Mohon tunggu...
Herman Wijaya
Herman Wijaya Mohon Tunggu...

Penulis Lepas.

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Kompasiana, Blog yang "Abal-abal?"

30 Juni 2016   16:24 Diperbarui: 30 Juni 2016   16:29 616 23 10 Mohon Tunggu...

Menulis merupakan aktivitas yang menyenangkan, sejauh tulisan yang kita tulis adalah hasil pikiran sendiri, bukan menuangkan pikiran orang lain ke dalam tulisan kita. Tetapi bahwa pikiran orang lain bisa menginspirasi kita untuk menulis, sah-sah saja, asal bukan plagiasi atas pikiran orang lain yang sudah dituangkan ke dalam tulisan, apalagi tidak ada pengembangan atau sumber referensi lain.

Kompasiana merupakan sebuah media online yang membuat penulisnya memiliki ruang tersendiri untuk menuangkan ide dan pikiran ke dalam tulisan. Kompasiana memfasilitasi penulis untuk menjadi blog bagi para penulis, tanpa harus membuat blog sendiri. Dengan kata lain seorang Kompasioner juga seorang blogger.  

Sama seperti blogger yang memiliki blog sendiri, para blogger di Kompasiana juga bebas menulis apa pun yang ada di pikirannya. Sejauh sang penulis bisa mempertanggungjawabkan hasil tulisannya, termasuk dampak hukum yang ditimbulkan.

Yang tergabung di Kompasiana bermacam-macam jenis dan latar belakangnya. Ada yang memang memiliki kemampuan menulis dengan baik atau hanya sekedar menulis. Banyak juga nama-nama terkenal yang suka menulis di Kompasiana.

Menulis di Kompasiana memberikan keasyikan tersendiri. Kita tidak perlu takut diedit oleh redaktur – kecuali untuk tulisan yang bermuatan SARA – atau dibatasi panjangnya. Sampai saat ini saya juga tidak tahu seberapa panjang tulisan yang ditoleransi oleh admin Kompasiana.

Hal ini berbeda dengan menulis di media cetak atau online lainnya, yang selalu dibatasi oleh halaman dan jumlah kata (karakter). Akibatnya apa yang ingin disampaikan dalam tulisan kadang tidak utuh. Walau pun penulis mendapat honor dari tulisannya di media cetak – kalau masih ada yang mau bayar – kepuasan batinnya kadang tidak terpenuhi, karena harus ada bagian-bagian yang menurut sang penulis penting, harus dibuang.

Apalagi menulis di media cetak tidak segampang memasukan tulisan di Kompasiana. Karena menulis di media cetak sebagai kolumnis kadang menunggu tema yang cocok untuk ditulis dikaitkan dengan momen-momen tertentu. Penulis di media cetak juga harus memiliki kriteria tertentu, sebagai bukti sang penulis memang berkompeten. Apakah tulisan yang akan dimuat menarik atau tidak, itu soal lain.

Cara pandang penanggungjawab rubrik opini dalam media cetak terhadap penulis juga ikut berpengaruh. Walau si penulis memiliki kompetensi, tetapi bila Si Penanggung Jawab rubrik menilai sang penulis sudah “kedaluarsa”, bisa saja tulisannnya ditolak.

Beberapa tahun lalu,  saya pernah ngobrol dengan wartawan senior H Rosihan Anwar di Gedung Film Jakarta. Dia mengeluh karena tulisan-tulisannya yang dikirim ke redaksi Kompas, tidak dimuat. “Padahal dulu Jacob sendiri yang meminta saya untuk sering menulis di Kompas. Tapi anak-anak muda yang sekarang di sana tidak mengenal saya,” kata Pak Ros, begitu saya biasa memanggil namanya. Jacob yang dimaksud di sini adalah Pemimpin Umum Harian Kompas Jacob Oetama.

Pak Ros juga mengeluh karena rubrik tetapnya di sebuah tabloid hiburan dibuang, sehingga ia tidak ada kegiatan menulis lagi secara tetap. “Saya tidak tahu alasannya, mungkin karena saya minta honor dinaikan,” tambahnya.

Menulis di harian terkemuka seperti Kompas merupakan impian hampir setiap penulis. Tetapi karena rambu-rambu yang sudah ditetapkan di harian terbesar di Indonesia itu memang tidak semua orang bisa atau memiliki “nyali” untuk menulis di sana. Apalagi faktor “kompetensi” sang penulis ikut berpengaruh terhadap lolos atau tidaknya sebuah tulisan, walau ukuran kompetensi itu kadang tidak sebanding dengan kualitas tulisan yang muncul. Kompetensi di sini dinilai mulai dari pendidika atau jabatan seseorang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x