, dan pengobatan demensia, kita dapat mempromosikan kesadaran dan dukungan yang lebih besar bagi orang-orang yang hidup dengan kondisi ini, dan menghindari pandangan yang salah tentang sifat dan akar penyakit ini.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun