Mawan Sidarta
Mawan Sidarta wiraswasta, Lulusan S1-Agronomi UNEJ

Bukan reporter sembarang reporter tapi reporter Kompasianadotcom. Traveler berwarna. Sudah menikah punya satu anak. Sekarang usaha kecil-kecilan di rumah. Bravo Kompasiana https://www.instagram.com/mawansidarta https://www.facebook.com/mawan.sidarta https://twitter.com/MawanSidarta1

Selanjutnya

Tutup

Kuliner Artikel Utama

Saat Plesir ke Gresik Coba Sarapan "Lontong Balap Sekar Putih" Ini...

28 September 2018   22:12 Diperbarui: 29 September 2018   12:54 2114 9 10
Saat Plesir ke Gresik Coba Sarapan "Lontong Balap Sekar Putih" Ini...
Kemaron tempat sayur kecambah lontong balap (dok.pri)

Mungkin karena letaknya yang saling berdekatan sehingga beberapa kuliner khas beberapa daerah seperti Surabaya, Sidoarjo dan Gresik bisa kita temukan di ketiga kota tadi.

Sebagai contoh Nasi Krawu yang merupakan kuliner khas Kota Gresik tak jarang juga saya temukan saat bepergian ke Surabaya atau Sidoarjo. Sementara itu lontong balap dan rujak cingur yang merupakan makanan khas warga Surabaya juga dengan mudah saya temukan di Sidoarjo dan Gresik.

Demikian pula dengan makanan khas yang berupa lontong nasi dipadu olahan kerang kupang (moluska laut) yang oleh masyarakat Sidoarjo dan Surabaya disebut lontong kupang itu ternyata juga banyak saya temukan di Gresik.

Seminggu lalu, saat kami bertandang ke rumah keponakan yang ada di kawasan Pongangan, Manyar-Gresik, kebetulan Minggu pagi itu kami memang berniat jalan-jalan melihat kawasan perumahan sambil mencari makanan untuk sarapan pagi.

Setelah mencari-cari nggak ketemu apa yang cocok untuk sarapan pagi, kamipun mencoba keluar kompleks perumahan. 

Pikir saya, biasanya pada hari Minggu pagi itu banyak kita temukan orang berjualan di jalan utama kompleks perumahan atau para pedagang kaki lima memajang lapak dagangannya di pinggir jalan besar. 

Ternyata kawasan itu masih terlihat sepi, belum terlihat seorang penjual makanan mangkal, padahal suasana pagi sudah beranjak terang. 

dokpri
dokpri
Barulah di perkampungan Sekar Putih, Pongangan-Gresik kami melihat lapak pedagang yang kami ketahui sebagai penjual lontong balap.

Wah..kebetulan sekali gumam saya dalam hati. Sudah lama saya tidak merasakan sensasi kuliner lontong balap yang unik itu.

Saya sendiri juga kaget, lontong balap yang dikukuhkan (entah oleh siapa he..he..) sebagai makanan kebesaran warga Surabaya itu ternyata bisa ditemukan di sebuah perkampungan yang ada di tengah Kota Gresik.

Tanpa banyak pertimbangan sayapun memesan 6 bungkus untuk anak, istri dan para keponakan kami.

Kerupuk mie (kerupuk kuning)(dok.pri)
Kerupuk mie (kerupuk kuning)(dok.pri)
Usut punya usut sang penjual lontong balap yang akrab disapa Pak To itu ternyata sudah puluhan tahun mangkal di Kampung Sekar Putih, Pongangan-Manyar, Gresik.

Usia Pak To sebenarnya sudah tidak mudah lagi, orang di sana mengatakan sekitar 80 tahunan. Anak-anaknya sebenarnya tak ingin lelaki yang sudah pantas dipanggil kakek itu ikut menunggui lapaknya. 

Menurut putra-putrinya, Pak To sudah sepantasnya duduk manis di rumah, tidak perlu capek-capek menunggui lapaknya, mengingat usianya yang sudah renta.

Minggu pagi itu, saat salah satu putri Pak To sedang sibuk melayani para pembeli tiba-tiba Pak To muncul dan langsung ikut membantu melayani pembeli yang antre. 

Putrinya sempat menegurnya agar ia tidak ikut berjualan. Nada teguran sang anak tadi sempat didengar para pembeli tak terkecuali kami dan beberapa tetangga terdekatnya.

Lontong Balap Pak To terkenal di kawasan Pongangan, Manyar-Gresik

Salah satu putri Pak To sedang sibuk melayani pembeli (dok.pri)
Salah satu putri Pak To sedang sibuk melayani pembeli (dok.pri)
Kalau saya perhatikan lapak lontong balap milik Pak To itu masih mempertahankan ciri khas penjual lontong balap khas Surabaya tempo dulu, di mana sayur kecambah (tauge), seledri, daun bawang dan kuah ditempatkan dalam sebuah kemaron, semacam bejana (panci) berukuran cukup besar tapi terbuat dari gerabah (tanah liat).

Katanya sih, sayur kecambah yang dimasak dalam kemaron tanah liat itu akan terasa sedap. 

Kalau penjual lontong balap Surabaya zaman dulu menggunakan lapak yang dipikul, kini para penjualnya sudah menggunakan lapak dorong (beroda) termasuk yang digunakan Pak To sekarang ini karena lebih ringan dan dengan mudahnya berpindah-pindah tempat (fleksibel). 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2