Mohon tunggu...
masikun
masikun Mohon Tunggu... Mahasiswa

Mahasiswa Pertanian

Selanjutnya

Tutup

Digital Pilihan

Instagramku Pahlawanku

10 November 2019   11:10 Diperbarui: 10 November 2019   11:11 0 1 1 Mohon Tunggu...
Instagramku Pahlawanku
screencapture instagram pribadi

Sepuluh November 1945, 74 tahun yang lalu. Sebuah peristiwa pilu yang tercatat dalam sejarah paska kemerdekaan Indonesia. Peristiwa yang terjadi di Surabaya itu membuat puluhan ribu tentara dan masyarakat gugur. Kemerdekaan yang diproklamirkan Ir. Soekarno dan Hatta Agustus silam nyatanya bukanlah akhir dari perjuangan. Masih saja terjadi banyak pertempuran. Korban yang jatuhpun tidaklah sedikit. Sudah 74 tahun berlalu. Pada hari sekolah-sekolah dan kantor dinas melakukan upacara bendera.

Tak mau ketinggalan para warganet juga ikut merayakan. Tentu saja melalui dunia maya, media sosial mereka. Mulai dari membuat postingan hari pahlawan, sampai membuat meme bertema pahlawan. Setidaknya sehari ni melihat dunia maya seraya terbakar kembali rasa nasionalisme yang perlahan meluntur. Melihat postingan-postingan tema pahlawan layaknya sedang mengisi daya baterai. Ya, sehari. Selama setahun. Selebihnya, kembali saling bertengkar sesama anak bangsa (lagi).

Hari pahlawan tentulah harus jadi momentum untuk sejenak menundukan kepala, berdoa, mengenang, dan merenungi perjuangan yang telah dilakukan oleh para pahlawan. Jangan sekali-kali melupakan sejarah, begitulah Ir. Soekarno berpesan. Kita harus mulai bertanya pada diri sendiri, sejarah mana saja yang masih kita ingat? Jangankan mengingat peristiwanya, siapa orangnya, sampai makna apa saja yang bisa kita pelajari, lah wong tahu tanggalnya saja nunggu orang pada upload. 

Betapa kurang ajarnya kita sebagai generasi penerus bangsa hari ini. Kita mulai melupakan sejarah. Kita menganggap sejarah tak lebih hanya sekadar salah satu mata pelajaran di bangku sekolah. Akibatnya, kita lupa sejarah. Kita lupa siapa nenek moyang kita. kalau sudah seperti itu janganlah heran tiap hari ada saja berita tawuran, saling hujat, bahkan saling bunuh. Ya mereka lupa kita lahir dari rahim yang sama, ibu pertiwi. 

Menilik momentum hari pahlawan sepertinya sudah saatnya kita benar-benar melihat siapa pahlawan kita sebenarnya. Pahlawan untuk diri kita sendiri. Siapa dia? Dia yang menyelamatkan hidup kita dari terpuruk, terantup, sampai dia yang behasil mengankat kita dari lembah keputusasaan. Siapakah dia? Tentu saja yang tahu adalah masing-masing dari kita. Sayangnya, alih-alih mencari siapa yang jadi pahlawan, kita malah fokus mencari pelampiasan. Media sosial, alias dunia maya. Jika bertanya siapa pahlawan hari ini, tak sedikit orang akan menjawab DUNIA MAYA!. Apapun itu bentuknya. Siapa yang hari ini bisa lepas dari dunia maya? Sayapun mengaamiinkan hal tersebut. 

Banyak orang tentu punya pandangan negative perihal dunia maya, media sosial khususnya. Lihat saja instagram, sekarang orang sudah mulai kehilangan fungsi instagram. Perlahan mereka mendefinisikan instagram sebagai ajang pamer-pamer. Pamer makan, sampai fashion. Sampai-sampai punya instagram fungsinya buat melihat postingan ataupun sekadar story. Hanya menonton! Hal-hal yang seperti inilah yang membuat efek negatif itu datang dengan sendirinya.

Tentu saja hal yang demikian sah-sah saja. Tapi, kalau keterusan bahaya. Kita menjadi takut untuk posting, karena tidak se hebat postingan-postingan orang lain. Padahal insatgram adalah salah satu tempat yang baik, untuk berbagi kebaikan. Misalnya saja cerita-cerita, ataupun sekadar meluapkan pemikiran.

Berat? Ya berat, bagi mereka yang hanya mengharap like dan komen. Sebaliknya, bagi mereka yang tak peduli akan like dan komen, mereka akan senang-senang saja atas apa yang mereka upload. Mereka percaya dengan berbagi cerita akan sedikit meredakan beban. Toh, banyak ilmu juga yang kita peroleh secara cuma-cuma dari sana, lantas tidak berlebihan bukan,kalau instagram adalah pahlawan? Well, apapun itu tinggal bagaimana kita mensikapinya. 

Selamat hari pahlawan.