Mohon tunggu...
FX Aris Wahyu Prasetyo Saris
FX Aris Wahyu Prasetyo Saris Mohon Tunggu... Penulis - Menikmati menulis dan membaca dalam bertualang makna kehidupan menuju kebijaksanaan abadi.

Penulis, Pembaca, Petualang, dan Pencari Makna.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

BAPER #2 Masa Depan Bukanlah Warisan Orang Tua

24 April 2021   18:08 Diperbarui: 24 April 2021   18:14 317
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Dokumentasi Pribadi. Bapak dan Ibu saat ke Ganjuran, Bantul.

#Masa depan bukanlah warisan orang tua, melainkan upaya kaum muda. Merekalah yang buat dan tentukan akan seperti apa.

Terlahir sebagai anak desa di bagian utara sebelah utara dari Provinsi Lampung adalah sebuah kebanggaan. Terlahir dari orang tua yang juga membanggakan. Bisa mengalami masa kanak-kanak dengan total dalam bermain, bergembira, berpetualang, dan bersorak-sorai. Hingga akhirnya tumbuh remaja dan mulai meniti karier di bangku kuliah, di sebuah kota yang sangat lekat dengan nuansa pelajar dan romantisme, Yogyakarta. Ada kebebasan untuk menentukan langkah hidup, tanpa paksaan dan instruksi dari orang tua. Ada kebebasan untuk merancang masa depan, tanpa keharusan dan kewajiban dari orang tua. Bapak dan ibuku memang hebat.

Orang tuaku boleh dikatakan hidup lebih dari berkecukupan di desa nun jauh di sana. Aku berkelana dan berpetualang di Jawa demi masa depan. Tentunya masa depan yang dicita-citakan agar terwujud dan nyata dalam kehidupan. Masa depanku tidak bisa hanya duduk diam penuh harap dari orang tua, masa depan bukan warisan orang tua. Masa depan harus diperjuangkan dan diusahakan terus-menerus.

Suka duka anak kos dengan uang yang sangat minim menjadi irama tersendiri dalam kehidupan mahasiswa yang sedang menggapai masa depan. Nasi kucing (angkringan) dan mie instan menjadi menu favorit yang tidak perlu diperdebatkan gizi dan nutrisinya bagi badan dan otak. Bisa makan saja sudah sangat bersyukur. Aktif dalam berbagai kegiatan kampus adalah usaha mengolah diri dalam mencapai masa depan, sekaligus mengolah rasa penuh harap siapa tahu ada konsumsinya. Apapun konsumsinya adalah sebuah berkah yang selalu disyukuri demi tetap mempertahankan aktivitas biologis dalam tubuh tetap berjalan baik.

#You must set your mindset far to the future, so you will not be left behind. Do not use old formulation to solve today's problem.

Di tengah segala kesibukan kuliah dan kegiatan itu, ada situasi untuk membangun habitus secara konsisten, yakni pergi ke perpustkaan untuk membaca dan membaca demi mengisi otak sebagai bekal pengetahuan dalam hidup. Kebiasaan membaca ini benar-benar membawa pengaruh dalam logika berpikir dan kemampuan akademis. Kuliah dapat diselesaikan dengan cepat, hasil sangat memuaskan dengan pujian (cum laude), dan menjadi wisudawan terbaik.

Perpustakaan Sanata Dharma. www.daftaruniversitasidn.web.id
Perpustakaan Sanata Dharma. www.daftaruniversitasidn.web.id
Membaca menjadi sarana untuk menata otak, hati, dan sikap dalam rangka menata masa depan. Membaca dan terus membaca setiap hari, benar-benar mengembangkan kepribadian secara menyeluruh sehingga tidak tertinggal dengan kemajuan zaman. Membaca tentunya bukan menjadi tujuan, namun sebuah sarana untuk berkembang dalam menikmati dinamika hidup yang penuh dengan kejutan-kejutan. Ketika tidak siap, kejutan itu sebagai bencana. Namun ketika siap, kejutan itu menjadi sebuah kesempatan untuk belajar lebih baik.

Rhenald Kasali dalam BAPER (Bawa perubahan) menegaskan:

#Sekolah tidak boleh hanya berhenti pada TAHU dan MENGERTI, tetapi juga harus ada berlatih kemudian menguji, menyimpan, dan mengasahnya. Manusia mempunyai 2 jenis memori, yaitu memori otak dan memori otot. Memori otak membuat Anda tahu dan mengerti, memori otot membuat Anda tidak sekadar berwacana.

Pengalaman belajar di kelas perkuliahan dan kebiasaan membaca haruslah tetap dijalani dengan serius. Ketika mengikuti perkuliahan, 99% pikiran dan hati saya berfokus pada materi yang sedang dipelajari. Otak terus bekerja, tangan membuat catatan mindmap yang mudah dipahami alur berpikir dari materi itu. Kebiasaan ini benar-benar membawa saya pada kebiasaan belajar yang efektif dan efesien menuju cara berpikir kritis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun