Mohon tunggu...
Maryanto Abukhonsa
Maryanto Abukhonsa Mohon Tunggu... Guru - Guru, Penulis

Guru di SMPN 2 Kepil Wonosobo Penulis beberapa buku Aktif menulis di blog sekolah

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Marwah Guru, Refleksi Guru di Masa Pandemi

17 Maret 2021   10:18 Diperbarui: 17 Maret 2021   10:31 283
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Proses pembelajaran dalam masa pandemi ini memang masih bisa berlangsung dan berjalan dengan model pembelajaran jarak jauh (PJJ), tetapi dari sisi rasa, nuansa dan semangatnya sangat jauh berbeda. Bercampur bermacam rasa berkecamuk dalam dada, ada emosi yang tertahan, ada rindu yang terpendam, ada juga galau tak karuan karena berada dalam ketidak-kepastian. Pandemi yang semula diprediksi dan diharapkan segera berlalu ternyata berkepanjangan dan tak tahu akan sampai kapan. 

Sungguh, guru tanpa murid serasa kosong, gelap gulita ibarat langit mendung yang tak berbintang, harapan seakan hampa seperti tak bersambutnya cinta seorang prajurit pada seorang gadis yang ternyata putri raja. Murid adalah nafas bagi kehidupan seorang guru, wahana berbagi asa kehidupan, tempat mencurahkan perhatian dan kasih sayang untuk berbagi ilmu, pengetahuan, keterampilan dan spiritual. Tanpa murid, maka guru akan banyak kehilangan nilai-nilai kehidupan, termasuk citra dan marwahnya.

Marwah guru itulah yang sekarang sedang berangsur pudar, diterjang pandemi yang mengoyak-ngoyak dunia pendidikan menjadi terlihat ambyar. Hal ini sangat terasa ketika beberapa pekan yang lalu penulis bertemu dan berbagi cerita dengan seorang teman seperjuangan, yang pernah bekerja bersama dalam waktu yang cukup lama. 

Sekitar 20 tahun lalu penulis sering ikut bekerja dalam beberapa proyek bangunan, dimana penulis menjadi pembantu tukang (laden) sementara teman tersebut adalah salah satu tukang di antara  tukang senior lainnya. Dalam berbagi cerita itu ada satu kalimatnya yang terasa mengaduk-aduk rasa, "enak ya jadi guru, ora bendino kerjo tapi bayare podo", artinya "enak ya jadi guru, tidak tiap hari kerja tapi gaji tetap sama".

 Kalimat itu disampaikan dengan lugas, lepas tanpa beban dan tanpa rasa sungkan karena merasa dekat, merasa pernah sama-sama bekerja kasar di proyek bangunan. Penulis yang pernah hidup kasar bersama mereka sungguh terhenyak dengan kata-kata itu, dan nyatanya apa yang dikatakannya sedikit banyak ada benarnya. Itulah kesan yang muncul di masyarakat terkait dengan marwah guru di masa pandemi.

Di masa pandemi marwah guru terasa menurun cukup drastis, karena dipandang sebagai pihak yang diuntungkan. Bisa jadi ini berawal dari adanya penampakan yang ekstrim di sekolah antah berantah, kecamatan mega hitam, kabupaten gelap gulita, dimana situasi sekolah yang lebih banyak terlihat sepi, tak nampak guru dengan aktifitas yang wajar sesuai tanggung jawabnya. Beberapa bahkan tak canggung berpenampilan layaknya seorang pensiunan, juragan atau pengusaha yang sedang liburan. 

Jarang berangkat ke sekolah, seperti bukan seorang guru, pagi hari sudah keliling melihat sawah garapan, sekali berangkat sudah jam 9, dan jam 11 bingung ingin segera menghilang untuk pulang, inilah yang menjadi indikasi kinerja guru dinilai menurun. Dampak yang muncul kemudian adalah kecemburuan sosial terhadap guru yang seakan-akan guru sangat enak, bebas tugas karena tidak berangkat ke sekolah, tidak perlu ongkos bisa, tidak keluar bensin tapi penghasilan tetap mengalir. 

Seakan guru adalah profesi yang diistimewakan, yang pendapatannya tidak terpengaruh oleh adanya pandemi terutama guru PNS. Sebagai seorang guru yang masih memiliki hati nurani, guru yang dilengkapi intuisi dan kepekaan rasa, kita tidak layak untuk menutup mata dan telinga, apalagi berlagak dan berargumen untuk membela dan menyucikan diri. Lalu apa yang sebaiknya dilakukan oleh guru di tengah pandemi ini, apakah menikmati saja kesempatan yang ada atau bersikap lain yang rasanya tidak sejalan dengan keinginan menikmati kehidupan.

Menikmati kehidupan yang nyaman bagi seorang guru adalah manusiawi, yang juga membutuhkan berbagai kenikmatan dan kebahagiaan, sama seperti manusia lain pada umumnya. Tatkala melihat orang lain yang enjoy dan seakan bebas tanpa beban, hadir juga rasa capek merasakan beban kerja yang terasa susul menyusul. 

Di saat seperti itu terkadang hadir "bisikan" mengapa harus bersusah payah, enakan ikut santai-santai sajalah. Tetapi, kesadaran tersentak dengan sentilan teman yang tukang batu, yang memberikan pelajaran bahwa guru adalah sosok tidak boleh seenaknya, harus bersikap sesuai dengan marwahnya. Bahwa guru harus melakukan kebaikan dengan atau tanpa penghargaan, guru harus hadir memberikan pelajaran dengan ada atau tidaknya pengawasan, guru harus menjadi motivator dan suri tauladan dimanapun berada.  Apapun yang terjadi guru diharapkan hadir dan berperan sebagai suluh dan penerang yang bisa memberikan cahaya, bagaikan lilin dalam kehidupan. 

Bagaikan lilin dalam kehidupan, itulah ibarat keberadaan guru, yang memiliki karakter dan kepribadian yang berbeda-beda. Karakater dan kepribadian itu yang kemudian terwujud dalam sikap, tindakan dan ucapan dalam kehidupan sehari-hari, yang sadar atau tidak dibaca, diamati dan dicatat oleh anak didik, oleh teman dan oleh masyarakat. Untuk itu barangkali perlu memahami makna dan filosofi yang terkandung dalam percakapan empat lilin berikut ini. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun