Catatan Pilihan

Seribu Inspirasi Untuk dan Dari Kepulauan Seribu

16 September 2014   01:00 Diperbarui: 18 Juni 2015   00:35 404 0 1

Sabtu ketiga pada Agustus 2014 (16/8), menjadi saksi untuk pertama kalinya sebagian besar dari kami bertemu; mulai berbagi waktu, tawa nan pengalaman. Adalah acara bertajuk briefing Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau (KIJP) batch 2 atau KIJP 2,  yang mengumpulkan kami di sebuah kampus di Pancoran Jakarta Selatan.


Menyusul KIJP 1 yang digelar pada 7 April 2014, inilah kami KIJP 2. Setidaknya 89 orang yang terdiri atas 70 orang relawan pengajar, 11 orang relawan fotografer, dan 8 orang relawan videographer, inilah kami KIJP 2.



Kami akan tersebar di 9 SD di enam pulau dalam gugusan Kepulauan Seribu: Pulau Kelapa, Pulau Harapam, Pulau Tidung, Pulau Pari, Pulau Payung, dan Pulau Lancang.  Dalam briefing yang tidak dihadiri oleh seluruh relawan KIJP 2, kami para relawan dibagi per kelompok SD dengan pulau mana yang didatangi.

Salah satunya adalah kami Kelompok Kelapa 01, Pulau Kelapa.  Terdiri dari 12 relawan pengajar dan masing-masing satu relawan fotografer dan videographer, kami: Adhayani Dewi (Media Planner), Ambar Prakoso (Psikolog), Dian Sulistiani (Pengajar), Edra Veranti ( Dokter Umum), Eko Prasetyo (Pricing), Endang Worokesti (PNS Bea Cukai), Fitri Maylani Lestari  (Konsultan Lingkungan), Frans Mario Halomoan Simanjuntak (IT Engineer), Martina Prianti (Reporter), Prasetyaning Diah (Peneliti), Rahmi Aminingsih (Business Analyst), dan Surya Ramadhan (Magician). Serta Eva Ali (Guru) sebagai fotografer dan Rizaldi Fakhruddin (Kameramen) sebagai videographer.


Dengan pelbagai latar belakang profesi, suku, umur, hingga agama, kami dipertemukan oleh ‘benang merah’ berupa; ingin berbagi waktu, pengalaman, dan tawa bersama adik-adik SD di Kepulauan Seribu. Maka inilah kami Kelompok Kelapa 01.


Adapun pulau tempat kami bertugas secara administratif berada di wilayah Kelurahan Pulau Kelapa, Kecamatan Kepulauan Seribu dengan dihuni oleh setidaknya 5.795 orang penduduk yang berasal dari pelbagai suku; Bugis, Mandar, Betawi, dan Jawa. Pada umumnya, kami yang tergabung dalam KIJP 2, belum pernah menginjakkan kaki di pulau tempat kami akan bertugas pun termasuk di dalamnya kami Kelompok Kelapa 01.


Kemudian, seminggu selepas briefing atau delapan hari sebelum 24 Agustus 2014 yang merupakan tanggal keberangkatan menuju Kepulauan Seribu, handphone (hp) kami sontak berkali-kali lipat aktivitasnya.  Memanfaatkan sisi positif kemajuan sarana komunikasi, kami menjalin komunikasi cukup  intens melalui grup whatsapp (WA).  Sharing pengalaman dan berbagi masukan cara mengajar profesi masing-masing dilakukan baik pagi, siang, maupun malam.


Hingga kemudian hari yang dinanti tiba. Minggu keempat Agustus (24/8), ketika matahari masih mendekam dalam peraduannya, kami yang bertempat tinggal tersebar di Jabodetabek bahkan Bandung, berduyun-duyun  keluar rumah menuju Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara dengan meeting point di SPBU Muara Angke.


Hingga kemudian jam 08.00 WIB, kami berangkat dengan menggunakan perahu nelayan menuju Pulau Kelapa. Empat jam di atas laut dengan ombak yang cukup besar pada akhirnya kami tiba di pulau.


Kami orang darat, demikian warga Pulau Kelapa menyebut kami dan mereka menyebut diri mereka sebagai orang pulau.  Sesuai tajuk komunitas, kami datang untuk berbagi inspirasi. Mengalokasikan sebagian waktu (hari), tenaga, dan sekian nominal uang agar dapat bertemu dengan adik-adik di Pulau Kelapa.


Minggu siang (24/8) setiba di pulau, usai istirahat sejenak di rumah penduduk yang disewa, kami mendatangi sekolah, tempat di mana esok harinya kami masing-masing kan mengukir kenangan tak terlupa. Menjadi pengajar sehari.  Meski kami lebih ingin disebut sebagai pendidik sehari.


Masing-masing dari kami, tak hanya relawan pengajar tapi juga relawan fotografer dan videographer, memiliki cerita nan kenangan berkesan selama menjadi relawan. Mulai dari culture shock menjadi relawan, berdiri di depan kelas, hingga melihat serta menghadapi secara langsung pelbagai tingkah pola adik-adik di bangku sekolah dasar. Sebelumnya tanpa bermaksud membedakan,  terlebih mereka adalah anak pulau.


Saya menyadari kalau tulisan sebagai rangkumankelompok kami ini, belum mampu sepenuhnya menuangkan gambaran apa yang masing-masing telah kami hadapi serta terima. Meski demikian, saya mencoba membagi pengalaman kami secara singkat kepada teman-teman sesuai dengan huruf abjad nama kami, seperti berikut ini:


*Adhayani Dewi (Media Planner)


Saat tiba waktunya masuk ke kelas masing-masing, kelas pertama yang saya datangi adalah kelas 6B. Semua lesson plan yang sudah saya buat sebelumnya nampak buyar. Saya mengubah rencana mengajar, mengikuti mau mereka yakni bermain.


Saya baru sadar bahwa menjadi guru SD sangatlah sulit. Tidak terbayang menjadi guru di mana mereka setiap hari dari Senin hingga Sabtu harus bertemu dan menguji kesabaran.


Saya begitu sedih saat saya tahu bahwa mereka tidak mengetahui hal-hal yang sudah biasa kita temukan. Banyak sekali yang harus kita lakukan untuk menambah informasi untuk mereka di luar informasi bahwa pekerjaan bukanlah hanya PNS, Nelayan, dan Guru seperti yang biasa anak-anak lihat.


*Ambar Prakoso (Psikolog);


Pengalaman diawali dengan merinding ketika mengikuti upacara bendera. Kegiatan yang telah sekian tahun lalu. Hingga tiba saatnya masuk kelas, kelas pertama adalah Kelas IV B. Saya amat senang melihat antusias mereka atas kehadiran saya.  Pengalaman berbeda ketika masuk di Kelas I A pun saat masuk di Kelas II A.


Saya merasa takjub karena dari awal masuk kelas mereka sudah luar biasa tingkah polahnya; ada yang teriak-teriak, dorong-dorongan, serta ada pula memukul-mukul lemari.  Namun kejadian ini tidak terjadi di semua kelas seperti Kelas VB  di mana saya menemukan anak-anak yang pintar, cerdas dan cukup berwawasan luas serta aktif bertanya dan menjawab.


Sedih tidak bisa memberikan apa-apa tapi, saya berharap semoga pertemuan sehari itu bisa memberikan sedikit saja makna untuk mereka; mereka akan mengingat bahwa mereka pernah bertemu dengan orang-orang yang memiliki profesi berbeda dengan yang mereka sering kali temui. Saya yakin, anak pulau pun bisa sehebat dan semaju orang daratan.


*Dian Sulistiani (Pengajar);


Saya menyebutnya teman-teman di KIJP adalah orang-orang "gila.” Mereka mengenalkan kepada saya arti seribu mimpi.  Mereka penuh semangat tinggi.


Bersama mereka, saya bertemu lingkungan baru yang mungkin belum pernah terselip impian untuk berkunjung ke sana. Inilah perjuangan baru! Langkah baru! Pengalaman baru! Menyaksikan senyuman anak-anak pulau Seribu itu pun menjadi motivasi tersendiri.


Budaya yang 'unik', cerita yang 'beda dari yang lain', dan pembelajaran dari alam yang mungkin tak akan tergantikan lagi, ya rasa bangga itu ada. Kesempatan itu pula yang membangunkan semangat lagi.


*Edra Veranti ( Dokter Umum);


Saya datang ke SDN Kelapa 01 Pagi dengan berbekal pengalaman mengajar anak-anak yang nihil. Tanpa memiliki pengalaman sebelumnya di Kelas Inspirasi seperti kebanyakan teman-teman lain di KIJP, sejujurnya saya merasa minder.  Di SDN Kelapa 01 inilah pertama kalinya saya berinteraksi dengan anak-anak  dalam durasi yang cukup lama untuk  satu kali pertemuan.


Pertama kali mengajar di kelas 3B. Sungguh pembukaan yang luar biasa. Anak-anaknya ternyata bukan tipe pemalu jika bertemu orang baru. Sangat antusias. Pembagian stiker nama berlangsung cukup heboh. Ada yang sambil jongkok di bawah meja guru, duduk di samping rak buku. Bahkan ada yang keluar kelas. Sebenarnya tidak sulit mendapatkan perhatian mereka.


Yang sulit dan ternyata memang bagian paling sulit untuk kelas-kelas selanjutnya adalah bagaimana membuat mereka tetap fokus pada kita sebagai pengajar. Setelah sempat merasa gagal di kelas pertama, kelas-kelas selanjutnya saya berusaha lebih santai dan mengandalkan intuisi saja untuk menerapkan metode mengajar untuk masing-masing kelas, karena ternyata metode yang sudah saya susun sebelumnya tidak bisa diterapkan untuk setiap kelas. Hingga akhirnya tanpa disadari, mengajar di kelas-kelas berikutnya terasa lebih santai dan menyenangkan.


* Eko Prasetyo (Pricing);





Saya merasa sangat bersyukur ikut diberikan kesempatan mengajar. Bertemu dengan anak-anak dengan pelbagai sifat yakni ada yang aktif, pendiam, ramah, manis, lucu, dan seperti caper, membuat saya pada awalnya kewalahan namun membuat saya senang.

Usai mengikui KIJP2 saya merasa ingin mengikuti kegiatan serupa lagi di kemudian hari. Dan agar dapat lebih siap menghadapi berbagai macam tingkah pola anak-anak, saya akan lebih mantap lagi menyiapkan persiapan.


*Endang Worokesti (PNS Bea Cukai);


Menurut saya, setiap peristiwa melahirkan pengalamannya sendiri. Pun demikian yang saya rasakan saat berada di SD Kelapa 01 Pulau Kelapa. Dengan memakai pakaian dinas, saya mengajak anak-anak menembak apa profesinya yang kemudian dijawab; Polisi, Satpam, ABRI, hingga guru.


Tak ada yang menjawab benar, hingga akhirnya saya menjelaskan apa itu tugas sebagai petugas Bea Cukai. Ada kejadian yang sangat lucu saat saya memberikan gambar Onta dan bertanya apakah Onta boleh masuk ke negara kita. Pelbagai jawab diungkapkan merekahingga pada akhirnya saya menjelaskan Onta pun boleh masuk ke negara kita asalkan disertai surat izin.


Saya terharu ketika seorang murid Kelas 3 yang biasa dipanggil Ri, meminta nomor teleponnya. Padahal, Ri  merupakan anak yang paling aktif dengan berlagak seperti jagoan di kelas hingga kemudian saya mengangkatnya menjadi asisten saat mengajar.


*Fitri Maylani Lestari  (Konsultan Lingkungan);


Kami datang untuk membangun mimpi dan berbagi inspirasi lewat profesi. Ternyata bukan hal mudah menjelaskan profesi keanak-anak di bangku SD. Di sinilah kesabaran dituntut, apalagi kelas pertama yang saya ajarkan yaitu kelas 3 dengan jadwalnya adalah olah raga namun kemudian saya masuk. Hingga mereka tetap ingin berolah raga dan yang membuat saya kaget mereka mengganti baju di dalam kelas tanpa malu terhadap lawan jenis.


Hal lain yang masih amat diingat yaitu ketika memasuki kelas 4 dan 5 mereka sangat antusias dengan permainan warna yang saya jabarkan. Kejadian yang membuat saya terharu adalah ketika ada seorang anak yang berkata; Ka besok masih di sinikan ngajar???


*Frans Mario Halomoan Simanjuntak (IT Engineer);


Banyak pelajaran hidup yang  saya ambil melalui pengalaman mengajar di SDN 01 Pulau Kelapa. Namun kalau boleh merangkumnya saya akan merangkumnya seperti ini : Anak-anak tetaplah anak – anak sebagaimana adanya  yang  harus ditempa dengan sebaik–baiknya dalam segala aspek. Baik akademis dan non akademis dengan cara yang  baik dan tepat.


Berilah mereka kesempatan sebesar – besarnya sehingga mereka boleh bermimpi setinggi – tingginya dan pada akhirnya mereka bisa berjuang keras untuk mewujudkan impian tersebut.  Dan ketika impian itu terwujud, saya yakin Indonesia Jaya !”


Ahhhh saya jadi merindu bernyanyi dengan mereka. Mulai dari lagi daerah hingga lagu-lagu nasionalisme. Merek bernyanyi dan begitu terlihat ceria khasnya anak-anak.


*Martina Prianti (Reporter);


Ketika memutuskan untuk ikut KIJP 2, saya sudah menyiapkan diri untuk menerima pelbagai kejutan yang diberikan anak-anak. Paling tidak, pengalaman mengikuti Kelas Inspirasi, saya jadikan bekal. Namun dugaan saya tidak sepenuhnya benar karena saya masih terkejud.


Melihat keceriaan dan kepolosan khas anak-anak. Menghadapi tingkah pola anak-anak yah khas anak-anak yang pada dasarnya menurut saya, mereka ingin dilihat dan dipahami.  Bukan hal mudah tapi amat menarik nan indah bisa ikut merasakan itu semua.


Pelbagai hal yang saya nilai saya alokasikan khususnya waktu hingga keringat dingin, nyatanya tidak sebanding dengan pengalaman yang saya peroleh. Dan bersama mereka yakni anak-anak pulau, semakin menyadari diri saya bahkan pendidikan adalah salah satu kunci untuk meningkatkan taraf dan nilai hidup menjadi lebih baik pun bagi anak-anak pulau.


*Prasetyaning Diah (Peneliti);


Terlibat dalam KIJP2 menyadarkannya saya kalau menjadi guru bukanlah hal yang mudah. Meski sejatinya, kita semua bisa menjadi guru bagi setiap orang yang kita temui, dan semua orang yang kita temui pun merupakan guru bagi perjalanan hidup kita.


Menurut saya, dibutuhkan keikhlasan dan kesabaran bagi setiap orang yang menjadi pengajar. Pun sebaliknya yang ingin mendapatkan pengajaran. Di sisi lain, dibutuhkan ketekunan pun, bagi anak-anak yang memiliki impian maupun cita-cita kelak kan menjadi apa dan seperti apa. Mari terus memberi manfaat dan dukungan bagi anak-anak negeri ini, memajukan bangsa demi cita-cita mulia kita bersama.


*Rahmi Aminingsih Abisono (Business Analist);


Mengikuti kegiatan KIJP 2 memberikan tantangan baru untuk saya. Dengan jumlah murid yang cukup banyak, yaitu 315 siswa, betul-betul harus menyiapkan suara atau trik-trik agar saya didengar oleh mereka.


Saya senang dengan keaktifan mereka untuk bertanya dan mau menjawab pertanyaan-pertanyaan saya, tidak kalah dengan teman-temannya yang bersekolah di daratan. Untuk mengetahui minat mereka, saya memang menyediakan sebuah kertas kecil yang dituliskan nama dan cita-cita mereka. Umumnya cita-cita anak laki-laki lebih bervariasi dibanding anak-anak perempuan.


*Surya Ramadhan (Magician);


Keajaiban itu tuhan yang menciptakan, dan tugas kita adalah membagi keajaiban itu kepada orang lain. Kalimat itu adalah salah satu pemicu bagi saya untuk menebar semangat keajaiban untuk orang-orang disekitar.


Dan pengalaman luar biasa saya dapatkan bisa bertemu dengan teman-teman dari pelbagai profesi dan berada di depan anak-anak. Sebuah pengalaman yang luar biasa. Pengalaman indah juga saya rasakan ketika saya bermain sulap di depan anak-anak dan mengajari mereka bagian trik sulap.


*Eva Ali (Guru) sebagai fotografer;


Senang bisa tergabung dalam KIJP. Setiap anak memiliki keunikan serta mimpi masing-masing. Kami datang dan hanya menjadi bagian untuk ikut membangunkan mereka untuk bermimpi.


*Rizaldi Fakhruddin (Kameramen) sebagai videographer;


Amat senang bisa bertemu dengan teman-teman yang berasal dari pelbagai profesi. Saya berharap, akan ada kelanjutan dari kegiatan mengajar satu hari ini.



Demikian rangkuman perjalanan bersama kami dalam KIJP 2 Kelompok Kelapa 01. Akhir kata kami Kelompok Kelapa 01 menyimpulkan; Nyatanya, kami bukan menginspirasi tapi diinsipirasi. Nyatanya, kami bukan mengajar tapi diajar. Nyatanya, kami bukan memberi tapi diberi. Terima kasih banyak alam semesta.


Mari tetap semangat membangun mimpi dan berusaha wujudkan mimpi. Juga mimpi nan harapan anak-anak pulau.