Mohon tunggu...
Gilang Mahadika
Gilang Mahadika Mohon Tunggu... Social researcher

Bachelor of Social Science, majored in anthropology, Brawijaya University.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

"Death Stranding" Menolak Social Distancing dan Lumrahnya Kematian di Tengah Katastrofe

20 Mei 2020   12:04 Diperbarui: 20 Mei 2020   14:04 52 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Death Stranding" Menolak Social Distancing dan Lumrahnya Kematian di Tengah Katastrofe
Sam Porter Bridges dan Fragile dalam Death Stranding | https://www.uhdpaper.com/2019/05/death-stranding-sam-and-fragile-4k-47.html

Sebuah gim dengan imajinasi yang luar biasa dibuat oleh Hideo Kojima, Death Stranding, menjadi gim yang tidak hanya dikagumi karena grafiknya yang detil, namun juga beberapa pesan menarik yang ingin disampaikan dari gim ini  kepada khalayak yang memainkannya sekaligus para penikmat storyline dari gim ini.

Di sini tidak akan membahas storyline dari Death Stranding yang begitu panjang mengenai kisah Sam Porter Bridges dengan pejabat negara, usaha tokoh utama untuk membangun kembali negaranya, atau mengisahkan golongan separatis Mule dan Higgs yang tidak ingin negaranya utuh kembali, melainkan di sini akan membahas beberapa pesan yang menurut saya penting dalam gim ini untuk didiskusikan bersama.

Hideo Kojima menggambarkan kisah masa depan manusia yang distopia, hancurnya hubungan sosial manusia karena katastrofe yang disebabkan oleh beragam faktor yang sengaja disembunyikan oleh Hideo Kojima, hingga membuat semua orang hanya dapat hidup sendiri masing-masing tanpa berhubungan dengan siapapun. Hal ini juga yang masih menjadi perdebatan atau banyak teori yang melingkupi dalam gim ini, seperti manusia di saat meninggal nantinya jika tidak dikremasi (dibakar) akan menjadi bahan kimia yang mudah meledak yang dapat menciptakan kawah (craters) besar.

Ada pula jiwa-jiwa yang telah mati yang terjebak di dunia, biasa kita menyebutnya roh atau jin, namun di dalam gim ini disebut BT (Beached things) apabila kita menyentuhnya akan mendapat bahaya dan harus melawan roh tersebut atau kabur menghindar darinya, karena roh yang telah mati tersebut dapat berupa makhluk-makhluk zaman purba seperti cumi raksasa, dinosaurus, dan lain sebagainya.

Dari ilustrasi ini dapat terlihat bagaimana manusia saat ini memiliki ikatan hubungan dengan makhluk yang lain bahkan mereka yang telah meninggal atau punah. Ikatan atau hubungan ini yang sangat menonjol dari gim ini untuk disampaikan kepada khalayak umum. Bahkan tokoh utama, Sam Porter Bridges, jasa pengirim barang (kargo) ditugaskan oleh negara selagi mengirimkan barang, dia juga harus menghubungkan kembali daerah-daerah yang hancur akibat malapetaka ini agar berbagai daerah di negara Amerika Serikat itu terkoneksi kembali, menyatu kembali satu dengan yang lain, menjadi utuh kembali. Oleh karena itu, membangun kembali hubungan akibat katastrofe (bencana) yang melanda manusia dalam Death Stranding menjadi suatu hal yang penting.

Seperti halnya saat ini di mana setiap orang dituntut untuk melakukan social distancing, namun masih saja ada cara-cara di mana orang-orang ingin kembali menjalin hubungan dengan orang yang paling dekat, seperti keluarga besar, teman, kolega, dan lain sebagainya.

Tidak heran bagaimana kegiatan PSBB yang dilancarkan pemerintah terkadang tidak dapat berjalan sesuai dengan harapan, masih banyak pula yang berupaya untuk mudik. Bahkan pada tingkat social distancing pun masyarakat terus berupaya ingin tetap saling terhubung dengan orang-orang di sekitar, entah bagaimana pun caranya. Di sini tercermin bagaimana sebuah relasi atau hubungan sosial ini menjadi suatu hal yang penting di masyarakat dan tercermin dalam Death Stranding

Muncul narasi agar kita semua harus berdamai dengan korona dan hal ini juga yang memicu perdebatan mengenai herd immunity. Terlepas dari perdebatan tersebut, manusia di masa depan seperti yang digambarkan dalam Death Stranding, tetap menyimpan sentimen bahwa menjalin relasi atau hubungan itu lebih penting meskipun di tengah katastrofe (malapetaka) yang sedang dialami oleh manusia, seperti adanya pandemi korona ini. Lalu, apa yang melandasi bahwa menjalin hubungan sosial itu sangat lah penting meskipun keadaannya tidak memungkinkan untuk dilakukan.

Keadaan ekonomi yang tentunya dan barangkali dapat menjawab alasan di balik pentingnya hubungan sosial seperti mereka yang harus berjuang mencari nafkah di tengah pandemi ini, selagi sebagian orang dapat bekerja dari rumah (work from home) tanpa perlu bersentuhan dengan yang lain. Namun, mereka yang di rumah ingin tetap menjalin hubungan dengan mereka yang kekurangan dengan cara memberi bantuan sosial, dan bentuk bantuan-bantuan yang lainnya.

Dari sini sebuah hubungan sosial dapat diasumsikan sangat lah penting dan diletakkan dalam posisi tertinggi di atas keadaan genting yang sedang dihadapi oleh manusia. Yuval Noah Harari dalam bukunya Homo Deus: A Brief History of Tomorrow (2015) melihat intinya bahwa manusia saat ini cenderung berupaya untuk menggapai impiannya menjadi manusia yang abadi. Tidak heran apabila melihat orang saat ini sudah tidak peduli akan kematian, terlihat dari kecenderungan orang lebih memilih bunuh diri daripada mati kala perang, namun tetap ingin saling berhubungan dengan yang lain.

Manusia percaya bahwa tidak ada jurang pemisah antara yang meninggal dengan yang masih hidup. Meskipun terdapat orang yang meninggal di tengah pandemi atau bencana, manusia percaya masih adanya ikatan, relasi yang kuat dengan yang telah meninggal. Hal ini seolah tersimpan dalam benak kesadaran manusia yang paling dalam, impian yang sangat diidamkan oleh manusia untuk saling terikat satu dengan yang lain untuk tetap hidup bersama di keabadian.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x