Mohon tunggu...
Mugito Guido
Mugito Guido Mohon Tunggu...

Senang menulis tapi tidak pinter menulis. Aku hanya asal menulis, menulis asal!

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Relevansi Pendidikan Dengan Dunia Kerja, Dimulai dari Mana?

12 Maret 2013   17:35 Diperbarui: 24 Juni 2015   16:54 0 0 0 Mohon Tunggu...

'The square peg in the round hole'. Ungkapan ini mungkin sangat pas untuk menggambarkan relevansi pendidikan kita dengan dunia kerja saat ini.Relevansi itu ibarat sebuah pasak persegi yang dimasukkan ke dalam lubang bulat. Apa yang terjadi? Pasak itu tidak pernah akan masuk ke dalam lubang sebab bentuknya tidak sesuai.

Apabila kita ingin membuat pasak yang diterima lubang bulat, seharusnya kita menyesuaikan bentuk pasak itu bulat pula. Sebaliknya apabila justru lubang itu yang persegi, kita tidak harus membuat pasak yang bentuknya bulat.

Sayangnya 'the square peg in the round hole' inilah yang terjadi di dalam dunia pendidikan kita. Selain banyak jurusan atau program keahlian yang tidak relevan dengan dunia kerja yang membutuhkan, yang lebih memprihatinkan adalah tidak relevannya kualitas pendidikan dengan persyaratan lapangan kerja.

Indikasi untuk melihat ketidakrelevansian antara pendidikan dan dunia kerja ini sebenarnya dapat diketahui dengan mudah oleh orang awam. Yaitu, dengan melihat banyaknya angka pengangguran intelektual saat ini. Apakah kita bisa sepenuhnya mengkambinghitamkan dunia kerja yang jumlahnya tidak sebanding dengan angkatan kerja yang terus naik tiap tahun? Barangkali, itu hanya salah satu penyebab!

Dalam kenyataannya, banyak pula lowongan atau posisi dalam perusahaan yang tidak terisi karena tidak ada lulusan / out put pendidikan yang bisa mengisinya. Kriteria dan persyaratan yang diminta tidak ada yang bisa dipenuhi. Akibatnya untuk memperoleh tenaga kerja yang dibutuhkan itu, perusahaan tidak jarang harus sampai melakukan 'pembajakan' tenaga kerja (hijacking of man power). Bukankah itu dengan nyata bisa menjadi indikasi tidak atau kurangnya relevansi itu?

Faktor-faktor penyebab kesenjangan jumlah pencari kerja dan lapangan kerja

Untuk mengatasi kesenjangan kebutuhan antara pemakai (user/dunia kerja) dengan penyedia (supplier/ dunia pendidikan), perlu dilihat tiga (3) hal pokok yang menjadi penyebabnya.

01. Pertumbuhan kesempatan kerja yang kecil


Faktor ini merupakan faktor yang paling gampang dilihat. Kesenjangan antara jumlah lulusan dengan lapangan pekerjaan tidak sebanding. Jumlah lulusan setiap tahun kian bertambah, sementara jumlah lowongan kerja naik tidak seberapa, bahkan cenderung stagnan. Solusi yang sering digembar-gemborkan adalah menciptakan lapangan kerja baru.

Pertanyaannya, bagaimana kita dapat menambah kesempatan kerja kalau iklim usaha tidak mendukung seperti sekarang ini?

02. Irelevansi  Jurusan / keahlian

Ini maksudnya adalah kesenjangan antara jurusan / keahlian yang ada di dunia pendidikan dengan dunia kerja. Bisa jadi jurusan yang dalam dua dekade yang lalu out put-nya banyak diserap pasar, kini sudah over-flooded. Penyebabnya karena bergesernya arah dunia usaha dan perkembangan tehnologi. Apabila keadaan ini tidak dicermati, sudah pasti kesenjangan itu akan semakin bertambah lebar. Solusinya adalah mengurangi jurusan pendidikan yang over-quota dan membuka jurusan baru yang lebih dibutuhkan dunia kerja.

03. Kualitas pendidikan yang rendah

Faktor ini merupakan faktor yang susah dilihat. Dunia pendidikan kita masih mengutamakan bukti formal berupa lembaran ijazah. Kompetensi diwakili dengan selembar sertifikat. Sayangnya kompetensi itu sering tidak terwakili di situ. Bagaimana mungkin seorang yang memegang ijazah tehnika mesin kapal memiliki kompetensi tentang mesin kapal kalau kampusnya saja jauh dari pelabuhan dan ia sendiri belum pernah melihat fisik  mesin itu sendiri. Sangat diragukan bila out put pendidikan yang demikian dapat mengisi kebutuhan kerja yang memerlukan kompetensi tehnis mesin kapal.

Akibat irelevansi pendidikan dengan dunia kerja

Ada beberapa upaya yang dilakukan oleh dunia usaha untuk memperoleh tenaga kerja yang kompeten. Salah satunya adalah dengan membajak tenaga dari perusahaan lain. Keuntungannya, perusahaan itu akan memperoleh tenaga siap pakai yang kompeten. Kerugiannya, tenaga ahli yang demikian selain menuntut gaji tinggi juga fasilitas yang memadai dan kesempatan jejang karir yang terbuka lebar.

Cara lain yang lebih banyak dilakukan adalah dengan rekrutmen tenaga lulusan anyar (fresh graduate).  Untuk keahlian khusus, biasanya perusahaan merekrut para lulusan yang sesuai dengan bidangnya. Untuk kebutuhan tenaga kerja yang sifatnya umum, biasanya rekrutment menerima dari segala jurusan / disiplin limu. Keuntungannya, perusahaan mendapatkan tenaga yang murah namun harus memberikan pelatihan, bimbingan dan konseling.

Karena sulitnya memperoleh pekerjaan, lebih banyak orang yang bekerja 'menyimpang' dari disiplin ilmu yang dipelajarinya. Banyak yang menggunakan kesempatan ini sebagai 'batu loncatan', ada pula yang menekuni pekerjaan ini sampai pensiun.

Dari mana memulainya?

Sebuah pasak yang tidak sesuai dengan lobangnya tidak ubahnya sepotong kayu ranting yang sedikit faedahnya. Namun pasak kecil yang tepat bentuk dan ukurannya akan dapat menyatukan potongan-potongan kayu yang membentuk sebuah kursi atau meja.

Demikian halnya dengan pendidikan kita. Agar pendidikan dapat memiliki peran utuk membentuk masa depan bangsa ini, pendidikan harus diselaraskan dengan kebutuhan pembangunan fisik dan pembangunan manusia seutuhnya.Pendidikan harus diupayakan agar menghasilkan out put yang bertakwa, berpengetahuan, berketramilan, dan bersikap unggul.

Pemerintah, penyelenggara dan para pakar pendidikan tidak perlu bersikukuh dengan keangkuhan intelektualitasnya. Mereka harus bersedia duduk bersama dengan dunia usaha untuk merancang sebuah sistem pendidikan yang dapat mengakomodasi berbagai kepentingan. Sistem pendidikan perlu disusun dalam kerangka berbasis pada pengembangan pribadi peserta didik, dengan tanpa mengesampingkan kepentingan dunia usaha yang akan menerima out put-nya.

Universitas Ciputra di Surabaya yang menitikberatkan pada  semangat  kewirausahaan, mungkin bisa dijadikan contoh bagaimana institusi pendidikan ini mampu menjawab tantangan saat ini. Ketika kesempatan kerja semakin sempit, perlu akternatif sebaliknya dengan menciptakan kesempatan kerja. Dan ini adalah dunia wira usaha.

Pendidikan memang harus menjadi ' a round hole in the round hole'. Selain ilmiah,  juga harus aplikatif dan produktif,  bukan sebuah utopia belaka!

MG , 13-03-2013